Usaha Meningkatkan Prestasi Belajar

Usaha Meningkatkan Prestasi Belajar

Usaha Meningkatkan Prestasi Belajar
Usaha Meningkatkan Prestasi Belajar

Berhasil atau tidaknya peserta didik belajar sebagian besar terletak pada usaha dan kegiatannya sendiri, disamping faktor kemauan, minat, ketekunan, tekad untuk sukses, dan cita-cita tinggi yang mendukung setiap usaha dan kegiatannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan prestasi belajar antara lain:
a. Keadaan Jasmani
Untuk mencapai hasil belajar yang baik, diperlukan jasmani yang sehat, karena belajar memerlukan tenaga, apabila jasmani dalam keadaan sakit, kurang Gizi, kurang istirahat maka tidak dapat belajar dengan efektif.

b. Keadaan Sosial Emosional.
Peserta didik yang mengalami kegoncangan emosi yang kuat, atau mendapat tekanan jiwa, demikian pula anak yang tidak disukai temannya tidak dapat belajar dengan efektif, karena kondisi ini sangat mempengaruhi konsentrasi pikiran, kemauan dan perasaan.
c. Keadaan lingkungan
Tempat belajar hendaknya tenang, jangan diganggu oleh perangsang-perangsang dari luar, karena untuk belajar diperlukan konsentrasi pikiran. Sebelum belajar harus tersedia cukup bahan dan alat-alat serta segala sesuatu yang diperlukan.
d. Memulai pelajaran
Memulai pelajaran hendaknya harus tepat pada waktunya, bila merasakan keengganan, atasi dengan suatu perintah kepada diri sendiri untuk memulai pelajaran tepat pada waktunya.
e. Membagi pekerjaan
Sewaktu belajar seluruh perhatian dan tenaga dicurahkan pada suatu tugas yang khas, jangan mengambil tugas yang terlampau berat untuk diselesaikan, sebaiknya untuk memulai pelajaran lebih dulu menentukan apa yang dapat diselesaikan dalam waktu tertentu.
f. Adakan kontrol
Selidiki pada akhir pelajaran, hingga manakah bahan itu telah dikuasai. Hasil baik menggembirakan, tetapi kalau kurang baik akan menyiksa diri dan memerlukan latihan khusus.
g. Pupuk sikap optimis
Adakan persaingan dengan diri sendiri, niscaya prestasi meningkat dan karena itu memupuk sikap yang optimis. Lakukan segala sesuatu dengan sesempurna, karena pekerjaan yang baik memupuk suasana kerja yang menggembirakan.


h. Menggunakan waktu
Menghasilkan sesuatu hanya mungkin, jika kita gunakan waktu dengan efisien. Menggunakan waktu tidak berarti bekerja lama sampai habis tenaga, melainkan bekerja sungguh-sungguh dengan sepenuh tenaga dan perhatian untuk menyelesaikan suatu tugas yang khas.
i. Cara mempelajari buku
Sebelum kita membaca buku lebih dahulu kita coba memperoleh gambaran tentang buku dalam garis besarnya.
j. Mempertinggi kecepatan membaca
Seorang pelajar harus sanggup menghadapi isi yang sebanyak-banyaknya dari bacaan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Karena itu harus diadakan usaha untuk mempertinggi efisiensi membaca sampai perguruan tinggi. Untuk suatu tindakan yang efisien diperlukan adanya kesiapan dalam diri individu baik kesiapan fisik maupun kesiapan mental. Demikian pula dalam belajar, kesiapan ini merupakan hal yang esensial.

Menurut surya dalam buku Sutrisno kesiapan dapat diartikan sebagai sejumlah pola-pola respon atau kecakapan tertentu yang diperlukan untuk suatu tindakan. Pada dasarnya kesiapan merupakan kapasitas fisik maupun mental untuk belajar, disertai harapan ketrampilan yang dimiliki dan latar belakang untuk mengerjakan sesuatu. Seseorang dikatakan siap untuk sesuatu buku bila mempunyai latar belakang pengetahuan untuk memahami isi buku, mempunyai kemauan untuk melakukannya, dan mempunyai harapan ketrampilan tertentu yang akan dimiliki sesudah mempelajari buku tersebut.

Rujukan:
1. Dr. E. Mulyasa, M.Pd, Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung:PT Remaja Rosda karya, 2005), hlm. 194
2. Dr. Mulyasa, M.Pd, Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2003), Cet.ke-3, hlm.100


Prinsip Penilaian Menurut Kurikulum 2013

Prinsip Penilaian Menurut Kurikulum 2013

 

Prinsip Penilaian Menurut Kurikulum 2013

Perlu kita ketahui bahwa dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 perlu diperha

tikan prinsip-prinsip, pendekatan-pendekatan, dan karakteristik-karakteristik penilaian yang diamanahkan oleh Kurikulum 2013.

Prinsip Penilaian Menurut Kurikulum 2013

Adapun prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru pada saat melaksanakan penilaian untuk implementasi Kurikulum 2013 baik pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI) maupun pada jenjang pendidikan menengah (SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK) adalah:
  • Sahih

Penilaian yang dilakukan haruslah sahih, maksudnya penilaian didasarkan pada data yang memang mencerminkan kemampuan yang ingin diukur.
  • Objektif

Penilaian yang objektif adalah penilaian yang didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas dan tidak boleh dipengaruhi oleh subjektivitas penilai (guru).
  • Adil

Penilaian yang adil maksudnya adalah suatu penilaian yang tidak menguntungkan atau merugikan siswa hanya karena mereka (bisa jadi) berkebutuhan khusus serta memiliki perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
  • Terpadu

Penilaian dikatakan memenuhi prinsip terpadu apabila guru yang merupakan salah satu komponen tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
  • Terbuka

Penilaian harus memenuhi prinsip keterbukaan di mana kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan yang digunakan dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.

  • Menyeluruh dan berkesinambungan

Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan oleh guru dan mesti mencakup segala aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. Dengan demikian akan dapat memantau perkembangan kemampuan siswa.
  • Sistematis

Penilaian yang dilakukan oleh guru harus terencana dan dilakukan secara bertahap dengan mengikuti langkah-langkah yang baku.
  • Beracuan kriteria

Penilaian dikatakan beracuan kriteria apabila penilaian yang dilakukan didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
  • Akuntabel

Penilaian yang akuntabel adalah penilaian yang proses dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
  • Edukatif

Penilaian disebut memenuhi prinsip edukatif apabila penilaian tersebut dilakukan untuk kepentingan dan kemajuan pendidikan siswa.

