Latar Belakang Pembaharuan Ajaran Hindu

Latar Belakang Pembaharuan Ajaran Hindu

Selamat mampir di blog saya yang sedia kan bermacam artikel berguna bagi yang memanfaatkannya bersama dengan positif sebagai sarana belajar, dan juga penambah pengetahuan. Pada peluang ini, saya susun sedemikian rupa artikel yang berjudul Latar Belakang Pembaharuan Ajaran Hindu, untuk sambutan singkat kiranya demikian, selamat membaca artikel dibawah ini.

Bangsa India sudah dijajah bangsa asing (Inggris, Portugis, Spanyol, Belanda dan Perancis) sejak abad XVII. Penjajahan bangsa Inggris dirasa menyengsarakan bangsa mayoritas Hindu. Faktor kemiskinan, pembedaan status sosial, pembedaan kaya miskin dan rasa tidak senag pada kasta brahmana pengaruhi gerakan pembaharuan. Tunas nasionalisme disuburkan secara rohani bersama dengan pembaharuan ajaran Hindu yang menanamkan dasar-dasar rasa kebangsaan sekaligus memberi tambahan arah perjuangan untuk merdeka. Sedangkan pembinaan pengetahuan dan berpolitik melalui pembaharuan pendidikan. Tidak disangkal bahwa arah pembaharuan itu awalannya mengarah terbentuknya negara India Merdeka yang arah berbasis ke-hinduan. Namun tidak menutup barangkali timbul gerakan nasionalisme berbasis ke-islaman.

TSG Mulia, selaku pakar peristiwa India, menyebut pembaharuan itu bersama dengan istilah reformasi. Mungkin didasarkan anggapan tersedia unsur pembaharuan, tapi tetap mengikuti norma-norma lama. Pembaharuan itu berunsur menentang keputusan yang dicapnya melanggar ketentuan, anggapan untuk melangkah maju dan bernadakan moderat. Apabila diamati arah gerakan itu untuk menegakkan ketentuan lama, tapi di lain pihak tersedia bisnis untuk mempertahankannya. Kasta atas menjadi norma kehinduan itu tetap baik, berguna dan memberi efek kehidupan. Namun tidak sama bagi kaum terpelajar menjadi harus diadakan pembaharuan untuk disesuaikan bersama dengan keadaan dan keadaan kekinian. Harapan bisnis itu untuk menambah kemakmuran.

Benih nasionalisme India makin lama berkembang tidak lepas berasal dari keadaan dan keadaan masyarakat India yang terjajah. Tidak lepas kegunaan kaum terpelajar. Inggris bersama dengan proses pemerintahan tidak langsung tunjukkan tidak pernah menguasai rakyat India, tapi aturan-aturan buatan Inggris pengaruhi keadaan masyarakat India sejak awal abad XIX sanggup memperburuk ekonomi rakyat, masyarakat India haus pembaharuan sosial. Masyarakat India menghendaki tampilnya pembaharu agama dan sosial. Gambaran masyarakat India sampai pertengahan abad XIX cukup memprihatinkan. Di bidang keagamaan kegunaan Brahmana terlampau dominan. Warga kasta Wisya dan Sudra, selaku pedagang atau petani, terlampau terkait kebijakan Brahmana dan Ksatria, Dua kasta tinggi ini tidak cuman hartawan umumnya terhitung tuan tanah. Kelompok yang terlampau tertindas secara agamis adalah warga kelompok Paria, lebih-lebih kolompok tersebut diperlakukan tidak manusiawi. Mereka tidak boleh terlibat urusan kemasyarakatan, tidak pantas disentuh dan dilihat. Mereka itu diijinkan ke luar rumah pada malam hari. Dari keadaan yang menindas di bayang-bayang kitab Weda, Brahmana disebut-sebut sebagai penghalang, penindas, penjajah. Dari kaum terpelajarlah perintisan nasionalsme itu dibina. Untuk melandasi gerakan nasionalisme harus spiritualisme dan perlindungan warga kaum terpelajar.

