Efek Narkoba Pada Seniman

Efek Narkoba Pada Seniman

Efek Narkoba Pada Seniman

Bagi awam, ini sebagai ‘pelarian’ dari pahitnya hidup.

Bagi politisi kolonial, candu dipakai jadi alat pembodohan masyarakat sehingga tak sadar mereka dijajah. Bagi seniman, justru fungsinya berbanding lurus dengan dukun indian kuno, yakni menjelajah alam maya untuk menggali inspirasi.

Kalian mungkin bisa menemukan lagu-lagu yang enak didengar, walau sebenarnya mengarah pada gambaran dunia narkoba. Contohnya “Brown Sugar” milik Rolling Stones, “Marry Jane” milik Spin Doctors dan banyak lagi. Atau di ranah lokal lagunya Slank “Popies Lane Memory” bisa mewakili.
Keterlibatan seniman dengan narkoba sudah menarik perhatian ilmuwan sejak lama. Dan saya, tak akan bicara soal selebritas yang makin gencar diberitakan terlibat dengan narkoba. Mereka mungkin pekerja di bidang seni…hiburan, walau tak otomatis jadi seniman.
Saya hanya ingin mengungkap hasil penelitian sebuah departemen di Amerika tentang bagaimana media halusinasi ini berpengaruh dalam tubuh seniman.

Pada studi kasus, seorang seniman perupa diberikan LSD 25

pada dosis tertentu (50 auq) lalu dibiarkan menggambar sesuai khayalannya.
Kita akan melihat bagaimana LSD memberi efek dari waktu ke waktu…

 

Sang seniman menggambar menggunakan charcoal. Hasil laporan: masih normal, belum ada efek berarti. Maka ia diberi dosis ke-2 : 50 auq.

 

Efek euphoria mulai terasa.

Dilaporkan, sang seniman bisa melihat lebih jelas, namun susah mengontrol pergerakan pensil. “Sepertinya pensil ini ingin bergerak terus,” ucap sang seniman.

 

“Saya minta kertas lagi. Goresan pada gambar ini baik-baik saja, tapi kok hasilnya jelek. Coretan pensil saya jadi aneh, ini bukan gambar yang bagus, ya?” keluh sang seniman.


Efek samping LSD semakin bereaksi

Kali ini seniman tersebut malah menggambar dengan aneh. “Saya akan menggambar dengan satu gaya… menggores tanpa garis terputus.”

Sang seniman terlihat gelisah, reaksinya lamban. Kemampuan komunikasi verbalnya menurun, sering bergumam sendiri dan tak jelas bersenandung sebuah lagu atau tidak. Anehnya, karya yang diciptakan seperti terlihat di atas ini, psikedelik… tapi patut diakui, menakjubkan…setidaknya kalau kamu penggemar abstrak dan surealis.

Baca Juga :

Pentingnya Pendidikan Karakter Yang Harus Dipahami semenjak Dini

Pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah pun menuntut guna memaksimalkan kemampuan dan keterampilan kognitif. Dengan pemahaman laksana itu, sebetulnya ada hal beda dari anak yang tak kalah urgen yang tanpa anda sadari sudah terabaikan.Yaitu menyerahkan pendidikan karakterb pada anak didik. Pendidikan karakter penting dengan kata lain sebagai penyeimbang kemampuan kognitif. Beberapa fakta yang tidak jarang kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya malah tidak dermawan, seorang politikus justeru tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru malah tidak prihatin menyaksikan anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan peluang belajar di sekolah. Itu ialah bukti tidak adanya ekuilibrium antara edukasi kognitif dan edukasi karakter.

Ada suatu kata arif mengatakan “ ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu ialah lumpuh”. Sama juga dengan kata lain bahwa edukasi kognitif tanpa edukasi karakter ialah buta. Hasilnya, sebab buta tidak dapat berjalan, berlangsung pun dengan asal nabrak. Kalaupun berlangsung dengan memakai tongkat tetap bakal berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka bakal lumpuh sehingga gampang disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Bagi itu, penting dengan kata lain untuk tidak melalaikan pendidikan karakter anak didik.

Pendidikan karakter ialah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakterpada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar edukasi karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus edukasi karakter dari Jerman yang mempunyai nama FW Foerster:

Pendidikan karakter menekankan masing-masing tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik memuliakan norma-norma yang terdapat dan berpedoman pada norma tersebut.
Adanya koherensi atau membina rasa percaya diri dan keberanian, dengan demikian anak didik bakal menjadi individu yang teguh pendirian dan tidak gampang terombang-ambing dan tidak fobia resiko masing-masing kali menghadapi kondisi baru.
Adanya otonomi, yakni anak didik menghayati dan melaksanakan aturan dari luar hingga menjadi nilai-nilai untuk pribadinya. Dengan begitu, anak didik dapat mengambil keputusan berdikari tanpa diprovokasi oleh tekanan dari pihak luar.
Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan ialah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang di anggap baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan karakter penting untuk pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter bakal menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berbobot | berbobot | berkualitas bangsa, yang tidak melalaikan nilai-nilai sosial laksana toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling menolong dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan karakter akan mencetuskan pribadi unggul yang tidak melulu memiliki keterampilan kognitif saja tetapi mempunyai karakter yang dapat mewujudkan kesuksesan. Berdasarkan riset di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, namun lebih oleh keterampilan mengelola diri dan orang beda (soft skill).

Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan melulu ditentukan selama 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kemampuan soft skill ini terbentuk melewati pelaksanaan edukasi karater pada anak didik. Berpijak pada empat ciri dasar edukasi karakter di atas, kita dapat menerapkannya dalam polapendidikan yang diserahkan pada anak didik. Misalanya, menyerahkan pemahaman hingga mendiskusikan mengenai hal yang baik dan buruk, memberikan peluang dan kesempatan untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta menyerahkan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, memuliakan keputusan dan mendukung anak dalam memungut keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anakdidik akan makna keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut keterangan dari saya, sebetulnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun keterampilan memilih anda dan pertanggungjawaban anda terhadap opsi kita tersebut, yaitu dengan teknik berkomitmen pada opsi tersebut.

Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan cara pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Di samping itu, di lingkungan family dan masyarakat sekitar pun usahakan diterapkan pola edukasi karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dicetuskan dari sistem edukasi karakter.