Pendekatan Penilaian Menurut Kurikulum 2013

Menurut Kurikulum 2013, penilaian yang dilakukan harus menggunakan pendekatan-pendekatan berikut:
  • Acuan Patokan

Dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 pada aspek penilaiannya, maka semua kompetensi perlu dinilai dengan menggunakan acuan patokan berdasarkan pada indikator hasil belajar. Sekolah terlebih dahulu harus menetapkan acuan patokan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
  • Ketuntasan Belajar

Ketuntasan belajar menurut kurikulum 2013 ditentukan sebagai berikut:
Ketuntasan belajar dan konversi nilai menurut Kurikulum 2013
  • Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, siswa dapat dikatakan belum tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya bila menunjukkan indikator nilai < 2.66 dari hasil tes formatif.
  • Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, siswa dinyatakan sudah tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya apabila menunjukkan indikator nilai ≥ 2.66 dari hasil tes formatif.
  • Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, ketuntasan siswa dilakukan dengan memperhatikan aspek sikap pada KI-1 dan KI-2 untuk seluruh matapelajaran, yakni jika profil sikap siswa secara umum berada pada kategori baik (B) menurut standar yang ditetapkan satuan pendidikan yang bersangkutan.

Adapun implikasi dari adanya persyaratan ketuntasan belajar tersebut adalah sebagai berikut.

  • Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan remedial individual sesuai dengan kebutuhan kepada peserta didik yang memperoleh nilai kurang dari 2.66;
  • Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya ke KD berikutnya kepada peserta didik yang memperoleh nilai 2.66 atau lebih dari 2.66; dan
  • Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diadakan remedial klasikal sesuai dengan kebutuhan apabila lebih dari 75% peserta didik memperoleh nilai kurang dari 2.66.
  • Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, pembinaan terhadap peserta didik yang secara umum profil sikapnya belum berkategori baik dilakukan secara holistik (paling tidak oleh guru matapelajaran, guru BK, dan orang tua).

Karakteristik Penilaian Menurut Kurikulum 2013

  • Belajar Tuntas

Untuk kompetensi pada kategori pengetahuan dan keterampilan (KI-3 dan KI-4), siswa tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik. Asumsi yang digunakan dalam belajar tuntas adalah siswa dapat belajar apapun, hanya waktu yang dibutuhkan yang berbeda. Siswa yang belajar lambat perlu waktu lebih lama untuk materi yang sama, dibandingkan siswa pada umumnya.
  • Otentik

Memandang  penilaian  dan  pembelajaran  secara  terpadu. Penilaian otentik harus mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah. Menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap). Penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh siswa, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh siswa.
  • Berkesinambungan

Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar siswa, memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk penilaian proses, dan berbagai jenis ulangan secara berkelanjutan (ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, atau ulangan kenaikan kelas).
  • Berdasarkan acuan kriteria

Kemampuan siswa tidak dibandingkan terhadap kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap kriteria yang ditetapkan, misalnya ketuntasan minimal, yang ditetapkan oleh satuan pendidikan masing-masing.
  • Menggunakan  teknik penilaian yang bervariasi

Teknik penilaian yang dipilih dapat berupa tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, projek, pengamatan, dan penilaian diri.

Baca Juga :

PENELITIAN KUALITATIF : GROUNDED THEORY APPROACH

PENELITIAN KUALITATIF : GROUNDED THEORY APPROACH

PENELITIAN KUALITATIF A
PENELITIAN KUALITATIF A
  1. Pendahuluan
Grounded Theory Approach adalah metode penelitian kualitatif yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis guna mengembangkan teori dari kancah. Pendekatan ini pertama kali disusun oleh dua orang sosiolog Barney Glaser dan Anselm Strauss, yang menghasilkan karya buku, yaitu: The Discovery of Grounded Theory (1967); Theoritical Sensitivity (1978); Qualitative Analysis for Social Scientists (1987); dan Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques (1990). Menurut Glaser dan Strauss, pendekatan grounded theory merupakan metode ilmiah, karena prosedur kerjanya yang dirancang secara cermat sehingga memenuhi keriteria metode ilmiah. Keriteria dimaksud adalah adanya signifikansi, kesesuaian antara teori dan observasi, dapat digeneralisasikan, dapat diteliti ulang, adanya ketepatan dan ketelitian, serta dapat dibuktikan.

Sesuai dengan nama yang disandangnya, tujuan dari grounded theory approach adalah teoritisasi data. Teoritisasi adalah sebuah metode penyusunan teori yang berorientasi tindakan/interaksi, karena itu cocok digunakan untuk penelitian terhadap perilaku. Penelitian ini tidak bertolak dari suatu teori atau untuk menguji teori (seperti paradigma penelitian kuantitatif), melainkan bertolak dari data menuju suatu teori. Untuk maksud itu, yang diperlukan dalam proses menuju teori itu adalah prosedur yang terencana dan teratur (sistematis). Selanjutnya, metode analisis yang ditawarkan Grounded Theory Approach adalah teoritisasi data (grounded theory).
Grounded theory pada dasarnya dapat diterapkan pada berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial, namun demikian seorang peneliti tidak perlu ahli dalam bidang ilmu yang sedang ditelitinya. Hal yang lebih penting adalah bahwa dari awal peneliti telah memiliki pengetahuan dasar dalam bidang ilmu yang ditelitinya, supaya ia paham jenis dan format data yang dikumpulkannya.


  1. Perumusan Masalah Penelitian
Paradigma kualitatif mengasumsikan bahwa di dalam kehidupan sosial selalu ditemukan regulasi-regulasi yang relatif sudah terpola. Pola-pola regulasi yang ditemukan melalui penelitian itulah yang dirumuskan menjadi teori. Asumsi ini dipertegas dalam grounded theory, dengan menyatakan bahwa; (a) semua konsep yang berhubungan dengan fenomena belum dapat diidentifikasi; dan (b) hubungan antarkonsep belum terpahami atau belum tersusun secara konseptual. Oleh sebab itu, tidak mungkin bagi seorang peneliti untuk mengajukan masalah yang sangat spesifik seperti yang dituntut dalam metode kuantitatif, baik variabel maupun tipe hubungan antarvariabelnya.
Substansi rumusan masalah dalam pendekatan grounded theory masih bersifat umum, yaitu dalam bentuk pertanyaan yang masih memberi kelonggaran dan kebebasan untuk menggali fenomena secara luas, dan belum sampai menegaskan mana saja variabel yang berhubungan dengan ruang lingkup masalah dan mana yang tidak. Demikian pula tipe hubungan antarvariabelnya belum perlu dieksplisitkan dalam rumusan masalah yang dibuat.

