Anak dan Keponakan Tidak Bisa Sekolah, Puluhan Warga Blokade Pintu Masuk SMAN 5 Bukittinggi

Anak dan Keponakan Tidak Bisa Sekolah, Puluhan Warga Blokade Pintu Masuk SMAN 5 Bukittinggi

Anak dan Keponakan Tidak Bisa Sekolah, Puluhan Warga Blokade Pintu Masuk SMAN 5 Bukittinggi
Anak dan Keponakan Tidak Bisa Sekolah, Puluhan Warga Blokade Pintu Masuk SMAN 5 Bukittinggi

Puluhan orang yang mengatasnamakan diri mereka sebagai Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan

, menutup dan memblokade gerbang sekolah SMAN 5 Bukittinggi, Senin 3 Juli 2017.

Karena diblokade, ratusan siswa di sekolah itu terpakasa tak bisa mengikuti proses belajar mengajar dihari pertama mereka sekolah setelah libur Lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah.” Kami terpaksa melakukan penutupan dan blokade di sekolah ini, karena anak dan keponakan kami yang merupakan warga lokal dan berjumlah sekitar 40 orang tidak bisa diterima karena kebijakan dari Provinsi Sumbar dalam mengatur kuota penerimaan siswa yang diterima di sekolah ini. Tentu saja, selama tuntutan kami tak di penuhi oleh pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sumbar, mohon maaf dengan sangat terpaksa kami tidak mengizinkan adanya kegiatan di sekolah ini,” kata juru bicara aksi, Ibra Yaser pada gosumbar.

“Padahal, saat awal pembangunan sekolah SMA 5 ini, mantan Walikota Bukittinggi

yang kala itu dijabat oleh Djufri berjanji agar anak keponakan, terutama warga Garegeh dan Koto Selayan diprioritaskan diterima di sekolah ini. Bila di sekolah ini tak mau menerima anak dan keponakan kami, maka silakan bawa saja bangunan sekolah ini ke Pemerintah Provinsi di Padang karena zina sekolah ini adalah kampung kami,” ungkap Ibra.

Selain menutup sekolah, para pelaku aksi juga terlihat membawa belasan poster yang bertuliskan

, menolak prosedur kebijakan penerimaan siswa SMAN pada tahun ini. Bahkan dalam aksi itu, Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan juga menutup gerbang pintu masuk menuju SMAN 5 Bukittinggi dengan menggunakan sebuah mobil, sehingga siswa tak bisa memasuki areal sekolah itu dan akhirnya pihak sekolah memulangkan para siswa yang tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar pada awal mereka sekolah.

 

Baca Juga :