Di bidang ekonomi Brahmana dan bangsawan baik Hindu maupun Islam melakukan tindakan sebagai tuan tanah. Mungkin pas disebut warlord. Semula merekalah yang pilih pajak, lantas menugaskan pegawainya untuk memungut pajak. Namun didalam pertumbuhan pajak itu ditarik oleh penebas pajak. Sejak dinasti Moghul lahir dan berkembanglah zamindar. Para zamindar lantas berubah jadi tuan tanah dan penebas pajak, hidupnya makmur. Sementara itu mayoritas rakyat hidup sebagai buruh tani dan berkewajiban membayar pajak. Akibat penindasan sosio-kultural ini mereka makin lama dibodohkan, tidak berkenan menyadari urusan pemerintahan. Suasana ini makin lama diperparah akibat penindasan Inggris. Benggala suatu wilayah yang makmur, semestinya surplus makanan, gara-gara para petaninya bermigrasi ke Dekkan, berulangkali berjangkit bahaya kelaparan. Keadaan ini makin lama diperburuk bersama dengan diberlakukannya The Peramanent Settlement Act, yang menindas petani, pemilik tanah, tapi untung para zamindar. Ian W. Mabbelt memberi ilustrasi, bahwa 1, 5 jumlah masyarakat hidup terkait pertanian dan tinggal di pedalaman. Maka tidak salah, andaikata India disebut negara agrasis besar yang miskin. Kasus warisan / hibah berasal dari seorang petani yang meninggal kepada anak-anaknya, ikut pilih kemiskinan. Hasil pertanian tidak sanggup memenuhi kebutuhan harian keluarga. Faktor inilah yang memicu buruh tani terkait pada zamindar. Faktor lain, metode pengolahan tanah tetap tradisional. Belum tersedia gejala-gejala untuk pembaharuan pertanian. Secara religi yang menghindar pertumbuhan masyarakat, yakni kasta.

Perusahaan pertenunan dan kerajinan rumah tangga tetap tradisional, kurang berkembang dan tersaingi oleh barang-barang impor. Inggris yang berhasil didalam revolusi industri sesungguhnya tidak pas menjadikan India sebagai pasar hasil industrinya. India dikatakan miskin, tidak sanggup berbeli daya. Inggris dambakan menjadikan India sebagai batu loncatan untuk menguasai Tiongkok, yang penduduknya padat dan diinginkan sanggup berdaya beli. Keadaan India diperparah bersama dengan beredarnya candu dan nantinya meluas ke Tiongkok yang memicu Perang Candu.

Statifikasi masyarakat yang berdasarkan kasta, kerukunan desa dan adat-istiadat secara bertahap mengalami perubahan. Pemerintahan dan masyarakat Inggris di India mobilisasi rasionalisasi bersama dengan pola pikir Barat. Dari perubahan sosio-kultural tersebut, sering Inggris dituduh mengkristenkan India. Sementara itu mayoritas masyarakat dambakan mempertahankan adat-istiadat ketimuran, utamakan keluarga, kepuasan emosional dan agamis.

Sementara itu di masyarakat Hindu berkembang pemikiran, antara lain: harus pendidikan rohani, bagaimanakah sikap rakyat untuk menghadapi penjajahan Inggris, dan pentingkah mempertahankan hidup berlandaskan agama dan kebudayaan Hindu. Di kalangan terpelajar nampak anggapan bagaimana langkah mengakhiri penjajahan Inggris berlandaskan ajaran hindu dan bagaimana menumbuhkan kesadaran berbangsa untuk menambah kemakmuran  rakyat.

Pedagang Inggris di India pada periode 1600-1858 dilindungi oleh hak octroi oleh Ratu Inggris. Namun sejak Inggris berhasil memenangkan pembelian saham Terusan Suez, mulailah aktivitas imperialismenya dipantai utara Afrika, Timur Tengah dan lebih memantapkan kekuasaannya di India. Dari akrivitas perdagangan itu, sejak 1858 mulailah menambah kekuasaan politik Inggris di tanah India. Pantas disebut Inggris mobilisasi Imperialisme di India.

Di wajah sudah diungkap bahwa masyarakat India tidak pas untuk pasaran memproduksi industri Inggris. Kemelaratan mayoritas rakyat menyadari berdaya beli rendah. Klas atas, bangsawan dan brahmana, hidupnya makmur tapi jumlahnya relatif sedikit dan tertarik barang buatan Tiongkok. Menyadari hal tersebut, sejumlah pemikir dambakan pembaharuan Hindu untuk mengangkat derajat masyarakat India.

Baca Juga :

Prasangka, Diskriminasi dan Etnosentrisme

Prasangka, Diskriminasi dan Etnosentrisme

Prasangka, Diskriminasi dan Etnosentrisme

Prasangka berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta

yang relevan mengenai objek tersebut. Awalnya istilah ini merujuk pada penilaian berdasar ras seseorang sebelum memiliki informasi yang relevan yang bisa dijadikan dasar penilaian tersebut. Selanjutnya prasangka juga diterapkan pada bidang lain selain ras. Pengertiannya sekarang menjadi sikap yang tidak masuk akal yang tidak terpengaruh oleh alasan rasional

John E. Farley mengklasifikasikan prasangka ke dalam tiga kategori.

  • Prasangka kognitif, merujuk pada apa yang dianggap benar.
  • Prasangka afektif, merujuk pada apa yang disukai dan tidak disukai.
  • Prasangka konatif, merujuk pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak.

 

Beberapa jenis diskriminasi terjadi karena prasangka

dan dalam kebanyakan masyarakat tidak disetujui.

Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain.

Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku

antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi

Diskriminasi langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama.

Diskriminasi tidak langsung, terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan.Diskriminasi ditempat kerja

 

Diskriminasi dapat terjadi dalam berbagai macam bentuk:

  • dari struktur upah,
  • cara penerimaan karyawan,
  • strategi yang diterapkan dalam kenaikan jabatan, atau
  • kondisi kerja secara umum yang bersifat diskriminatif.