Bertolak dari dasar asumsi dan kemungkinan yang diutarakan di atas, rumusan masalah dalam grounded theory disusun secara bertahap. Pada tahap awal, sebelum pengumpulan data, dikemukan rumusan masalah yang bersifat luas (tetapi tidak terlalu terbuka), yang kemudian nanti setelah data yang bersifat umum dikumpulkan, rumusan masalahnya semakin dipersempit dan lebih difokuskan sesuai dengan sifat data yang dikumpulkan. Intinya adalah bahwa rumusan masalah dalam grounded theory disusun lebih dari satu kali. Rumusan masalah yang diajukan pada tahap pertama dimaksudkan sebagai panduan dalam mengumpul data, sedangkan rumusan masalah yang diajukan pada tahap berikutnya dimaksudkan sebagai panduan untuk menyusun teori.
Perumusan masalah yang disebut terakhir ini inheren dengan perumusan hipotesis penelitian. Seperti lazimnya pada setiap penelitian, rumusan masalah yang disusun pada tahap awal adalah yang memiliki substansi yang jelas serta diformulasikan dalam bentuk pertanyaan. Ciri rumusan masalah yang disarankan dalam grounded theory adalah: (a) berorientasi pada pengidentifikasian fenomena yang diteliti; (b) mengungkap secara tegas tentang obyek (formal dan material) yang akan diteliti, serta (c) berorientasi pada proses dan tindakan.

Contoh rumusan masalah awal pada grounded theory; “Bagaimanakah wanita yang berpenyakit kronis mengatasi kehamilan?”. Pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah ini bermaksud untuk: (a) mengenali secara tepat dan mendalam perilaku wanita yang sedang berpenyakit kronis dalam mengatasi kehamilannya; (b) obyek formal penelitian adalah wanita yang berpenyakit kronis yang sedang hamil, sedangkan obyek materialnya adalah cara-cara yang dilakukan oleh wanita itu dalam mengatasi persoalan kehamilan dalam kondisi sakit; dan (c) orientasi utama yang disoroti adalah tahapan tindakan si wanita dan jenis-jenis atau bentuk-bentuk tindakan yang dipilih.
  1. Penggunaan Teori Terdahulu
Sebagaimana penelitian kualitatif pada umumnya, pendekatan grounded theory sama sekali tidak bermaksud untuk menguji teori, dan bahkan tidak bertolak dari variabel-variabel yang direduksi dari suatu teori. Sungguh tidak relevan jika penelitian dengan grounded theory dimulai dengan teori atau variabel yang telah ada, karena akan menghambat pengembangan rumusan teori baru. Oleh sebab itu, penelitian grounded theory tidak perlu terlalu terpangaruh oleh literatur karena akan menutupi kreativitas dalam mengumpul, memahami dan menganalisis data. Inilah yang dimaksudkan dalam pendekatan grounded theory, bahwa sesungguhnya peneliti belum memiliki pengetahuan tentang obyek yang diteliti, termasuk jenis data dan kategori-kategori yang mungkin ditemukan.
Pendekatan grounded theory, teori yang sudah ada harus diletakkan sesuai dengan maksud penelitian yang dikerjakan. Penelitian yang bermaksud menemukan teori dari dasar:

  1. Jika peneliti menghadapi kesulitan dalam hal konsep ketika merumuskan masalah, membangun kerangka berpikir, dan menyusun bahan wawancara, maka konsep-konsep yang digunakan oleh teori terdahulu dapat dipinjam untuk sementara sampai ditemukan konsep yang sebenarnya dari kancah,
  2. Jika penelitian dengan grounded theory menemukan teori yang memiliki hubungan dengan teori yang sudah dikenal, maka temuan baru itu merupakan sumbangan baru untuk memperluas teori yang sudah ada. Demikian pula, jika ternyata teori yang ditemukan identik dengan teori yang sudah ada, maka teori yang ada dapat dijadikan sebagai pengabsahan dari temuan baru itu,
  3. Jika peneliti sudah menemukan kategori-kategori dari data yang dikumpulkan, maka ia perlu memeriksa apakah sistem kategori serupa telah ada sebelumnya. Jika ya, maka peneliti perlu memahami tentang apa saja yang dikatakan oleh peneliti lain tentang kategori tersebut, tetapi bukan untuk mengikutinya. Penelitian yang bermaksud memperluas teori,
  4. Jika penelitian bermaksud untuk memperluas teori yang telah ada, maka penelitian dapat dimulai dari teori tersebut dengan merujuk kerangka umum teori itu. Dengan kata lain, kerangka teoritik yang sudah ada bisa digunakan untuk menginterpretasi dan mendekati data. Namun demikian, penelitian yang sekarang harus dikembangkan secara tersendiri dan terlepas dari teori sebelumnya. Dengan demikian, penelitian dapat dengan bebas memilih data yang dikumpulkan, sehingga memungkinkan teori awalnya dapat diubah, ditambah, atau dimodifikasi,
  5. Jika penelitian sekarang bertolak dari teori yang sudah ada, maka ia dapat dimanfaatkan untuk menyusun sejumlah pertanyaan atau menjadi pedoman dalam pengamatan /wawancara untuk mengumpul data awal,
  6. Jika temuan penelitian sekarang berbeda dari teori yang sudah ada, maka peneliti dapat menjelaskan bagaimana dan mengapa temuannya berbeda dengan teori yang ada.
  1. Analisis Data
Esensi kegiatan pengumpulan dan analisis data dalam grounded theory adalah proses yang saling berkaitan erat, dan harus dilakukan secara bergantian (siklus). Karena itu kegiatan analisis yang dibicarakan pada bagian berikut telah dikerjakan pada saat pengumpulan data sedang berlangsung. Kegiatan analisis dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk pengkodean (coding). Pengkodean merupakan proses penguraian data, pengonsepan, dan penyusunan kembali dengan cara baru. Tujuan pengkodean dalam penelitian grounded theory adalah untuk: (a) menyusun teori; (b) memberikan ketepatan proses penelitian; (c) membantu peneliti mengatasi bias dan asumsi yang salah; dan (d) memberikan landasan, memberikan kepadatan makna, dan mengembangkan kepekaan untuk menghasilkan teori.
Terdapat dua prosedur analisis yang merupakan dasar bagi proses pengkodean, yaitu: (a) pembuatan perbandingan secara terus-menerus (the constant comparative methode of analysis); dan (b) pengajuan pertanyaan. Konteks penelitian grounded theory, hal-hal yang diperbandingkan itu cukup beragam, yang intinya berada pada sekitar: (a) relevansi fenomena atau data yang ditemukan dengan permasalahan pokok penelitian; dan (b) posisi dari setiap fenomena dilihat dari sifat-sifat atau ukurannya dalam suatu tingkatan garis kontinum.

