Penyebab Munculnya Rasa Khawatir Secara Tiba-Tiba Pada Manusia

Salah satu urusan yang sering hadir di benak kita ialah khawatir. Mungkin tidak sedikit dari anda yang telah sering merasakan apa tersebut khawatir, dan tersebut pertanda baik, karena artinya kamu hidup, terdapat aktivitas. Tetapi cemas berlebihan juga dapat melumpuhkan.

Apa sih cemas itu? Mengapa khawatir? Dan bagaimana teknik mengatasinya?

Lalu mengapa insan sering dan gampang terjebak dengan rasa khawatir?

1. Karena tidak mempunyai prioritas yang benar dalam hidupnya

Terkadang tidak sedikit dari anda yang bingung dalam memilih barang yang anda mau beli, antara merk dengan fungsi, sebab bersangkutan dengan gengsi, hendak terlihat baik, canggih dan mewah. Saat kamu mempunyai prioritas yang benar dalam hidup, kamu tidak akan gampang dikhawatirkan dengan hal-hal lain.

2. Tidak mempunyai gambar diri yang benar

Pada saat insan hidup kesatu kali, urusan yang mesti di bina dengan baik dan benar ialah gambar diri yang baik. Gambar diri dapat dibangun oleh orangtua dan lingkungan. Gambar diri ini menilai cerminan kehidupan seseorang di masa mendatang, andai gambar diri buruk maka besar bisa jadi kehidupannya pun akan buruk.

Dalam sejumlah kasus, www.pelajaran.id/ biasanya orang yang mempunyai gambar diri buruk memakai topeng dengan barang mewah dan segala format dandanan yang paling baik, dengan destinasi untuk menetralkan rasa khawatirnya. Sehingga merk dan brand menjadi lebih urgen daripada fungsinya.

Mari perbaiki 2 urusan ini dalam hidup kita, tentukan prioritas saat kamu merasa khawatir. Serta biasakan mempunyai gambar diri yang sehat, supaya keseharian anda bebas dan lepas dari khawatir. Memang, cemas tidak membunuh manusia, tetapi paling mengganggu kehidupan.

ANATOMI PROBLEM KURIKULUM DI PTAI

ANATOMI PROBLEM KURIKULUM DI PTAI

ANATOMI PROBLEM KURIKULUM DI PTAI
ANATOMI PROBLEM KURIKULUM DI PTAI
H. Arief Furqan, MA, PhD.
Pendahuluan
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan, barangkali kurikulumlah yang bisa dianggap menjadi prioritas utama untuk diperhatikan. Hal ini tidak lain karena kurikulum merupakan rencana pendidikan yang akan diberikan kepada mahasiswa. Bahkan dalam pengertian lebih luas, keberadaan kurikulum tidak saja terbatas pada materi yang akan diberikan di dalam ruang kuliah, melainkan juga meliputi apa saja yang sengaja diadakan atau ditiadakan untuk dialami mahasiswa di dalam kampus. Oleh karena itu, posisi kurikulum menjadi mata rantai yang urgen dan tidak dapat begitu saja dinafikan dalam konteks peningkatan kualitas perguruan tinggi.
Karena ibarat orang membangun, kurikulum adalah ‘blue print’ (gambar cetak biru) nya. Blue print ini harus jelas bagi semua fihak yang terkait, meliputi; arsitek yang menggambar, pemilik rumah yang akan membiayai proyek pembangunan rumah tersebut, dan pemborong serta para tukang yang akan membangun rumah. Tidak boleh ada perbedaan persepsi di antara fihak-fihak terkait mengenai bagaimana bentuk akhir rumah tersebut berdasarkan blue print itu. Apabila terjadi perbedaan persepsi di antara fihak fihak tersebut, pastilah akan terjadi kesalahfahaman dan kekecewaan, terutama di fihak pemilik rumah yang telah mengeluarkan uang untuk proyek tersebut.