Diskriminasi di tempat kerja

berarti mencegah seseorang memenuhi aspirasi profesional dan pribadinya tanpa mengindahkan prestasi yang dimilikinya.

Teori statistik diskriminasi berdasar pada pendapat bahwa perusahaan tidak dapat mengontrol produktivitas pekerja secara individual. Alhasil, pengusaha cenderung menyandarkan diri pada karakteristik-karakteristik kasat mata, seperti ras atau jenis kelamin, sebagai indikator produktivitas, seringkali diasumsikan anggota dari kelompok tertentu memiliki tingkat produktivitas lebih rendah.

Baca Juga : 

PEMBELAJARAN TEKS DISKUSI

PEMBELAJARAN TEKS DISKUSI

PEMBELAJARAN TEKS DISKUSI

Kompetensi Dasar (KD)

3.2  Memahami struktur isi tentang teks diskusi.

Indikator

  1. Siswa mampu menyebutkan tentang struktur isi teks diskusi.
  2. Siswa mampu mengidentifikasi struktur isi pada suatu teks diskusi.
  3. Siswa mampu menyampaikan hasil identifikasi struktur isi teks diskusi secara lisan.

Tujuan Pembelajaran

  1. Peserta didik mampu menyebutkan tentang struktur isi teks diskusi.
  2. Peserta didik mampu mengidentifikasi struktur isi pada suatu teks diskusi.
  3. Peserta mampu menyampaikan hasil identifikasi struktur isi teks diskusi secara l

Pendalaman Materi

Tahukah kamu bahwa ditengah-tengah masyarakat banyak terjadi perbedaan pendapat dan permasalahan yang harus dipecahkan bersama? Kita tidak dapat membayangkan, misalnya di dalam masyarakat tidak ada permasalahan dan perbedaan pendapat. Di tengah-tengah masyarakat yang majemuk, perbedaan pendapat adalah hal yang biasa. Menghargai pendapat orang lain merupakan salah satu ciri karakter bangsa yang harus dijaga dan dipelihara. Kamu pasti tahu bahwa untuk menyelesaikan perbedaan itu perlu diadakan diskusi atau musyawarah.

Sebelum melakukan diskusi, kita sebaiknya mengidentifikasi teks diskusi dan menganalisis tentang struktur isi teks diskusi dulu ya.  Mari kita simak pembahasanya terlebih dahulu.

Pengertian Teks Diskusi

Diskusi merupakan salah satu bentuk kegiatan wicara. Dengan berdiskusi kita dapat memperluas pengetahuan serta memperoleh banyak pengalaman. Diskusi adalah pertukaran pikiran, gagasan, pendapat antara dua orang atau lebih secara lisan. Tujuan diskusi adalah mencari kesepakatan atau kesepahaman gagasan atau pendapat. Diskusi yang melibatkan beberapa orang disebut diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok dibutuhkan seorang pemimpin yang disebut ketua diskusi. Tugas ketua diskusi adalah membuka dan menutup diskusi, membangkitkan minat anggota untuk menyampaikan gagasan, menengahi anggota yang berdebat, serta menyimpulkan hasil diskusi.

Dapat disimpulkan bahwa teks diskusi adalah salah satu jenis teks yang memberikan dua pendapat mengenai suatu hal. Pendapat tersebut tentu ada yang selaras dan juga ada yang bertentangan. Jenis-jenis diskusi antara lain: seminar, sarasehan, simposium, diskusi panel, kongres, muktamar, lokakarya. Diskusi Kelompok perlu ada ketua atau moderator, notulis, dan beberapa peserta yang sekaligus sebagai penyaji maupun penyanggah. Penyaji tidak perlu menggunakan makalah atau kertas kerja. Pada akhir diskusi moderator menyampaikan hasil diskusi.

Struktur Isi Teks Diskusi

Struktur isi teks diskusi itu terdiri atas tiga bagian berikut : Isu (masalah), Argumen (pendapat), pendapat dibagi menjadi dua  yaitu pendapat yang mendukung, dan pendapat yang menentang. Bagian terakhir adalah simpulan/saran.

Pada bagan isu, penulis teks akan memperkenalkan isu yang akan dibahas. Isu atau masalah di dalam teks diskusi berisi masalah yang akan didiskusikan lebih lanjut. Jika ingin menulis sebuah teks diskusi, sebaiknya memilih topik permasalahan yang kontroversial sehingga nanti kamu memiliki banyak argumen, baik argumen yang mendukung maupun argumen yang menentang.

Pendapat yang mendukung (supporting points) berisi penjabaran lebih lanjut tentang isu yang sedang dibahas. Pada bagian itu penulis memaparkan argumen yang mendukung. Argumen itu didukung dengan fakta, data, pengalaman penulis, serta referensi yang berhubungan dengan isu yang dibahas.