Sumber : Ngelag.Com

Penyebab Munculnya Rasa Khawatir Secara Tiba-Tiba Pada Manusia

Salah satu urusan yang sering hadir di benak kita ialah khawatir. Mungkin tidak sedikit dari anda yang telah sering merasakan apa tersebut khawatir, dan tersebut pertanda baik, karena artinya kamu hidup, terdapat aktivitas. Tetapi cemas berlebihan juga dapat melumpuhkan.

Apa sih cemas itu? Mengapa khawatir? Dan bagaimana teknik mengatasinya?

Lalu mengapa insan sering dan gampang terjebak dengan rasa khawatir?

1. Karena tidak mempunyai prioritas yang benar dalam hidupnya

Terkadang tidak sedikit dari anda yang bingung dalam memilih barang yang anda mau beli, antara merk dengan fungsi, sebab bersangkutan dengan gengsi, hendak terlihat baik, canggih dan mewah. Saat kamu mempunyai prioritas yang benar dalam hidup, kamu tidak akan gampang dikhawatirkan dengan hal-hal lain.

2. Tidak mempunyai gambar diri yang benar

Pada saat insan hidup kesatu kali, urusan yang mesti di bina dengan baik dan benar ialah gambar diri yang baik. Gambar diri dapat dibangun oleh orangtua dan lingkungan. Gambar diri ini menilai cerminan kehidupan seseorang di masa mendatang, andai gambar diri buruk maka besar bisa jadi kehidupannya pun akan buruk.

Dalam sejumlah kasus, www.pelajaran.id/ biasanya orang yang mempunyai gambar diri buruk memakai topeng dengan barang mewah dan segala format dandanan yang paling baik, dengan destinasi untuk menetralkan rasa khawatirnya. Sehingga merk dan brand menjadi lebih urgen daripada fungsinya.

Mari perbaiki 2 urusan ini dalam hidup kita, tentukan prioritas saat kamu merasa khawatir. Serta biasakan mempunyai gambar diri yang sehat, supaya keseharian anda bebas dan lepas dari khawatir. Memang, cemas tidak membunuh manusia, tetapi paling mengganggu kehidupan.

ANATOMI PROBLEM KURIKULUM DI PTAI

ANATOMI PROBLEM KURIKULUM DI PTAI

ANATOMI PROBLEM KURIKULUM DI PTAI
ANATOMI PROBLEM KURIKULUM DI PTAI
H. Arief Furqan, MA, PhD.
Pendahuluan
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas lulusan suatu lembaga pendidikan, barangkali kurikulumlah yang bisa dianggap menjadi prioritas utama untuk diperhatikan. Hal ini tidak lain karena kurikulum merupakan rencana pendidikan yang akan diberikan kepada mahasiswa. Bahkan dalam pengertian lebih luas, keberadaan kurikulum tidak saja terbatas pada materi yang akan diberikan di dalam ruang kuliah, melainkan juga meliputi apa saja yang sengaja diadakan atau ditiadakan untuk dialami mahasiswa di dalam kampus. Oleh karena itu, posisi kurikulum menjadi mata rantai yang urgen dan tidak dapat begitu saja dinafikan dalam konteks peningkatan kualitas perguruan tinggi.
Karena ibarat orang membangun, kurikulum adalah ‘blue print’ (gambar cetak biru) nya. Blue print ini harus jelas bagi semua fihak yang terkait, meliputi; arsitek yang menggambar, pemilik rumah yang akan membiayai proyek pembangunan rumah tersebut, dan pemborong serta para tukang yang akan membangun rumah. Tidak boleh ada perbedaan persepsi di antara fihak-fihak terkait mengenai bagaimana bentuk akhir rumah tersebut berdasarkan blue print itu. Apabila terjadi perbedaan persepsi di antara fihak fihak tersebut, pastilah akan terjadi kesalahfahaman dan kekecewaan, terutama di fihak pemilik rumah yang telah mengeluarkan uang untuk proyek tersebut.

Dari sudut pandang ekonomi, lembaga pendidikan yang memungut biaya (berupa SPP atau lainnya) dapat dianggap sebagai lembaga penjual jasa, yaitu jasa layanan pendidikan. Dalam hal ini, kurikulum itulah yang ditawarkan untuk ‘dijual’ kepada masyarakat. Apabila pengelola lembaga pendidikan tersebut menginginkan agar lembaga pendidikannya diminati masyarakat, maka mereka harus membuat kurikulum yang menarik dan dianggap dapat memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat. Tentu saja, kurikulum bukanlah satu-satunya daya tarik. Karena apalah artinya kurikulum yang baik, par exellence kalau dosennya (tukangnya) kurang mampu mewujudkan kurikulum tersebut dalam lapangan empiric (kenyataan). Begitupula kurikulum akan tidak banyak mempunyai arti (meaningless) kalau sarana pendidikannya (alat pertukangannya) juga kurang memadai. Namun, tanpa kurikulum yang baik dan jelas, dosen dan sarana sebaik apapun tidak akan menghasilkan lulusan yang bagus.

Seperti diuraikan di atas, kurikulum harus disusun dengan baik dan harus jelas bagi semua fihak yang berkepentingan, dalam kasus perguruan tinggi adalah Tri Civitas akademika dan masyarakat. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kurikulum kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia masih tidak demikian. Banyak di antara perguruan tinggi yang kurikulumnya “meniru” perguruan tinggi lain yang sejenis tanpa mengerti landasan filosofis yang ada di balik kurikulum tersebut. Demikian pula halnya dengan IAIN dan STAIN, apalagi PTAIS. Kurikulum nasional mereka dibuat oleh Departemen Agama di Jakarta dan hanya berupa daftar matakuliah. Silabusnya pun dibuat seragam dan berupa deretan topik inti yang kadang-kadang tumpang tindih (over laping) satu sama lain. Celakanya lagi kurikulum dan silabus buatan orang lain ini dianggap sakral (untouchables) dan tak dapat diubah lagi. Padahal sebagai lembaga pendidikan tinggi seharusnya mereka menyadari sifat otonomi keilmuan yang mereka miliki. Kurikulum lokal yang menjadi hak penuh mereka pun diisi dengan matakuliah yang dulu ada dan dalam kurikulum baru sengaja dihilangkan. Akibatnya, kurikulum baru 1997 tidak ada bedanya dengan kurikulum 1995 sebelumnya. Hanya posisi matakuliahnya saja yang berbeda.