Dari sudut pandang ekonomi, lembaga pendidikan yang memungut biaya (berupa SPP atau lainnya) dapat dianggap sebagai lembaga penjual jasa, yaitu jasa layanan pendidikan. Dalam hal ini, kurikulum itulah yang ditawarkan untuk ‘dijual’ kepada masyarakat. Apabila pengelola lembaga pendidikan tersebut menginginkan agar lembaga pendidikannya diminati masyarakat, maka mereka harus membuat kurikulum yang menarik dan dianggap dapat memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat. Tentu saja, kurikulum bukanlah satu-satunya daya tarik. Karena apalah artinya kurikulum yang baik, par exellence kalau dosennya (tukangnya) kurang mampu mewujudkan kurikulum tersebut dalam lapangan empiric (kenyataan). Begitupula kurikulum akan tidak banyak mempunyai arti (meaningless) kalau sarana pendidikannya (alat pertukangannya) juga kurang memadai. Namun, tanpa kurikulum yang baik dan jelas, dosen dan sarana sebaik apapun tidak akan menghasilkan lulusan yang bagus.

Seperti diuraikan di atas, kurikulum harus disusun dengan baik dan harus jelas bagi semua fihak yang berkepentingan, dalam kasus perguruan tinggi adalah Tri Civitas akademika dan masyarakat. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kurikulum kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia masih tidak demikian. Banyak di antara perguruan tinggi yang kurikulumnya “meniru” perguruan tinggi lain yang sejenis tanpa mengerti landasan filosofis yang ada di balik kurikulum tersebut. Demikian pula halnya dengan IAIN dan STAIN, apalagi PTAIS. Kurikulum nasional mereka dibuat oleh Departemen Agama di Jakarta dan hanya berupa daftar matakuliah. Silabusnya pun dibuat seragam dan berupa deretan topik inti yang kadang-kadang tumpang tindih (over laping) satu sama lain. Celakanya lagi kurikulum dan silabus buatan orang lain ini dianggap sakral (untouchables) dan tak dapat diubah lagi. Padahal sebagai lembaga pendidikan tinggi seharusnya mereka menyadari sifat otonomi keilmuan yang mereka miliki. Kurikulum lokal yang menjadi hak penuh mereka pun diisi dengan matakuliah yang dulu ada dan dalam kurikulum baru sengaja dihilangkan. Akibatnya, kurikulum baru 1997 tidak ada bedanya dengan kurikulum 1995 sebelumnya. Hanya posisi matakuliahnya saja yang berbeda.

Dengan membaca kurikulum yang tertulis dalam buku pedoman kebanyakan PTAI, kita masih belum dapat memperoleh gambaran tentang hal-hal penting. Gambaran tersebut antara lain berisi apakah yang akan dibentuk oleh PTAI melalui kurikulum itu? (Kalaupun ada ungkapan seperti ‘ulama yang intelek dan intelektual yang ulama’ di kalangan civitas akademika, hal itu juga masih belum kongkrit dan terukur. Bagaimanakah profil lulusan PTAI yang diidamkan itu: bagaimana sikap hidup mereka, pengetahuan dan ketrampilan apa yang akan mereka peroleh sebagai hasil belajar mereka di PTAI?) Bagaimana cara PTAI untuk mewujudkan lulusan seperti itu? Aspek-aspek apakah yang akan dikembangkan melalui kurikulum itu? Bagaiman cara PTAI untuk mengembangkan aspek-aspek tersebut? Bagaimana PTAI akan mengevaluasi apakah mahasiswa telah menguasai aspek-aspek tersebut? Bagaimana cara PTAI memastikan bahwa tujuan kurikulum yang telah mereka nyatakan itu telah tercapai atau belum? Apa standar kelulusan (standar kualitas) yang dipedomani oleh PTAI?
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa kurikulum tersebut bukan saja tidak jelas bagi masyarakat yang ingin mengetahui apa isi kurikulum PTAI, melainkan juga tidak jelas (setidaknya tidak ada jaminan bahwa hal itu sudah jelas) bagi sebagian (mungkin sebagian besar) dosen yang secara langsung mendidik mahasiswa di ruang kuliah. Kalau diibaratkan PTAI sebagai developer yang berusaha menjual rumah kepada masyarakat, maka dalam hal ini masih terdapat ketidak samaan visi antara arsitek (pembuat kurikulum) dengan pemborong (pimpinan PTAI) dengan para tukangnya (dosen) mengenai bagaimana gambar akhir dari rumah (lulusan) yang akan dihasilkan oleh proyek pembangunan rumah (pendidikan mahasiswa) itu. Masing-masing fihak memiliki visi masing-masing mengenai kualitas lulusan dan apa yang seharusnya dilakukan untuk menghasilkan lulusan seperti itu.