Pendapat yang menentang (contrasting point) berisi argumen yang bertentangan dengan pendapat yang mendukung. Pada bagian itu penulis memaparkan argumen yang menentang. Argumen itu juga didukung dengan fakta, data, pengalaman penulis, serta referensi yang berhubungan dengan isu yang dibahas.

Pada bagian simpulan (conclusion), penulis menyimpulkan dan merekomendasikan posisi atau pendapat akhir penulis mengenai isu yang akan dibahas. Pada bagian itu, alangkah baiknya jika mengambil jalan tengah mengenai masalah yang sedang dibahas agar simpulan yang kamu ambil tidak lagi menimbulkan masalah baru.

 

Teknologi yang canggih seperti telepon seluler

televisi, dan internet dapat berdampak negatif ataupun positif. Pada pembahasan ini kamu diajak untuk mencermati, menganalisis, mengidentifikasi dan menyusun teks disksusi. Kali ini kamu akan diajak belajar tentang teks diskusi. Teks yang  akan disajikan adalah “Dampak Menonton Televisi bagi Remaja”. Untuk itu, kamu baca dan pahami teks diskusi berikut. Setelah memahami dan menyelesaikan pembelajaran pada bab ini, kamu diharapkan dapat menyebutkan struktur diskusi yang ada dalam teks terebut.

Soal Teks Diskusi

  1. Identifikasilah kalimat-kalimat di bawah ini kedalam struktur isi teks diskusi!
  2. Urutkan kalimat-kalimat yang telah diidentifikasi struktur isi teks diskusi menjadi urutan yang benar!

Dampak Menonton Televisi bagi Remaja

  1. Di dalam era globalisasi ini tayangan televisi sudah tidak bisa dihindari. Dengan menonton televisi, kita bisa memperoleh bermacam-macam informasi, termasuk di dalamnya hiburan. Pertanyaannya adalah adakah dampak negatif yang ditimbulkan dari menonton televisi? Sebagian masyarakat menganggap bahwa menonton televisi berdampak positif, tetapi banyak juga masyarakat yang menganggap bahwa menonton televisi berdampak negatif.
  1. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa televisi mempunyai dampak positif atau negatif. Hal itu bergantung pada penonton televisi
  1. Dampak positif dari menonton televisi adalah sebagai berikut:
    1. Televisi memiliki kelebihan dalam hal penyajian berita, televisi umumnya selalu up to date. Hal ini tentu akan membuat remaja tidak ketinggalan informasi dan memberikan wawasan yang cukup luas pada remaja secara cepat.
    2. Jika televisi menyajikan acara-acara yang berhubungan dengan pendidikan, hal ini tentu sangat berguna bagi para pelajar. Seorang pelajar bisa mengambil manfaat berupa informasi pendidikan dari acara televisi tersebut.
    3. Pengaruh positif televisi lainnya adalah remaja bisa menyegarkan otak dengan menonton beragam tayangan hiburan yang disajikan oleh stasiun televisi. Mulai dari acara kuis, film, sinetron, atau hiburan-hiburan yang lain.
    4. Acara televisi sering menayangkan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh, baik dalam dunia pendidikan, dunia usaha, hiburan, atau yang lainnya. Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam televisi ini bisa memicu remaja untuk mencontoh kesuksesan mereka.
  1. Sementara itu, dampak negatif dari menonton televisi adalah sebagai berikut :
    1. Televisi membuat remaja lupa waktu. Bagi pelajar, kecanduan nonton televisi menjadi kontraproduktif dengan tugas seorang pelajar yang kewajibannya belajar.
    2. Banyaknya acara-acara yang kurang mendidik di televisi bisa mempengaruhi kejiwaan remaja. Film-film yang menampilkan adegan tidak layak ditonton remaja tanpa ada sensor sangat mudah ditiru oleh remaja.
    3. Televisi mampu meningkatkan daya konsumtif remaja. Karena televisi merupakan media iklan yang memiliki pengaruh tinggi terhadap konsumennya. Iklan yang ditayangkan secara terus menerus sepanjang hari, remaja untuk untuk membeli produk yang dipromosikan oleh produsen.
    4. Banyak acara televisi yang isinya kurang sesuai dengan norma masyarakat Indonesia, termasuk juga dengan berita-berita yang kerap menayangkan kekerasan tanpa disensor terlebih dahulu. Acara demikian jika ditonton oleh remaja yang notabene suka meniru, tentu bisa ditiru oleh mereka.

Sumber : https://uberant.com/article/556677-what-is-geography-concept-/

Implikasi Aspek-Aspek Perkembangan bagi Penyelenggara Pendidikan

Implikasi Aspek-Aspek Perkembangan bagi Penyelenggara Pendidikan

Implikasi Aspek-Aspek Perkembangan
Implikasi Aspek-Aspek Perkembangan

Aspek-aspek perkembangan peserta didik yang berimplikasi terhadap proses pendidikan akan diuraikan seperti di bawah ini.