Dengan membaca kurikulum yang tertulis dalam buku pedoman kebanyakan PTAI, kita masih belum dapat memperoleh gambaran tentang hal-hal penting. Gambaran tersebut antara lain berisi apakah yang akan dibentuk oleh PTAI melalui kurikulum itu? (Kalaupun ada ungkapan seperti ‘ulama yang intelek dan intelektual yang ulama’ di kalangan civitas akademika, hal itu juga masih belum kongkrit dan terukur. Bagaimanakah profil lulusan PTAI yang diidamkan itu: bagaimana sikap hidup mereka, pengetahuan dan ketrampilan apa yang akan mereka peroleh sebagai hasil belajar mereka di PTAI?) Bagaimana cara PTAI untuk mewujudkan lulusan seperti itu? Aspek-aspek apakah yang akan dikembangkan melalui kurikulum itu? Bagaiman cara PTAI untuk mengembangkan aspek-aspek tersebut? Bagaimana PTAI akan mengevaluasi apakah mahasiswa telah menguasai aspek-aspek tersebut? Bagaimana cara PTAI memastikan bahwa tujuan kurikulum yang telah mereka nyatakan itu telah tercapai atau belum? Apa standar kelulusan (standar kualitas) yang dipedomani oleh PTAI?
Yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa kurikulum tersebut bukan saja tidak jelas bagi masyarakat yang ingin mengetahui apa isi kurikulum PTAI, melainkan juga tidak jelas (setidaknya tidak ada jaminan bahwa hal itu sudah jelas) bagi sebagian (mungkin sebagian besar) dosen yang secara langsung mendidik mahasiswa di ruang kuliah. Kalau diibaratkan PTAI sebagai developer yang berusaha menjual rumah kepada masyarakat, maka dalam hal ini masih terdapat ketidak samaan visi antara arsitek (pembuat kurikulum) dengan pemborong (pimpinan PTAI) dengan para tukangnya (dosen) mengenai bagaimana gambar akhir dari rumah (lulusan) yang akan dihasilkan oleh proyek pembangunan rumah (pendidikan mahasiswa) itu. Masing-masing fihak memiliki visi masing-masing mengenai kualitas lulusan dan apa yang seharusnya dilakukan untuk menghasilkan lulusan seperti itu.

Bagaimanakah seharusnya kurikulum suatu perguruan tinggi?

Mengingat kurikulum adalah program layanan pendidikan yang ditawarkan atau ‘dijual’ kepada masyarakat, maka seharusnya kurikulum dipandang sebagai jati diri perguruan tinggi yang bersangkutan. Kurikulum perguruan tinggi harus mencerminkan identitas lembaga tersebut sebagai perguruan tinggi yang bermutu (melakukan pendidikan, pengembangan ilmu/penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat). Di samping itu ia harus mencerminkan misi dan visi perguruan tinggi tersebut sebagai lembaga. Kurikulum juga harus memberikan gambaran yang jelas tentang lulusan yang ingin dihasilkan dan bagaimana lembaga pendidikan tersebut akan mewujudkan lulusan yang diharapkan itu melalui berbagai program studi (jurusan) yang ada di perguruan tinggi tersebut. Ia juga harus menunjukkan keistimewaan perguruan tinggi tersebut jika dibandingkan dengan perguruan tinggi sejenis. Sumber : www.gurupendidikan.co.id

Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli

Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli

Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli
Pengertian Bimbingan Menurut Para Ahli

Pengertian Bimbingan

Menurut Hallen (2002:3) kata bimbingan secara estimologi merupakan terjemahan dari kata “guidance” berasal dari kata “ to guide” yang mempunyai arti “menunjukan”, membimbing, menuntun, ataupun membantu.” Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia Lengkap (dalam Daryanto, 1997:105) menjelaskan bahwa: “bimbingan adalah petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu, tuntunan, pimpinan”.
Begitupun Smith, menurut Mc Daniel (dalam Prayitno dan Erman Amti, 1999:94) mengungkapkan bahwa bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individu-individu guna membantu mereka memeperoleh pengetahuan keterampilan-keterampilan yamg diperlukan dalam membuat rencana, dan interprestasi-interprestasi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri yang baik.
Sedangkan Ketut Sukardi (2002:19) menjelaskan bahwa bimbingan dapat diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara barkesinambungan supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lngkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat dan kehidupan pada umumnya.
Dengan demikian, dia akan dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan dapat memberikan sumbangan yang berarti kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai mahluk sosial. Begitupun Frak W. Miller (dalam Sofyan S. Willis, 2004:13) mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses adalah bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan bagi penyesuaian diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan bagi penyesuaian diri secara baik dan maksimum disekolah, keluarga dan masyarakat.


Dari semua definisi diatas, dapat dismpulkan bahwa karakteristik bimbingan (guidance) adalah sebagai berikut:
a. Bimbingan merupakan upaya yang bersifat preventif, artinya lebih baik diberikan kepada individu yang belum bermasalah, sehingga dengan bimbingan dia akan memelihara diri dari berbagai kesulitan.
b. Bimbingan dapat diberikan secara individual dan kelompok. Upaya bimbingan dapat diberikan secara individual, artinya seseorang pembimbing menghadapi seorang klien (siswa). Mereka berdiskusi untuk pengembangan diri klien, kemudian merencanaka upaya-upaya bagi diri klien yang terbaik baginya. Disamping itu, bimbingan kelompok adalah jika seorang pemimbing menghadapi banyak klien. Disini pembimbing lebih banyak bersikap sebagai fasilitator untuk kelancaran diskusi kelompok dan dinamika kelompok untuk kelancaran diskusi kelompok dan dinamika kelompok. Masalah yang dihadapi adalah persoalan bersama, misalnya meningkatkan prestasi belajar, kreativitas dan sebagainya.
c. Bimbingan dapat dilakukan oleh para guru, pemimpin, ketua-ketua organisasi dan sebagainya. Yang penting para pembimbing tersebut memiliki pengetahuan tentang tentang psikologi, sosiologi, budaya, dan berbagai teknik bimbingan seperti diskusi, dan dinamika kelompok, sosio-drama, teknik mewawancarai, dan sikap-sikap yang menghargai, ramah, jujur dan terbuka. Bisa dikatakan bahwa bimbingan dapat dilakukan oleh siapa saja yang berminat, asal mendapat pelatihan terlebih dahulu. (Sofyan S Willis, 2004:15).