Bagaimanakah seharusnya kurikulum suatu perguruan tinggi?

Mengingat kurikulum adalah program layanan pendidikan yang ditawarkan atau ‘dijual’ kepada masyarakat, maka seharusnya kurikulum dipandang sebagai jati diri perguruan tinggi yang bersangkutan. Kurikulum perguruan tinggi harus mencerminkan identitas lembaga tersebut sebagai perguruan tinggi yang bermutu (melakukan pendidikan, pengembangan ilmu/penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Di samping itu ia harus mencerminkan misi dan visi perguruan tinggi tersebut sebagai lembaga. Kurikulum juga harus memberikan gambaran yang jelas tentang lulusan yang ingin dihasilkan dan bagaimana lembaga pendidikan tersebut akan mewujudkan lulusan yang diharapkan itu melalui berbagai program studi (jurusan) yang ada di perguruan tinggi tersebut. Ia juga harus menunjukkan keistimewaan perguruan tinggi tersebut jika dibandingkan dengan perguruan tinggi sejenis. Sumber : www.gurupendidikan.co.id

Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli

Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli

Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli
Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli

Pengertian Bimbingan

Menurut Hallen (2002:3) kata bimbingan secara estimologi merupakan terjemahan dari kata “guidance” berasal dari kata “ to guide” yang mempunyai arti “menunjukan”, membimbing, menuntun, ataupun membantu.” Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia Lengkap (dalam Daryanto, 1997:105) menjelaskan bahwa: “bimbingan adalah petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu, tuntunan, pimpinan”.
Begitupun Smith, menurut Mc Daniel (dalam Prayitno dan Erman Amti, 1999:94) mengungkapkan bahwa bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individu-individu guna membantu mereka memeperoleh pengetahuan keterampilan-keterampilan yamg diperlukan dalam membuat rencana, dan interprestasi-interprestasi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri yang baik.
Sedangkan Ketut Sukardi (2002:19) menjelaskan bahwa bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara barkesinambungan supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lngkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat dan kehidupan pada umumnya.
Dengan demikian, dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan dapat memberikan sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai mahluk sosial. Begitupun Frak W. Miller (dalam Sofyan S. Willis, 2004:13) mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses adalah bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan bagi penyesuaian diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan bagi penyesuaian diri secara baik dan maksimum disekolah, keluarga dan masyarakat.


Dari semua definisi diatas, dapat dismpulkan bahwa karakteristik bimbingan (guidance) adalah sebagai berikut:
a. Bimbingan merupakan upaya yang bersifat preventif, artinya lebih baik diberikan kepada individu yang belum bermasalah, sehingga dengan bimbingan dia akan memelihara diri dari berbagai kesulitan.
b. Bimbingan dapat diberikan secara individual dan kelompok. Upaya bimbingan dapat diberikan secara individual, artinya seseorang pembimbing menghadapi seorang klien (siswa). Mereka berdiskusi untuk pengembangan diri klien, kemudian merencanaka upaya-upaya bagi diri klien yang terbaik baginya. Disamping itu, bimbingan kelompok adalah jika seorang pemimbing menghadapi banyak klien. Disini pembimbing lebih banyak bersikap sebagai fasilitator untuk kelancaran diskusi kelompok dan dinamika kelompok untuk kelancaran diskusi kelompok dan dinamika kelompok. Masalah yang dihadapi adalah persoalan bersama, misalnya meningkatkan prestasi belajar, kreativitas dan sebagainya.
c. Bimbingan dapat dilakukan oleh para guru, pemimpin, ketua-ketua organisasi dan sebagainya. Yang penting para pembimbing tersebut memiliki pengetahuan tentang tentang psikologi, sosiologi, budaya, dan berbagai teknik bimbingan seperti diskusi, dan dinamika kelompok, sosio-drama, teknik mewawancarai, dan sikap-sikap yang menghargai, ramah, jujur dan terbuka. Bisa dikatakan bahwa bimbingan dapat dilakukan oleh siapa saja yang berminat, asal mendapat pelatihan terlebih dahulu. (Sofyan S Willis, 2004:15).

