Dunia Didesak Perbesar Investasi untuk Remaja Perempuan

Dunia Didesak Perbesar Investasi untuk Remaja Perempuan – Negara-negara di dunia didesak untuk mengerjakan investasi lebih besar dalam sumber daya manusia, atau dikenal sebagai human capital. Bank Dunia guna kesatu kalinya merilis Human Capital Index (HCI) sebagai model yang dapat diterapkan. Berikut laporan selengkapnya dari Nusa Dua, Bali

Dalam susunan pertemuan di Bali, Bank Dunia merilis apa yang mereka sebut sebagai Human Capital Index atau Indeks Modal Manusia. Indeks ini adalahupaya supaya negara-negara tidak hanya konsentrasi dalam perkembangan ekonomi memburu Produk Domestik Bruto (PDB). Bank Dunia menyinggung kebahagiaan, edukasi dan kesehatan sebagai sejumlah faktor kunci. Indeks ini dapat mengukur, sejauh mana pemerintah suatu negara dapat mendorong rakyatnya meraih potensi sarat mereka.

“Bagi masyarakat sangat miskin, modal insan kadang bahkan menjadi satu-satunya modal yang mereka miliki. Negara-negara dapat memakai indeks ini untuk menolong mereka menilai posisi mereka ketika ini dan seberapa cepat mereka dapat mengejar ketertinggalannya,” kata Presiden Grup Bank Dunia, Jim Yong Kim dalam peluncuran indeks ini di Nusa Dua, Bali.

Investasi Terbaik: Investasi Manusia

Kebahagiaan, edukasi dan kesehatan ialah sebagian keyword yang mesti mendapat perhatian lebih mulai ketika ini. Melinda Gates, pendiri Bill & Melinda Gates Foundation menyatakan menggerakkan yayasannya sebab optimisme bahwa masyarakat dapat memperbaiki masa mendatang mereka. Agar optimisme terhadap masa depan, negara-negara mesti mengerjakan investasi pada manusia, terutama generasi muda.

“Kita mesti mengerjakan investasi pada kesehatan, sampai-sampai generasi muda dapat memaksimalkan keterampilan tubuh dan benak untuk produktif dan sukses. Dan anda harus mengerjakan investasi juga dalam pendidikan, sebab generasi sehat yang mendapat pendidikan dan ketrampilan dapat meraih potensi maksimal mereka,” ujar Melinda.

Secara khusus, Melinda Gates mendesak dunia guna lebih peduli pada remaja perempuan. Dia percaya, investasi pada wanita dan remaja wanita memberikan akibat yang luar biasa. Remaja wanita saat ini, yang mendapat pendidikan berbobot | berbobot | berkualitas akan memberi akibat besar ke generasi selanjutnya. Perempuan pun harus mempunyai akses lebih baik pada kontrasepsi.

“Karena saat perempuan berkuasa sepenuhnya terhadap keputusan kapan dia bakal hamil dan apakah dia bakal hamil atau tidak, anda tahu keluarganya bakal lebih sehat, lebih makmur dan lebih terdidik. Ketika wanita mempunyai uang dan berkuasa dalam pemakaiannya, tersebut akan menambah kualitas hidup mereka dan orang-orang di sekitarnya. Karena itulah terima kasih guna program investasi sumber daya insan yang lebih peka gender,” ujar Melinda Gates.

Direktur eksekutif UNICEF, Henrietta Fore menyinggung investasi untuk generasi muda, ialah langkah yang cerdas. Negara tidak bakal makmur tanpa generasi masa mendatang yang sehat, terdidik dan kuat.

Memberi garansi kesehatan yang baik, nutrisi dan stimulasi yang baik untuk anak-anak ialah kesempatan sekali seumur hidup. Fore menambahkan, investasi pada generasi muda dapat dilakuan dengan meyakinkan bahwa mereka mempunyai akses edukasi berkualitas, tetap sehat dan hidup aman.

“Setiap hari di Indonesia, 375 remaja putri menikah dan terbit dari sekolah dan memberi beban pada ekonomi 1,7 persen dari PDB. Jika kita dapat mempertahankan anak-anak wanita ini guna tetap bersekolah sekitar 12 tahun, dengan edukasi yang berbobot | berbobot | berkualitas akan ada deviden ekonomi milyaran dollar. Setiap investasi di satu bidang, contohnya kesehatan anak-anak perempuan, akan menyokong pembangunan di bidang yang lain, contohnya di sektor pendidikan. Investasi dalam human capital di berbagi sektor akan menyokong hasil sepanjang hidup,” ungkap Fore.