  1. Implikasi Perkembangan Biologis dan Perseptual

Di sinilah kita melihat bahwa perkembangan fisik peserta didik memegang peranan yang penting terhadap pendidikan. Dengan demikian, jelaslah bahwa perbedaan perkembangan fisik harus dihadapi dengan cara yang tepat oleh para pendidik.

Meskipun tidak sepesat pada masa usia dini, perkembangan biologis maupun perseptual anak terus berlangsung. Pemahaman tentang karakteristik per-kembangan akhirnya membawa beberapa implikasi bagi penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar. Implikasi-imlikasi dimaksud khususnya berkenaan dengan penyelenggaraan pembelajaran secara umum, pemeliharaan kesehatan dan nutrisi anak, pendidikan jasmani dan kesehatan, serta penciptaan lingkungan dan pembiasaan berperilaku sehat.

  1. Implikasi Perkembangan Intelektual

Perkembangan intelektual erat kaitannya dengan potensi otak manusia. Menurut Widiasmadi (2010:55), potensi otak manusia hanya tampak delapan persen sebagai pikiran sadar,sedangkan sisanya 92 persen disebut alam bawah sadar. Untuk itu, perkembangan intelektual pada peserta didik perlu dikembangkan.

Proses perkembangan intelektual menurut pendapat Budiamin, dkk. (2009:5) melibatkan perubahan dalam kemampuan dan pola berpikir, kemahiran berbahasa, dan cara individu memperoleh pengetahuan dari lingkungannya. Aktivitas-aktivitas seperti mengamati dan mengklasifikasikan benda-benda, menyatukan beberapa kata menjadi satu kalimat, menghapal doa, memecahkan soal-soal matematika, dan menceritakan pengalaman kepada orang lain merupakan peran proses intelektual dalam perkembangan anak.

  • Perkembangan Bahasa

Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pada dasarnya bahasa sebagai alat komunikasi tidak hanya berupa bicara, melainkan juga dapat diwujudkan dengan tanda isyarat tangan atau anggota tubuh lainnya yang memiliki aturan sendiri. Budiamin, dkk. (2009:117) kemudian memaparkan implikasi perkembangan bahasa pada peserta didik. Lihat pula Depdikbud (1999: 147).

  1. Apabila kegiatan pembelajaran yang diciptakan bersifat efektif, maka perkembangan bahasa peserta didik dapat berjalan secara optimal.
  2. Bahasa adalah alat komunikasi yang paling efektif dalam pergaulan sosial.
  3. Meskipun umumnya anak SD memiliki kemampuan potensial yang berbeda-beda, namun pemberian lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa sejak dini sangat diperlukan.
  • Perkembangan Kreativitas

Menurut pendapat Galdner (Depdikbud, 1999:88), kreativitas merupakan suatu aktivitas otak yang terorganisasikan, komprehensif, dan imajinatif tinggi untuk menghasilkan sesuatu yang orisinil. Oleh karena itu, kreativitas lebih dikatakan sebagai suatu yang lebih inovatif daripada reproduktif.

Oleh sebab itu, Treffinger (Depdikbud, 1999:105) mengemukakan sejumlah pengalaman belajar yang dapat dikembangkan oleh pendidik agar mampu mendorong kreativitas peserta didik, khususnya dalam proses pembelajaran. Hal tersebut antara lain guru diharapkan dapat menyajikan materi pembelajaran, menyiapkan berbagai media, menggunakan pendekatan pembelajaran yang memungkinkan posisi peserta didik sebagai subjek daripada objek pembelajaran, serta mengadakan evaluasi yang tepat sehingga mampu mendukung pengembangan kreativitas peserta didik.

  1. Implikasi Perkembangan Sosial

Manusia menurut pembawaannya adalah makhluk sosial. Sejak dilahirkan, bayi sudah termasuk ke dalam masyarakat kecil yang disebut keluarga. Ketika kecil, mulanya anak-anak hanya mempunyai hak saja. Di dalam rumah tangga ia mempunyai hak untuk dipelihara dan dilindungi oleh orang tuanya. Namun, lama-kelamaan keadaan itu berubah. Anak-anak yang pada mulanya hanya mempunyai hak saja, berangsur-angsur mempunyai kewajiban.

Dilihat dari pemahaman terhadap aspek perkembangan sosial pada peserta didik, terdapat beberapa implikasi menurut Budiamin, dkk. (2009:128), yaitu: (1) untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyadari dan menghayati pengalaman sosialnya, dapat dilakukan aktivitas-aktivitas bermain peran yang ditindaklanjuti dengan pembahasan di antara mereka; (2) keberadaan teman sebaya bagi anak usia sekolah dasar merupakan hal yang sangat berarti, bukan saja sebagai sumber kesenangan bagi anak melainkan dapat membantu mengembangkan banyak aspek perkembangan anak. Ini mengimplikasikan perlunya aktivitas-aktivitas pendidikan yang memberikan banyak kesempatan kepada peserta didik untuk berdialog dengan sesamanya.