Selain itu dapat disimpulkan juga bahwa bimbingan memiliki kata-kata kunci dengan artinya sebagai berikut:
a. Suatu proses; setiap fenomena yang menunjukan kontinuitas perubahan melalui waktu atau serangkain kegiatan dan langkah-langkah menuju ke suatu tujuan.
b. Suatu usaha bantuan; untuk menambah, mendorong, merangsang, mendukung, menyentuh, menjelaskan agar individu tumbuh dari kekuatan sendiri.
c. Konseli atau anak; individu yang normal yang membutuhkan bantuan dalam proses perkembangannya.
d. Konselor; individu yag ahli dan terlatih dan mau memberikan bantuan kepada konseli.
e. Tujuan bimbingan dapat dirumuskan; sebagai proses penemuan diri dan dunianya, sehingga individu dapat memilih, merencanakan, memutuskan, memecahkan masalah, meyesuaikan secara bijaksana dan berkembang sepenuh kemampuan dan kesanggupannya serta dapat memimpin diri sendiri sehingga individu dapat menikmati kebahagiaan batin yang sedalam-dalamnya dan produktif bagi lingkungannya. (Yusuf & Chatherine, 1992 : 40-41).
Dari berbagai definisi diatas, maka penulis berpendapat bahwa bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu menolong dirinya sendiri, bertanggung jawab, dan memiliki rasa percaya diri dan dapat menyesuaikan diri baik disekolah, keluarga maupun masyarakat.

2. Pengertian Konseling

Apabila ditelaah berbagai sumber akan dijumpai pengertian-pengertian yang berbeda mengenai konseling, tergantung dari jenis sumbernya dan yang merumuskan pengertian konseling itu. Perbedaan tersebut disebabkan karena berlainan pandangan atau titik tolak. Tetapi perbedaan itu hanyalah perbedaan tekanan atau perbedaan dari sudut mana melihatnya.
Istilah bimbingan dirangkai dengan istilah konseling, hal ini disebabkan karena bimbingan dan konseling itu merupakan suatu kegiatan yang integral. Koseling adalah salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan diantara beberapa teknik lainnya, bimbingan itu lebih luas dan koseling merupakan alat yang paling penting dari usaha pelayanan bimbingan.
Prayitno dan Erman Amti (1999:99) menuliskan bahwa, secara estimologi istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium” yang berarti “ dengan” atau “bersama’ yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”.Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyampaikan”.
Merekapun merumuskan pengertian konseling, yaitu : “Konseling adalah pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.” (Prayitno & Erman Amti, 1999:105).
Sebagaimana dikatakan oleh Roger (dalam Hallen 2002:10) mengatakan bahwa :
Counseling is series of direct contacts with the individual which aims tp offer him a“Conseling ssistance in changing his attitude and behavior”.
Konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
Sementara Pepinnsky and Peppinsky (dalam Ketut Sukardi 1985:14) berpendapat bahwa konseling adalah suatu proses interaksi yang (a) terjadi diantara dua orang individu yang disebut konselor dan klien, (b) terjadi dalam situasi yang bersifat pribadi (propesional), (c) diciptakan dan dibina sebagai suatu cara untuk memudahkan terjadinya perubahan-perubahan tingkah laku klien, sehingga ia memperoleh keputusan yang memuaskan kebutuhannya.
Menurut Sofyan S. Willis (2004:17) mengemukakan arti konseling adalah suatu hubungan antara seseorang dengan orang lain, dimana seorang berusaha keras untuk membantu orang lain agar memahami masalah dan dapat mememcahkan masalahnya dalam rangka penyesuaikan dirinya.
Jadi “konseling” pada dasarnya adalah suatu aktivitas pemberian nasiahat dengan atau berupa anjuran-anjuran dan saran-saran dalam bentuk pembicaraan yang komunikatif antara konselor agar dapat memerikan bimingan dengan metode-metode psikologis dalam upaya sebagai berikut:
a. Mengembangkan kualitas kepribadian.
b. Mengembangkan kualitas kesehatan mental.
c. Mengembangkan perilaku-perilaku yang lebih effektif pada diri individu dan lingkungannya.
d. Menanggulangi problem hidup dan kehidupan secara mandiri. (M.Hamdani Bakran Adz Dzaky, 2002:180).
Dari definisi diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa konseling adalah proses interaksi antar konseli dan konselor dimana konselor memberikan bantuan kepada konseli yang sedang mengalami suatu masalah melalui wawancara konseling dan diharapkan dapat teratasinya masalah tersebut. Referensi :  www.kuliahbahasainggris.com

