Pupuk Organik Super Lacto, Inovasi dari Siswa SMAN 1 Cisarua

Pupuk Organik Super Lacto, Inovasi dari Siswa SMAN 1 Cisarua

 

Pupuk Organik Super Lacto, Inovasi dari Siswa SMAN 1 Cisarua

 

Berawal dari keresahan akan menumpuknya sampah organik sekitar sekolahnya

Elli’an Irfan Juliano (18) dan Ajeng Geby Syafitri (17) berinovasi untuk membuat pupuk berbahan dasar pupuk organik. Berbekal pengetahuan tentang kewirausahaan yang mereka dapat di esktrakulikuler Student Company (SC) SMAN 1 Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Mereka berdua sukses membuat pupuk organik yang diberi nama Super Lacto.

Elli’an bercerita

ia terdorong untuk mencari inovasi ketika mengingat visi sekolah yang berbunyi “Tiada hari tanpa prestasi’ serta merasa iri kepada siswa lain yang sudah berpresati dan selalu dipanggil ke depan saat upacara bendera untuk diapresiasi oleh pihak sekolah. “Tiap hari senin, siswa yang berprestasi selalu dipanggil kedepan pas upacara, kita jadi iri dan suatu saat nanti ingin juga kaya gitu, jadi siswa berprestasi,” ucap Elli’an baru-baru ini.

Elli’an menuturkan, selain melihat kondisi sampah organik yang menumpuk di sekolah

ide pembuatan produk ini juga berangkat dari kebutuhan para petani yang ada di sekitar. “Petani pasti membutuhkan pupuk untuk tanamannya, dan kita ingin coba membantu mereka dengan menyediakan pupuk yang lebih ekonomis agar bisa mensejahterakan petani,” tuturnya.

Hal tersebut pun diamini oleh Ajeng

Setelah lulus uji produk di Kimia Agro Lembang dan rilis pada 9 Februari 2017 lalu, Super lacto pun laris di pasaran dan menjadi pilihan utama para petani untuk bercocok tanam. Dengan mematok harga sebesar lima belas ribu, otal 4699 botol telah laku terjual.

“Produk kita udah di pasarakan di Cisarua

Ngamparah dan daerah sekitar, dan juga beberapa daerah di luar Jawa Barat. Dua kelompok tani, yakni Dewo Family dan Sinar Rezeki pun sudah berlanggan pupuk ke kita dan telah memberi testimoni bahwa pupuk yang digunakan bagus untuk tanamannya. Harga pupuk kita memang lebih ekonomis. Untuk ukuran yang sama, harga pupuk dari produk yang berbeda bisa mencapai 110 ribu, sedangkan kita hanya 15 ribu,” ujar Ajeng.

Ajeng juga menambahkan, pupuk ini memiliki dua varian, yakni varian a dan varian b, tergantung campuran komposisi yang ada di dalam pupuk. Nama super lacto sendiri berasal dari nama bakteri yang tergantung dari pupuk tersebut. “Pas di uji laboratorium, pupuk kita mengandung bakteri baik bernama lactobacillus. Jadi kita beri nama super lacto,” katanya.

Atas capaiannya tersebut

produk usaha mereka berhasil lolos seleksi Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2018 yang berlangsung di Yogyakarta, 1-6 Oktober 2018 dan akan bersaing dengan 89 kelompok usaha lainnya untuk menjadi yang terbaik di kancah Nasional.

 

Sumber : https://pengajar.co.id/