Sumber : https://uberant.com/article/556675-chemical-periodic-table-system/

DPR: Pemerintah Tak Punya Konsep Matang Soal Sekolah 5 Hari

DPR: Pemerintah Tak Punya Konsep Matang Soal Sekolah 5 Hari

DPR Pemerintah Tak Punya Konsep Matang Soal Sekolah 5 Hari
DPR Pemerintah Tak Punya Konsep Matang Soal Sekolah 5 Hari

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy tidak memiliki konsep matang

terhadap programnya. Yakni soal program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang baru saja dikeluarkan peraturan menterinya kemarin, Selasa (12/6).

Adapun pandangan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR Ledia Hanifa Amaliah. “Secara umum saya memandang pemerintah belum punya konsep delapan jam di sekolah ini. Jadi akhirnya muncul berbagai statement yang nggak jelas,” tegasnya kepada JawaPos.com, Rabu (14/6).

Lebih lanjut dia menerangkan, pendidikan agama sebagai basis pendidikan karakter t

entu tidak mungkin dihilangkan. Sebab, kata Ledia, memastikan sisa jam belajar anak masuk ke madrasah atau sekolah agama lainnya tidak menjelaskan siapa yang diberi tugas untuk memantaunya.

“Juga urusan-urusan teknis lain yang belum terpikirkan seperti jarak ke rumah dan keamanan anak,” tukas dia.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mencanangkan program PPK. Dimana sekolah nantinya akan berlangsung lima hari saja. Namun, jam sekolah diperpanjang menjadi delapan jam.

Di dalam program tersebut, Muhadjir secara spesifik mengusulkan, nilai agama

yang ada di sekolah cukup diambil dari lembaga pendidikan agama di luar sekolah, misalnya, dari Madrasah Diniyah. Bahkan dia berpendapat pelajaran agama di sekolah tidak diperlukan lagi.

“Kalau diniyah ada di situ mungkin pelajaran agama di sekolah tidak diperlukan lagi. Kita ingin perkuat keagamaan dengan fungsikan gereja, pura, diniyah,” pungkasnya dalam rapat kerja bersama komisi X DPR saat menjelaskan program Pendidikan Penguatan Karakter (PPK) kemarin.

 

Baca Juga :

 

 

Mendikbud: Tidak Berarti Siswa Belajar 8 Jam di Dalam Kelas

Mendikbud: Tidak Berarti Siswa Belajar 8 Jam di Dalam Kelas

Mendikbud Tidak Berarti Siswa Belajar 8 Jam di Dalam Kelas
Mendikbud Tidak Berarti Siswa Belajar 8 Jam di Dalam Kelas

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi menilai sudah ada persepsi yang salah di tengah masyarakat.

Yakni terkait rencana penerapan sekolah lima hari seminggu dengan durasi waktu delapan jam sehari atau yang disebut penguatan pendidikan karakter (PPK).

Kata dia, delapan jam tidak berarti para siswa nantinya selama itu berada di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran. “Saya tegaskan, delapan jam itu tidak berarti anak ada di kelas,” lugasnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/6).

Pelajaran pun lanjut dia, tetap mengacu pada kurikulum 2013

. Hanya saja nanti diperbanyak dengan kegiatan kokurikuler. Itu sebagai pemenuhan dari visi presiden yang menetapkan bahwa pada level pendidikan dasar sampai SMP diperkuat atau diperbanyak pada pembentukan karakter dan penanaman budi pekerti.

Artinya, ada kegiatan belajar mengajar di luar kelas. “Bahkan di luar sekolah. Yang penting tetap menjadi tanggung jawab sekolah,” jelas Muhadjir.

Dia menerangkan, kegiatan kokurikuler itu diusahakan mencapai 60 hingga 70 persen. Sehingga kegiatan transfer pengetahuan yang dilakukan guru sekitar 30 persen saja. “Sisanya hanya aktivitas murid di dalam membentuk karakter yang bersangkutan,” tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Salah satu upaya membentuk karakter siswa yakni membantu orang tua.

Termasuk membantu orang tua di sawah.

Namun, tanggung jawab penilaian tetap dilakukan oleh guru. “Iya (itu) bagian dari proses pembentukan karakter bersangkutan, nilai bagian yang dipantau guru.

Ya, guru sebagai pengajar menurut Muhadjir juga berperan sebagai katalisator. Dia harus bisaa menggali potensi anak atau kemampuan anak secara spesifik.

“Siapa tahu itu bisa bibit pengusaha besar. Bisa diarahkan anak sejak dini. Menggali potensi anak sejak dini,” imbuhnya.