7 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Merasa Salah Jurusan

7 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Merasa Salah Jurusan

Ketika awal kuliah, kamu dambakan mendalami hukum, dan memutuskan untuk masuk ke fakultas hukum. Namun di tahun-tahun berikutnya, kamu menjadi mikir “jurusan ini ternyata nggak gue banget”. Sempat terlintas di anggapan kamu untuk tukar jurusan, tapi tahu-tahu mendadak kamu udah semester akhir. Nah terkecuali kamu mengalami ini dan mulai tidak benar jurusan, ini yang wajib kamu lakukan.

7 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Merasa Salah Jurusan

1. Yang pertama wajib kamu melaksanakan adalah jangan panik! Karena ternyata, kamu gak sendirian
Menurut Career Advice, di Amerika ada lebih kurang 60 hingga 70 persen mahasiswa yang tidak benar jurusan. Tak wajib khawatir sebab berita baiknya, sebab banyak orang-orang berhasil di luar sana yang latar pendidikannya malah nggak sesuai serupa bidang yang mereka tekuni selagi ini.

Lihat saja Bapak Chairul Tanjung, beliau berlatar belakang pendidikan kedokteran gigi, tapi dapat menjadi tidak benar satu entrepreneur berhasil di bidang industri hiburan dan pertelevisian. Atau kamu dapat saksikan Ibu Susi Pudjiastuti yang gak lulus SMA, tapi dapat menjadi entrepreneur exportir ikan segar beserta olahannya. Bahkan saat ini dipercaya untuk menjabat sebagai menteri Kelautan dan Perikanan selagi ini.

2. Kumpulkan soft skill yang dapat mendukung karirmu nanti
Salah satu keterampilan yang paling penting di dalam hidup ini, terlebih untuk melamar pekerjaan adalah soft skill. Soft skill adalah keterampilan seseorang yang didapatkan berasal dari pengalaman, dan normalitas hidup sehari-hari sehingga membentuk kepribadian seseorang. Seperti kalau dapat berkomunikasi dengan baik, dapat mengendalikan emosi, tetap berpikir kreatif dan lainnya. Hal-hal inilah yang biasanya dibutuhkan oleh para pemberi kerja di luar sana.

3. Ikut berhimpun dengan komunitas
Kamu kuliah di jurusan hukum, tapi kamu ingin banget menjadi sutradara. Karena gak barangkali ambil S2 bidang sinematografi setelah lulus nanti, kamu dapat aja gabung dengan komunitas-komunitas film yang biasanya mereka terhitung bikin proyek kecil-kecilan untuk bikin film indie. Nah berasal dari situ kamu dapat belajar bareng mereka.

4. Ikut kursus, seminar, dan workshop
Kalau kamu mempunyai uang lebih, kamu dapat aja turut kursus maupun workshop perihal bidang yang dambakan kamu tekuni. Tapi terkecuali uang kamu pas-pasan, kamu dapat ikutan seminar yang harga tiketnya gak terlampau mahal. Sekarang ini banyak terhitung kok kampus-kampus atau institusi yang kerap menyelenggarakan seminar gratis. Bahkan banyak terhitung pihak yang sengaja upload videonya di YouTube.

5. Baca buku, jurnal, maupun artikel yang mengenai dengan passion kamu
Ikut seminar menurutmu tetap terlampau mahal? Kamu dapat baca buku yang relevan dengan passion kamu. Kamu nggak kuat membeli buku? Pinjem aja ke perpustakaan. Buku di perpus gak update? Cari aja referensi di internet. Kalau kamu memang niat mempelajari pengetahuan baru, pasti dapat ada jalur yang dapat memudahkanmu kok.