Selain itu dapat disimpulkan juga bahwa bimbingan memiliki kata-kata kunci dengan artinya sebagai berikut:
a. Suatu proses; setiap fenomena yang menunjukan kontinuitas perubahan melalui waktu atau serangkain kegiatan dan langkah-langkah menuju ke suatu tujuan.
b. Suatu usaha bantuan; untuk menambah, mendorong, merangsang, mendukung, menyentuh, menjelaskan agar individu tumbuh dari kekuatan sendiri.
c. Konseli atau anak; individu yang normal yang membutuhkan bantuan dalam proses perkembangannya.
d. Konselor; individu yag ahli dan terlatih dan mau memberikan bantuan kepada konseli.
e. Tujuan bimbingan dapat dirumuskan; sebagai proses penemuan diri dan dunianya, sehingga individu dapat memilih, merencanakan, memutuskan, memecahkan masalah, meyesuaikan secara bijaksana dan berkembang sepenuh kemampuan dan kesanggupannya serta dapat memimpin diri sendiri sehingga individu dapat menikmati kebahagiaan batin yang sedalam-dalamnya dan produktif bagi lingkungannya. (Yusuf & Chatherine, 1992 : 40-41).
Dari berbagai definisi diatas, maka penulis berpendapat bahwa bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu menolong dirinya sendiri, bertanggung jawab, dan memiliki rasa percaya diri dan dapat menyesuaikan diri baik disekolah, keluarga maupun masyarakat.

2. Pengertian Konseling

Apabila ditelaah berbagai sumber akan dijumpai pengertian-pengertian yang berbeda mengenai konseling, tergantung dari jenis sumbernya dan yang merumuskan pengertian konseling itu. Perbedaan tersebut disebabkan karena berlainan pandangan atau titik tolak. Tetapi perbedaan itu hanyalah perbedaan tekanan atau perbedaan dari sudut mana melihatnya.
Istilah bimbingan dirangkai dengan istilah konseling, hal ini disebabkan karena bimbingan dan konseling itu merupakan suatu kegiatan yang integral. Koseling adalah salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan diantara beberapa teknik lainnya, bimbingan itu lebih luas dan koseling merupakan alat yang paling penting dari usaha pelayanan bimbingan.
Prayitno dan Erman Amti (1999:99) menuliskan bahwa, secara estimologi istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium” yang berarti “ dengan” atau “bersama’ yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”.Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyampaikan”.
Merekapun merumuskan pengertian konseling, yaitu : “Konseling adalah pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.” (Prayitno & Erman Amti, 1999:105).
Sebagaimana dikatakan oleh Roger (dalam Hallen 2002:10) mengatakan bahwa :
Counseling is series of direct contacts with the individual which aims tp offer him a“Conseling ssistance in changing his attitude and behavior”.
Konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya.
Sementara Pepinnsky and Peppinsky (dalam Ketut Sukardi 1985:14) berpendapat bahwa konseling adalah suatu proses interaksi yang (a) terjadi diantara dua orang individu yang disebut konselor dan klien, (b) terjadi dalam situasi yang bersifat pribadi (propesional), (c) diciptakan dan dibina sebagai suatu cara untuk memudahkan terjadinya perubahan-perubahan tingkah laku klien, sehingga ia memperoleh keputusan yang memuaskan kebutuhannya.
Menurut Sofyan S. Willis (2004:17) mengemukakan arti konseling adalah suatu hubungan antara seseorang dengan orang lain, dimana seorang berusaha keras untuk membantu orang lain agar memahami masalah dan dapat mememcahkan masalahnya dalam rangka penyesuaikan dirinya.
Jadi “konseling” pada dasarnya adalah suatu aktivitas pemberian nasiahat dengan atau berupa anjuran-anjuran dan saran-saran dalam bentuk pembicaraan yang komunikatif antara konselor agar dapat memerikan bimingan dengan metode-metode psikologis dalam upaya sebagai berikut:
a. Mengembangkan kualitas kepribadian.
b. Mengembangkan kualitas kesehatan mental.
c. Mengembangkan perilaku-perilaku yang lebih effektif pada diri individu dan lingkungannya.
d. Menanggulangi problem hidup dan kehidupan secara mandiri. (M.Hamdani Bakran Adz Dzaky, 2002:180).
Dari definisi diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa konseling adalah proses interaksi antar konseli dan konselor dimana konselor memberikan bantuan kepada konseli yang sedang mengalami suatu masalah melalui wawancara konseling dan diharapkan dapat teratasinya masalah tersebut. Referensi :  www.kuliahbahasainggris.com

7 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Merasa Salah Jurusan

7 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Merasa Salah Jurusan

Ketika awal kuliah, kamu dambakan mendalami hukum, dan memutuskan untuk masuk ke fakultas hukum. Namun di tahun-tahun berikutnya, kamu menjadi mikir “jurusan ini ternyata nggak gue banget”. Sempat terlintas di anggapan kamu untuk tukar jurusan, tapi tahu-tahu mendadak kamu udah semester akhir. Nah terkecuali kamu mengalami ini dan mulai tidak benar jurusan, ini yang wajib kamu lakukan.

7 Hal yang Sebaiknya Kamu Lakukan Ketika Merasa Salah Jurusan

1. Yang pertama wajib kamu melaksanakan adalah jangan panik! Karena ternyata, kamu gak sendirian
Menurut Career Advice, di Amerika ada lebih kurang 60 hingga 70 persen mahasiswa yang tidak benar jurusan. Tak wajib khawatir sebab berita baiknya, sebab banyak orang-orang berhasil di luar sana yang latar pendidikannya malah nggak sesuai serupa bidang yang mereka tekuni selagi ini.

Lihat saja Bapak Chairul Tanjung, beliau berlatar belakang pendidikan kedokteran gigi, tapi dapat menjadi tidak benar satu entrepreneur berhasil di bidang industri hiburan dan pertelevisian. Atau kamu dapat saksikan Ibu Susi Pudjiastuti yang gak lulus SMA, tapi dapat menjadi entrepreneur exportir ikan segar beserta olahannya. Bahkan saat ini dipercaya untuk menjabat sebagai menteri Kelautan dan Perikanan selagi ini.

2. Kumpulkan soft skill yang dapat mendukung karirmu nanti
Salah satu keterampilan yang paling penting di dalam hidup ini, terlebih untuk melamar pekerjaan adalah soft skill. Soft skill adalah keterampilan seseorang yang didapatkan berasal dari pengalaman, dan normalitas hidup sehari-hari sehingga membentuk kepribadian seseorang. Seperti kalau dapat berkomunikasi dengan baik, dapat mengendalikan emosi, tetap berpikir kreatif dan lainnya. Hal-hal inilah yang biasanya dibutuhkan oleh para pemberi kerja di luar sana.

3. Ikut berhimpun dengan komunitas
Kamu kuliah di jurusan hukum, tapi kamu ingin banget menjadi sutradara. Karena gak barangkali ambil S2 bidang sinematografi setelah lulus nanti, kamu dapat aja gabung dengan komunitas-komunitas film yang biasanya mereka terhitung bikin proyek kecil-kecilan untuk bikin film indie. Nah berasal dari situ kamu dapat belajar bareng mereka.

