Tawuran di Depok Terus Terjadi, Ekstrakurikuler dan Guru Jadi Kunci

Tawuran di Depok Terus Terjadi, Ekstrakurikuler dan Guru Jadi Kunci

Tawuran di Depok Terus Terjadi, Ekstrakurikuler dan Guru Jadi Kunci

Tawuran di Depok Terus Terjadi, Ekstrakurikuler dan Guru Jadi Kunci

Tawuran di Depok Terus Terjadi, Ekstrakurikuler dan Guru Jadi Kunci

Tawuran antarpelajar di Depok masih belum menemui ujung pangkal

. Peristiwa terakhir terjadi Senin 13 Desember 2020. Diawali aksi saling ejek saat berpapasan di jalanan, tawuran pecah hingga berlanjut ke dalam pusat perbelanjaan.

Menurut pengamat sosial Universitas Indonesia, Devie Rachmawati, pelajar yang turun ke jalanan untuk tawuran adalah mereka yang merasa terpinggirkan di sekolah.

“Motivasi mereka tawuran sebenarnya bukan untuk menghabisi orang lain

atau membuat kekacauan. Namun, menunjukkan bahwa misalnya, ‘saya hebat, saya terkenal’ karena bisa membacok kuping orang sebanyak sepuluh kali dalam sehari,” kata dia di Kantor Program Vokasi Universitas Indonesia, Rabu 15 Januari 2020.

Baca Juga: Tawuran di Depok Dipicu Kurangnya Penghargaan terhadap Perbedaan Bakat dan Minat Pelajar

Baca Juga: Di Antara Tawaran Klub Lain, Kiper Timnas Indonesia Teja

Paku Alam Pilih Persib

“Hal itu kemduian dianggap reputasi, karena meraih reputasi dalam lingkup sekolah amatlah sulit bagi mereka,” tuturnya.

Sistem pendidikan di Indonesia, kata Devie, sudah seharusnya lebih inkluisif dengan memberi ruang kepada siapa saja untuk bisa menunjukkan eksistensi dan dihargai.

Salah satu caranya, memperbanyak ekstrakurikuler yang merangkul kebutuhan pelajar.

“Ekstrakurikuler di sekolah-sekolah Eropa jumlahnya bisa ratusan, tujuannya cuma satu: pelajar bisa bebas berekspresi sesuai minat dan bakatnya,” katanya.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/