Sementara Muhadjir menambahkan, program PPK sudah menetapkan 5 karekter prioritas dari 18 karakter yang ada. “Masalah keagamaan atau religiusitas, gotong royong, integritas, pribadi atau jujur, toleransi,” pungkasnya

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/372235/chemical-periodic-table-system.html

Tegas! Mendikbud Minta Baca Permen Dulu Sebelum Mengkritik

Tegas! Mendikbud Minta Baca Permen Dulu Sebelum Mengkritik

Tegas! Mendikbud Minta Baca Permen Dulu Sebelum Mengkritik
Tegas! Mendikbud Minta Baca Permen Dulu Sebelum Mengkritik

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy gerah mendapat kritik tajam

dari komisi X DPR dalam rapat yang diselenggarakan hari ini, Selasa (13/6). Khususnya terkait sekolah lima hari seminggu dengan durasi waktu delapan jam per hari.

Kalangan DPR menyebut wacana tersebut sebagai Full Day School. Namun kata Muhadjir, tidak perlu memakai istilah itu. “Jangan pakai Full Day School karena menyesatkan. Itu program penguatan pendidikan karakter atau PPK,” tegasnya kepada anggota komisi X DPR yang hadir di dalam ruang rapat, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/6).

Adapun program yang muncul pada tahun lalu itu sejatinya belum dihentikan. Kata dia, keputusan rapat terbatas kabinet kala itu meminta dirinya untuk melakukan uji coba terlebih dahulu di 1500 sekolah.

Tahun ini pun mereka menargetkan 5000 sekolah untuk diuji coba

. Namun bertambah menjadi 9000-an sekolah karena ada yang suka rela untuk memberlakukan sekolah selama lima hari itu. “Ada sebelas kabupaten kota yang sukarela berlakukan seluruhnya,” tuturnya.

Atas dasar itu Kemendikbud lantas memandang perlu mengeluarkan peraturan menteri yamg mengakomodasi penyelennggaran program PPK. Permennya, baru bisa dikeluarkan Kementerian Hukum dan HAM hari ini.

Karenanya, Muhadjir memandang aneh ketika banyak kritik dari sejumlah kalangan

, padahal aturannya saja pun belum dibuat. “Yang sebelumnya diperbincangkan itu saya tidak tahu bahannya dari mana. Mestinya kalau ingin mengkritisi, mempersoalkan, harus baca peraturan menterinya dulu. Tadi sudah turun nanti kami akan sahkan,” kritiknya balik.

Karena itu, dia meminta supaya semua pihak lebih baik membaca terlebih dahulu peraturan menteri yang akan dikeluarkannya nanti mengenai PPK ini. Dia yakin, setelah dibaca, pihak-pihak yang sebelumnya mengkritisi pasti akan paham maksud dan tujuan dari aturan tersebut.

“Sekali lagi saya mohon maaf. Saya paham banyak polemik yang tidak proporsional karena memang belum ada payung hukum selain sosialisasi kami yang sangat terbatas,” pungkas pengganti Anies Baswedan itu.

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/372234/examples-explanatory-texts-definition-structure.html

Tahap-Tahap Sosialisasi

Tahap-Tahap Sosialisasi

Tahap-Tahap Sosialisasi
Tahap-Tahap Sosialisasi

Menurut tahapannya sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder.

a. Sosialisasi primer

Merupakan sosialisasi yang pertama dijalani oleh individu semasa kecil, dimana ia menjadi anggota masyarakat; dalam tahap ini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak dan keluargalah yang berperan sebagai agen sosialisasi.

b. Sosialisasi sekunder

Didefinisikan sebagai proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya; dalam tahap ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalisme; dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga.

Sosialisasi bisa berlangsung secara tatap muka

tapi bisa juga dilakukan dalam jarak tertentu melalui sarana media, atau surat menyurat, bisa berlangsung secara formal maupun informal, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sosialisasi dapat dilakukan demi kepentingan orang yang disosialisasikan ataupun orang yang melakukan sosialisasi, sehingga kedua kepentingan tersebut bisa sepadan ataupun bertentangan.

Dalam masyarakat yang homogen, proses sosialisasi bisa berjalan dengan serasi menurut pola yang sama, karena nilai-nilai yang ditransmisikan dalam proses sosialisasi sama. Namun dalam masyarakat yang heterogen di mana terdapat banyak kelompok dengan nilai-nilai yang tidak sepadan dalam mempengaruhi individu, maka proses sosialisasi tidak berlangsung seperti dalam masyarakat yang homogen. Sama seperti dalam kelompok primer, agen sosialisasi hanya terbatas pada anggota keluarga, sedang pada sosialisasi sekunder terdapat banyak agen sosialisasi diluar keluarga yang menanamkan nilai-nilai yang berbeda dengan nilai yang ada dalam keluarga, bahkan kadang-kadang bertetangan. Dalam situasi demikian, seseorang dapat mengalami proses yang disebut desosialisasi, yaitu proses “pencabutan” diri yang dimiliki seseorang, yang kemudian disusul dengan resosialisasi, dimana seseorang diberikan suatu diri yang baru yang tidak saja berbeda tetapi juga tidak sepadan.