4. Ikut kursus, seminar, dan workshop
Kalau kamu mempunyai uang lebih, kamu dapat aja turut kursus maupun workshop perihal bidang yang dambakan kamu tekuni. Tapi terkecuali uang kamu pas-pasan, kamu dapat ikutan seminar yang harga tiketnya gak terlampau mahal. Sekarang ini banyak terhitung kok kampus-kampus atau institusi yang kerap menyelenggarakan seminar gratis. Bahkan banyak terhitung pihak yang sengaja upload videonya di YouTube.

5. Baca buku, jurnal, maupun artikel yang mengenai dengan passion kamu
Ikut seminar menurutmu tetap terlampau mahal? Kamu dapat baca buku yang relevan dengan passion kamu. Kamu nggak kuat membeli buku? Pinjem aja ke perpustakaan. Buku di perpus gak update? Cari aja referensi di internet. Kalau kamu memang niat mempelajari pengetahuan baru, pasti dapat ada jalur yang dapat memudahkanmu kok.

6. Cari pengalaman kerja dengan magang
Hal lain yang dapat kamu melaksanakan sehingga mendapat pengalaman atau pengetahuan yang sesuai minat kamu adalah dengan langkah magang. Mungkin kamu gak dapat magang untuk proyek skripsi, tapi kamu dapat kerja part time. Sebagai contoh, kamu tertarik dengan dunia pemasaran, kamu dapat cobalah apply untuk ngelamar posisi sales atau marketing di restoran sekitarmu.

7. Pilih jurusan S2 sesuai dengan bidang yang terlampau kamu minati
Kamu dapat aja ngambil S1 di bidang ABC, terus tepat S2 kamu dapat ambil XYZ. Tapi pilihan kamu kali ini udah wajib dipikir matang-matang, dan udah sesuai dengan minat kamu. Jangan hingga kamu ulangilah kekeliruan layaknya selagi kamu ngambil S1 dulu.

Biarpun mulai tidak benar ambil kuliah, setidaknya kamu udah dapat menyita hikmahnya berasal dari situ. Intinya, kamu wajib mengetahui bahwa gak ada pengetahuan yang percuma di dunia ini. Semua pengetahuan itu mutlak dan saling melengkapi.

sumber : https://www.ruangguru.co.id/

Sebelum Ospek, Pastikan Kamu Sudah Persiapkan 8 Hal Ini

Sebelum Ospek, Pastikan Kamu Sudah Persiapkan 8 Hal Ini

Setiap perguruan tinggi, apa-pun jenjangnya, dapat menyelenggarakan kegiatan orientasi sebelum memulai kegiatan studi mengajar. Biar kalian mengenal teman-teman dan sistem pembelajaran yang diterapkan di kampus.

Sebelum Ospek, Pastikan Kamu Sudah Persiapkan 8 Hal Ini

Meski terdengar remeh, kegiatan orientasi tak bisa anda sepelekan. Kegiatan selanjutnya dapat berjalan bersama jadwal yang padat dan berhari-hari. Untuk itulah, anda kudu menyiapkan delapan hal ini supaya tidak mulai gegar pada budaya orientasi di kampus.

1. Jadwal kegiatan orientasi berjalan padat
Ini bener lho. Biasanya, mahasiswa baru diwajibkan datang pagi-pagi sekali dan baru pulang di atas jam enam sore. In between, banyak sekali pengarahan yang dapat disampaikan oleh para dosen dan senior mahasiswa di sana.

2. Persiapkan pula untuk melacak perintilan untuk kegiatan orientasi
Umumnya, waktu hari pertama orientasi, mahasiswa baru dapat diberi wejangan tugas kelompok maupun pribadi. Tujuannya sih biar terlihat kompak dan disiplin.

Biasanya, ada perintah untuk bikin nama dada baik berukuran kecil maupun besar, menyampul buku tulis bersama sampul batik, atau perintah lainnya. Dan, itu kudu disempurnakan pada hari ke-2 orientasi. Wow banget kan? Siap-siap deh.

3. Siapkan dresscode
Selain perintilan berwujud barang, mahasiswa baru terhitung diminta mengenakan dresscode tertentu. Gak aneh-aneh kok. Umumnya, seragam putih hitam atau batik.

Di kampusmu gitu terhitung gak?

4. Jangan lupa bawa alat-alat tulis
Dilan 1990 memang cakep dan cerdas, namun kebiasaannya mempunyai buku tulis di saku celana jangan ditiru. Bawalah tas selanjutnya masukkan peralatan tulismu di situ. Catat hal-hal mutlak yang dipaparkan para dosen dan mahasiswa senior.

5. Jangan bangun telat
Masa orientasi adalah periode pengenalan kehidupan akademik bagi mahasiswa baru. Lingkupnya terhitung studi disiplin waktu masuk kelas. Biasakan untuk disiplin bangun pagi. Biasanya nih, jika di dalam satu kelompok ada yang telat, semuanya bisa kena hukuman.

Kamu gak mau kan kelompokmu kena hukuman karena kekeliruan yang memang bisa anda hindari?

6. Persiapkan mental
Perpeloncoan barangkali gak ada di dalam orientasi zaman now namun ada kelompok mahasiswa senior yang meyakinkan mahasiswa baru disiplin di dalam mengikuti rangkaian kegiatan orientasi. Mereka dapat bersuara sedikit lantang dikala ada mahasiswa baru yang melanggar peraturan.

Pastikan mentalmu tidak jatuh. Semangat!

7. Masa orientasi penuh bersama pengalaman menarik
Kuncinya, jangan tegang. Santai saja, mengikuti saja rangkaian kegiatannya bersama baik. Kamu bisa bersama ringan menggaet teman-teman baru yang dapat mengisi hari-harimu ke depan.

8. Pikirkan untuk bergabung bersama unit kegiatan mahasiswa
Unit kegiatan mahasiswa sejenis kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menengah atas. Para mahasiswa senior bagian unit kegiatan dapat unjuk kebolehan kebolehan mereka waktu masa orientasi. Inilah saatnya anda memutuskan bergabung bersama unit kegiatan mahasiswa.

Jangan jadi mahasiswa pasif, tempa dirimu bersama sebanyak barangkali hal positif selama nanti berkuliah. Cheers!

Guru Ideal yang Diharapkan Dalam Dunia Pendidikan

Dalam dunia pendidikan memang sangat penting hadirnya seorang guru. Karena tanpa hadirnya seorang guru baik sebagai tenaga pendidik, pengajar dan mediasi antara siswa dan ilmu tentu saja pendidikan tak akan bisa berjalan dengan maksimal. Ini yang kemudian menjadi indikasi bahwa tak boleh ada yang meremehkan seorang guru mengingat seorang guru sangatlah penting dalam dunia pendidikan.