6. Cari pengalaman kerja dengan magang
Hal lain yang dapat kamu melaksanakan sehingga mendapat pengalaman atau pengetahuan yang sesuai minat kamu adalah dengan langkah magang. Mungkin kamu gak dapat magang untuk proyek skripsi, tapi kamu dapat kerja part time. Sebagai contoh, kamu tertarik dengan dunia pemasaran, kamu dapat cobalah apply untuk ngelamar posisi sales atau marketing di restoran sekitarmu.

7. Pilih jurusan S2 sesuai dengan bidang yang terlampau kamu minati
Kamu dapat aja ngambil S1 di bidang ABC, terus tepat S2 kamu dapat ambil XYZ. Tapi pilihan kamu kali ini udah wajib dipikir matang-matang, dan udah sesuai dengan minat kamu. Jangan hingga kamu ulangilah kekeliruan layaknya selagi kamu ngambil S1 dulu.

Biarpun mulai tidak benar ambil kuliah, setidaknya kamu udah dapat menyita hikmahnya berasal dari situ. Intinya, kamu wajib mengetahui bahwa gak ada pengetahuan yang percuma di dunia ini. Semua pengetahuan itu mutlak dan saling melengkapi.

sumber : https://www.ruangguru.co.id/

Sebelum Ospek, Pastikan Kamu Sudah Persiapkan 8 Hal Ini

Sebelum Ospek, Pastikan Kamu Sudah Persiapkan 8 Hal Ini

Setiap perguruan tinggi, apa-pun jenjangnya, dapat menyelenggarakan kegiatan orientasi sebelum memulai kegiatan studi mengajar. Biar kalian mengenal teman-teman dan sistem pembelajaran yang diterapkan di kampus.

Sebelum Ospek, Pastikan Kamu Sudah Persiapkan 8 Hal Ini

Meski terdengar remeh, kegiatan orientasi tak bisa anda sepelekan. Kegiatan selanjutnya dapat berjalan bersama jadwal yang padat dan berhari-hari. Untuk itulah, anda kudu menyiapkan delapan hal ini supaya tidak mulai gegar pada budaya orientasi di kampus.

1. Jadwal kegiatan orientasi berjalan padat
Ini bener lho. Biasanya, mahasiswa baru diwajibkan datang pagi-pagi sekali dan baru pulang di atas jam enam sore. In between, banyak sekali pengarahan yang dapat disampaikan oleh para dosen dan senior mahasiswa di sana.

2. Persiapkan pula untuk melacak perintilan untuk kegiatan orientasi
Umumnya, waktu hari pertama orientasi, mahasiswa baru dapat diberi wejangan tugas kelompok maupun pribadi. Tujuannya sih biar terlihat kompak dan disiplin.

Biasanya, ada perintah untuk bikin nama dada baik berukuran kecil maupun besar, menyampul buku tulis bersama sampul batik, atau perintah lainnya. Dan, itu kudu disempurnakan pada hari ke-2 orientasi. Wow banget kan? Siap-siap deh.

3. Siapkan dresscode
Selain perintilan berwujud barang, mahasiswa baru terhitung diminta mengenakan dresscode tertentu. Gak aneh-aneh kok. Umumnya, seragam putih hitam atau batik.

Di kampusmu gitu terhitung gak?

4. Jangan lupa bawa alat-alat tulis
Dilan 1990 memang cakep dan cerdas, namun kebiasaannya mempunyai buku tulis di saku celana jangan ditiru. Bawalah tas selanjutnya masukkan peralatan tulismu di situ. Catat hal-hal mutlak yang dipaparkan para dosen dan mahasiswa senior.

5. Jangan bangun telat
Masa orientasi adalah periode pengenalan kehidupan akademik bagi mahasiswa baru. Lingkupnya terhitung studi disiplin waktu masuk kelas. Biasakan untuk disiplin bangun pagi. Biasanya nih, jika di dalam satu kelompok ada yang telat, semuanya bisa kena hukuman.