Bentuk sosialisasi sekunder lainnya adalah

anticipatory socialization merupakan persiapan seseorang untuk peranan yang baru. Sosialisasi antisipatoris ini mendahului perubahan status dari suatu kelompok ke kelompok lain, atau dari suatu jenjang pendidikan/pekerjaan ke jenjang yang lebih tinggi. Sosialisasi antisipatoris ini juga dialami ketika seseorang yang baru lulus sarjana akan memasuki dunia kerja dan sebagainya.

Sumber : https://situs-pendidikan-online.fandom.com/id/wiki/User_blog:Ahmadali88/Rumus_Balok

Pola Sosialisasi

Pola Sosialisasi

Pola Sosialisasi

Dalam lingkungan keluarga terdapat dua macam pola sosialisasi, yaitu sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatif.

a. Sosialisasi represif (repressive socialization)

Sosialisasi represif mengutamakan adanya ketaatan anak pada orang tua. Sosialisasi dengan pola ini menekankan penggunaan hukuman terhadap kesalahan yang dilakukan anak. Sosialisasi semacam ini menunjukkan adanya komunikasi yang sifatnya satu arah, yaitu terletak pada keinginan orang tua saja.

Ciri-ciri sosialisasi represif antara lain sebagai berikut:

1) Menghukum perilaku yang keliru.
2) Keluarga didominasi orang tua.
3) Hukuman dan imbalan material.
4) Anak memperhatikan keinginan orang tua.
5) Kepatuhan anak.
6) Sosialisasi berpusat pada orang tua.
7) Komunikasi nonverbal.
8) Komunikasi sebagai perintah.

b. Sosialisasi partisipatif/partisipatoris (participatory socialization)

Sosialisasi partisipatif mengutamakan adanya partisipasi dari anak memberikan apa yang diminta anak apabila anak berperilaku baik. Penekanannya pada interaksi anak yang menjadi pusat sosialisasi dan kebutuhannya. Komunikasi yang terjalin adalah komunikasi dua arah, sehingga terjalin pengertian antara orang tua dan anak.

Ciri sosialisasi partisipatif antara lain sebagai berikut;

1) Memberikan imbalan bagi perilaku yang baik.
2) Orang tua memperhatikan keinginan anak.
3) Keluarga merupakan generalize other (kerja sama ke arah tujuan).
4) Otonomi anak.
5) Sosialisasi berpusat pada anak.
6) Komunikasi sebagai interaksi
7) Komunikasi verbal.
8) Hukuman dan imbalan simbolis.

Sumber : http://ecole-dragontigre.kazeo.com/ciri-ciri-teks-eksplanasi-a165655892

Dubes RI untuk India Mengunjungi Menteri Pendidikan Bhutan

Dubes RI untuk India Mengunjungi Menteri Pendidikan Bhutan

Dubes RI untuk India Mengunjungi Menteri Pendidikan Bhutan
Dubes RI untuk India Mengunjungi Menteri Pendidikan Bhutan

Duta besar RI untuk India, Sidharto Suryodipuro melakukan kunjungan resmi ke Menteri Pendidikan Bhutan,

Lyonpo Norbu Wangchuk, di Thimphu, Bhutan, pada Rabu (15/11). Dengan pengalaman sebelumnya sebagai Menteri Urusan Ekonomi, Menteri Wangchuk memiliki perspektif kebijakan peningkatan pendidikan yang utuh, khususnya sejalan dengan kebijakan ekonomi.

’’Saya kira kebijakan Indonesia yang menganggarkan 20 persen dana APBN untuk pendidikan dan dinyatakan melalui UU itu kebijakan yang bagus,’’ ujarnya.

Warga Bhutan sendiri, kebanyakan tinggal tersebar di desa-desa kecil dan terletak terpencil

di pegunungan Himalaya yang tak terlalu mudah dicapai. Di desa-desa itu, dibangun village school atau sekolah desa. Namun, permasalahan penyediaan guru andal, fasilitas belajar, serta komunikasi tak mudah diatasi. Permasalahan serupa juga dihadapi Indonesia dengan pulau-pulau terpencilnya serta desa di pedalaman Sumatra sampai Papua.

Kendala di kedua negara, seperti keterbatasan infrastruktur dan dana di desa-desa terpencil,

juga nyaris sama. Kedua negara membutuhkan solusi cerdas dengan biaya hemat.

Dengan kemiripan tantangan pendidikan yang dihadapi, Dubes Arto Suryodipuro bersama Menteri Norbu Wangchuk mengharapkan ada upaya nyata oleh pendidik Indonesia bersama pendidik Bhutan untuk berinovasi guna menemukan solusinya.

Melalui pengembangan sistem pelatihan guru, penciptaan metodologi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi, dan kebijakan pendidikan terkait lainnya, Bhutan memiliki harapan besar atas terwujudnya kerja sama pendidikan dengan Indonesia. (*)

 

Baca Juga :