UNICEF mencatat, masing-masing dollar yang dipakai untuk imunisasi di negara-negara kurang mampu akan menjadi investasi yang bertambah 16 kali lipat dalam format penurunan ongkos pemeliharaan kesehatan dan penambahan produktifitas. Setiap dollar yang diinvestasikan dalam sanitasi, WHO memperkirakan deviden 6 kali lipat, dalam format penghematan ongkos kesehatan, menambah produktifitas, dan pengurangan kematian dini, khususnya untuk anak-anak di bawah umur 5 tahun.

Indonesia Adopsi Human Capital Index ?(HCI)

Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani menyinggung Indonesia bakal menjadi negara kesatu yang mengadopsi Human Capital Index (HCI) dari Bank Dunia ini.

“Human capital ialah kunci untuk mengurangi angka kemiskinan dan melawan ketidakadilan. Data global membuktikan, human capital ialah faktor kunci yang menilai arah ekonomi. Menyadari situasi ini dalam sejumlah dekade terakhir, pemerintah di sekian banyak negara telah mengerjakan investasi dalam human capital yang membawa hasil lumayan besar, laksana kematian anak yang turun sampai 50 persen, anak-anak yang tidak dapat menyelesaikan edukasi dasar turun sampai 40 persen, dan minimal ada satu program garansi sosial di masing-masing negara,” papar Sri Mulyani.

Negara-negara di dunia mempunyai tantangan yang bertolak belakang dalam bidang ini. Abraham Tekeste, Menteri Keuangan dan Kerjasama Ekonomi Ethiopia dalam forum ini pun berbagi tentang investasi negaranya dalam modal manusia.

“Berinvestasi dalam sumber daya insan sangat penting untuk negara laksana Ethiopia, yang mempunyai tujuan jangka panjang. Dan destinasi jangka pajang tersebut membutuhkan generasi yang lebih sehat, lebih terdidik dan terampil. Ada keinginan politik yang paling kuat oleh pemerintah Ethiopia. Kami mengerjakan pendekatan secara lengkap dalam investasi SDM ini,” ujar Abraham Tekeste.

Tekeste memaparkan, Ethiopia meyakinkan akses terhadap edukasi dasar dan garansi kesehatan dasar menciptakan kematian anak turun dengan menyeluruh dan kematian ibu hamil berkurang

“Kemiskinan turun dari 50 persen pada 1996 menjadi selama 24 persen pada 2016. Karena Ethiopia mengawali semua tersebut dari level yang paling rendah, maka kami masih memiliki tidak sedikit tantangan sampai ketika ini,” tambahnya.

Senada dengan Ethiopia, Pakistan pun masih terbebani oleh kualitas edukasi dan kesehatan. Meski begitu, Menteri Keuangan Pakistan, Asad Umar mengatakan, mereka telah memutuskan pembangunan sumber daya insan sebagai destinasi baru dalam program-program mereka.

“Banyak negara mengerjakan pembangunan infrastruktur guna menggerakkan ekonominya. Tetapi, sekarang pembangunan sumber daya manusia pun penting dilakukan. Pertanyaannya, mana yang menjadi prioritas? Mana yang kesatu kali terbersit dalam benak kita? Perdana Menteri kami dalam pidato kesatunya sudah berkata mengenai stunting, di antara tanda yang menandakan bahwa pemerintahan kami menyimak investasi pada manusia, sebenarnya kami baru bekerja 7 minggu sebab kami pemerintahan baru,” kata Asad Umar.

Sementara, negara yang sudah lebih dulu menyimak pembangunan manusia, laksana Polandia misalnya, menghadapi tugas bertolak belakang yang lebih ringan.

Teresa Czerwinska, Menteri Keuangan Polandia mengatakan, beban mereka lebih pada pemerataan akses. “Negara yang dapat memperbaiki kualitas edukasi dan kesehatan, akan membetulkan pondasi perkembangan ekonomi mereka. Skema ini pun memiliki akibat pada penyaluran sumber daya sehinngga ketidakadilan bisa dikurangi,” kata Czerwinska.

Simak di www.bahasainggris.co.id/