Kamu gak mau kan kelompokmu kena hukuman karena kekeliruan yang memang bisa anda hindari?

6. Persiapkan mental
Perpeloncoan barangkali gak ada di dalam orientasi zaman now namun ada kelompok mahasiswa senior yang meyakinkan mahasiswa baru disiplin di dalam mengikuti rangkaian kegiatan orientasi. Mereka dapat bersuara sedikit lantang dikala ada mahasiswa baru yang melanggar peraturan.

Pastikan mentalmu tidak jatuh. Semangat!

7. Masa orientasi penuh bersama pengalaman menarik
Kuncinya, jangan tegang. Santai saja, mengikuti saja rangkaian kegiatannya bersama baik. Kamu bisa bersama ringan menggaet teman-teman baru yang dapat mengisi hari-harimu ke depan.

8. Pikirkan untuk bergabung bersama unit kegiatan mahasiswa
Unit kegiatan mahasiswa sejenis kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menengah atas. Para mahasiswa senior bagian unit kegiatan dapat unjuk kebolehan kebolehan mereka waktu masa orientasi. Inilah saatnya anda memutuskan bergabung bersama unit kegiatan mahasiswa.

Jangan jadi mahasiswa pasif, tempa dirimu bersama sebanyak barangkali hal positif selama nanti berkuliah. Cheers!

Guru Ideal yang Diharapkan Dalam Dunia Pendidikan

Dalam dunia pendidikan memang sangat penting hadirnya seorang guru. Karena tanpa hadirnya seorang guru baik sebagai tenaga pendidik, pengajar dan mediasi antara siswa dan ilmu tentu saja pendidikan tak akan bisa berjalan dengan maksimal. Ini yang kemudian menjadi indikasi bahwa tak boleh ada yang meremehkan seorang guru mengingat seorang guru sangatlah penting dalam dunia pendidikan.

Guru Ideal yang Diharapkan Dalam Dunia Pendidikan
Guru Ideal yang Diharapkan Dalam Dunia Pendidikan

Tentu saja kalau kita sedang berbicara tentang hadirnya seorang guru dalam dunia pendidikan, kemudian kita jadi berpikir seperti apa lantas guru ideal yang diharapkan dalam dunia pendidikan? Ya, guru yang ideal sangat diharapkan mengingat di zaman yang serba strata sosial ini tak banyak guru yang loyal, profesional dan juga mengedepankan hakikat kode etik keguruan dalam menjalankan profesinya. Mereka yang bisa berlaku loyal, profesional dan mengedepankan kode etik profesi tentu harus diacungi jempol dan mendapatkan sebuah penghargaan sebagai guru tanpa tanda jasa. Lantas seperti apa sebenarnya guru ideal yang diharapkan Indonesia dalam dunia pendidikan?

Guru Ideal Dalam Dunia Pendidikan 

Guru yang dapat menjalin hubungan baik dengan murid

Guru ideal yang menjadi seorang guru yang sangat diinginkan oleh para siswa adalah guru yang dapat menjalin hubungan baik dengan murid – muridnya. Guru yang dapat menjalin hubungan baik dengan murid – muridnya tentu akan mengerti dan paham bahwa metode pengajaran yang mendekati murid akan sangat baik. Dan guru seperti ini akan lebih mudah dalam memberikan pengajaran kepada murid – muridnya.

Guru yang mampu menjalin komunikasi dengan baik

Ciri lain dari guru ideal ialah guru yang dapat menjalin komunikasi dengan sangat baik kepada anak didiknya. Guru yang harus dapat menjalin komunikasi dengan baik ini tentu menjadi seorang guru yang akan dapat mengantarkan perkembangan muridnya dengan sangat maksimal. Guru ideal juga merupakan seorang guru yang harus selalu memantau perkembangan murid supaya dapat lebih tahu soal kelebihan dan kekurangan siswa dengan baik sehingga soal proses pengajaran juga akan berjalan dengan jauh lebih baik.