Guru Ideal yang Diharapkan Dalam Dunia Pendidikan
Guru Ideal yang Diharapkan Dalam Dunia Pendidikan

Tentu saja kalau kita sedang berbicara tentang hadirnya seorang guru dalam dunia pendidikan, kemudian kita jadi berpikir seperti apa lantas guru ideal yang diharapkan dalam dunia pendidikan? Ya, guru yang ideal sangat diharapkan mengingat di zaman yang serba strata sosial ini tak banyak guru yang loyal, profesional dan juga mengedepankan hakikat kode etik keguruan dalam menjalankan profesinya. Mereka yang bisa berlaku loyal, profesional dan mengedepankan kode etik profesi tentu harus diacungi jempol dan mendapatkan sebuah penghargaan sebagai guru tanpa tanda jasa. Lantas seperti apa sebenarnya guru ideal yang diharapkan Indonesia dalam dunia pendidikan?

Guru Ideal Dalam Dunia Pendidikan 

Guru yang dapat menjalin hubungan baik dengan murid

Guru ideal yang menjadi seorang guru yang sangat diinginkan oleh para siswa adalah guru yang dapat menjalin hubungan baik dengan murid – muridnya. Guru yang dapat menjalin hubungan baik dengan murid – muridnya tentu akan mengerti dan paham bahwa metode pengajaran yang mendekati murid akan sangat baik. Dan guru seperti ini akan lebih mudah dalam memberikan pengajaran kepada murid – muridnya.

Guru yang mampu menjalin komunikasi dengan baik

Ciri lain dari guru ideal ialah guru yang dapat menjalin komunikasi dengan sangat baik kepada anak didiknya. Guru yang harus dapat menjalin komunikasi dengan baik ini tentu menjadi seorang guru yang akan dapat mengantarkan perkembangan muridnya dengan sangat maksimal. Guru ideal juga merupakan seorang guru yang harus selalu memantau perkembangan murid supaya dapat lebih tahu soal kelebihan dan kekurangan siswa dengan baik sehingga soal proses pengajaran juga akan berjalan dengan jauh lebih baik.

Guru yang tahu kebutuhan peserta didik

Guru ideal merupakan seorang guru yang harus tahu tentang kebutuhan para peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangan mereka. Guru juga harus dapat bersahabat dengan murid dan sekaligus menjadi teman belajar bagi murid – muridnya. Dengan begini guru akan tahu kesulitan peserta didik dalam proses belajar mengajar yang diberlakukan dan juga dapat bersama – sama membantu peserta didik mencari solusi yang tepat mengatasi semua kesulitan yang dialaminya.

Demikian sedikit informasi yang kami dapat berikan untuk Anda tentang Fungsi Pendidikan Dan Hubungannya Dengan Status Sosial. Semoga menjadi sebuah informasi yang menginspirasi Anda. Sumber : sekolahbahasainggris.com/

 

Sejarah Pendidikan Di Indonesia

Apa saja tingkatan pendidikan yang berhasil kita raih di negeri sendiri tentu saja kita menjadi salah satu orang yang sangat beruntung karena tahu dan paham seperti apa rasanya mengenyam pendidikan. Entah yang masih lulusan SMP, SMA atau bahkan yang beruntung karena telah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi. Semuanya tentu harus disyukuri dan diamalkan apa saja ilmu – ilmu yang pernah kita dapatkan di bangku pendidikan.

Sejarah Pendidikan Di Indonesia
Sejarah Pendidikan Di Indonesia

Hanya saja tentu tidak adil bagi kita jika kita sudah mengenyam pendidikan dan melaksanakan seperti apa kenyamanan dan kesenangan dunia pendidikan yang berhasil kita capai sementara seperti apa perjuangan panjang pendidikan di Indonesia tidak kita ketahui. Karena itu mari kita tengok sejarah pendidikan di Indonesia. Cek informasinya di bawah ini ya J

Sejarah Pendidikan Di Indonesia

Sejarah pendidikan yang dilakukan di Indonesia sebenarnya diawali dengan perjuangan yang begitu berat, pelik dan panjang. Hal ini juga tentu dipengaruhi atas berbagai macam aspek baik aspek agama atau juga aspek budaya serta berbagai macam aspek politik yang ada sehingga nantinya karakter yang dibentuk dalam sistem pendidikan tersebut tak akan lepas dari aspek – aspek yang terselenggara.

Tentang rancangan konstitusi yang dibuat bahkan di tahun 1950 sendiri juga turut menyatakan tentang tujuan yang dilakukan pemerintah dalam pendidikan yang dilakukan. Pada waktu itu dinyatakan bahwa kewajiban pendidikan masyarakat Indonesia setidaknya selama 6 tahun akan tetapi nyatanya pendidikan yang dicanangkan baru dicapai di ujung tahun 1980an.

Pada tahun sekitar 1973 kemudian Presiden Soeharto memberikan untuk menambah fasilitas sekolah dasar dan berlangsung pembenahan fasilitas ini sampai kurun waktu tahun 1980 yang dilakukan sekitar 40000 unit. Pendidikan sekolah dasar yang memang sudah diwajibkan ini dapat dipilih sesuai selera baik mau sekolah swasta atau sekolah negeri. Indonesia juga sebagai sebuah negara dengan penduduk muslim terbesar kedua yang ada di dunia juga turut memberikan pernyataan bahwa warga yang pergi untuk sekolah agama sekitar 15% dari total yang ada.

Sistem pendidikan yang berlaku di tahun 1990 silam juga punya tujuan agar nantinya siswa yang dididik akan memiliki ideologi bernegara yang akan dapat menjalankan suatu birokrasi serta punya prinsip dalam proses tercapainya kehidupan bernegara yang modern dan telah memiliki budi pekerti yang baik. Setelah proses pendidikan selama 6 tahun selesai ditempuh, nantinya siswa juga dapat melanjutkan ke jenjang SMA. Setelah selesai pendidikan SMA atau SMK nantinya siswa bebas memilih untuk bekerja atau melanjutkan ke tingkat studi yang lebih tinggi seperti pada program sarjana atau pada program pasca sarjana.

Demikian kiranya sedikit informasi yang kami dapat berikan untuk Anda tentang Sejarah Pendidikan Di Indonesia. Semoga menjadi informasi yang bermanfaat dan menjadikan kita semakin sadar bahwa pendidikan itu sangat penting dan pantas diperjuangkan. sumber : dosenpendidikan.com