Guru yang tahu kebutuhan peserta didik

Guru ideal merupakan seorang guru yang harus tahu tentang kebutuhan para peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. Guru juga harus dapat bersahabat dengan murid dan sekaligus menjadi teman belajar bagi murid – muridnya. Dengan begini guru akan tahu kesulitan peserta didik dalam proses belajar mengajar yang diberlakukan dan juga dapat bersama – sama membantu peserta didik mencari solusi yang tepat mengatasi semua kesulitan yang dialaminya.

Demikian sedikit informasi yang kami dapat berikan untuk Anda tentang Fungsi Pendidikan Dan Hubungannya Dengan Status Sosial. Semoga menjadi sebuah informasi yang menginspirasi Anda. Sumber : sekolahbahasainggris.com/

 

Sejarah Pendidikan Di Indonesia

Apa saja tingkatan pendidikan yang berhasil kita raih di negeri sendiri tentu saja kita menjadi salah satu orang yang sangat beruntung karena tahu dan paham seperti apa rasanya mengenyam pendidikan. Entah yang masih lulusan SMP, SMA atau bahkan yang beruntung karena telah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi. Semuanya tentu harus disyukuri dan diamalkan apa saja ilmu – ilmu yang pernah kita dapatkan di bangku pendidikan.

Sejarah Pendidikan Di Indonesia
Sejarah Pendidikan Di Indonesia

Hanya saja tentu tidak adil bagi kita jika kita sudah mengenyam pendidikan dan melaksanakan seperti apa kenyamanan dan kesenangan dunia pendidikan yang berhasil kita capai sementara seperti apa perjuangan panjang pendidikan di Indonesia tidak kita ketahui. Karena itu mari kita tengok sejarah pendidikan di Indonesia. Cek informasinya di bawah ini ya J

Sejarah Pendidikan Di Indonesia

Sejarah pendidikan yang dilakukan di Indonesia sebenarnya diawali dengan perjuangan yang begitu berat, pelik dan panjang. Hal ini juga tentu dipengaruhi atas berbagai macam aspek baik aspek agama atau juga aspek budaya serta berbagai macam aspek politik yang ada sehingga nantinya karakter yang dibentuk dalam sistem pendidikan tersebut tak akan lepas dari aspek – aspek yang terselenggara.

Tentang rancangan konstitusi yang dibuat bahkan di tahun 1950 sendiri juga turut menyatakan tentang tujuan yang dilakukan pemerintah dalam pendidikan yang dilakukan. Pada waktu itu dinyatakan bahwa kewajiban pendidikan masyarakat Indonesia setidaknya selama 6 tahun akan tetapi nyatanya pendidikan yang dicanangkan baru dicapai di ujung tahun 1980an.

Pada tahun sekitar 1973 kemudian Presiden Soeharto memberikan untuk menambah fasilitas sekolah dasar dan berlangsung pembenahan fasilitas ini sampai kurun waktu tahun 1980 yang dilakukan sekitar 40000 unit. Pendidikan sekolah dasar yang memang sudah diwajibkan ini dapat dipilih sesuai selera baik mau sekolah swasta atau sekolah negeri. Indonesia juga sebagai sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar kedua yang ada di dunia juga turut memberikan pernyataan bahwa warga yang pergi untuk sekolah agama sekitar 15% dari total yang ada.

Sistem pendidikan yang berlaku di tahun 1990 silam juga punya tujuan agar nantinya siswa yang dididik akan memiliki ideologi bernegara yang akan dapat menjalankan suatu birokrasi serta punya prinsip dalam proses tercapainya kehidupan bernegara yang modern dan telah memiliki budi pekerti yang baik. Setelah proses pendidikan selama 6 tahun selesai ditempuh, nantinya siswa juga dapat melanjutkan ke jenjang SMA. Setelah selesai pendidikan SMA atau SMK nantinya siswa bebas memilih untuk bekerja atau melanjutkan ke tingkat studi yang lebih tinggi seperti pada program sarjana atau pada program pasca sarjana.

Demikian kiranya sedikit informasi yang kami dapat berikan untuk Anda tentang Sejarah Pendidikan Di Indonesia. Semoga menjadi informasi yang bermanfaat dan menjadikan kita semakin sadar bahwa pendidikan itu sangat penting dan pantas diperjuangkan. sumber : dosenpendidikan.com