Kepemilikan Negara (al-Milkiyah Daulah)

Kepemilikan Negara (al-Milkiyah Daulah)

Kepemilikan negara adalah izin dari Syaari’ atas setiap harta yang hak

pemanfaatannya berada di tangan negara. Misalnya harta ghanimah, fa’i, khumus,

kharaj, jizyah 1/5 harta rikaz, ushr, harta orang murtad, harta orang yang

tidak memiliki ahli waris, dan tanah milik negara. Milik negara digunakan untuk

berbagai keperluan yang menjadi kewajiban negara seperti menggaji pegawai,

keperluan jihad dan sebagainya.

  1. Pemanfaatan Kepemilikan (al-Tasharuf al-Milkiyah)

Kejelasan konsep kepemilikan sangat berpengaruh terhadap konsep pemanfaatan

harta milik (tasharuf al-mal), yakni siapa sesungguhnya yang berhak mengelola

dan memanfaatkan harta tersebut Pemanfaatan pemilikan adalah cara -sesuai hukum

syara. seorang muslim memperlakukan harta miliknya. Pemanfaatan harta dibagi

menjadi dua topik yang sangat penting, yakni: (1) Pengembangan harta (tanmiyatu

al-mal), dan (2) infaq harta (infaqu al-mal).

  1. a)            Pengembangan Harta (Tanmiyatu al-Mal)

Pengembangan harta adalah upaya-upaya yang berhubungan dengan cara dan sarana yang dapat menumbuhkan pertambahan harta.

Islam hanya mendorong pengembangan harta sebatas pada sektor riil saja; yakni

sektor pertanian, industri dan perdagangan. Islam tidak mengatur secara teknis

tentang budidaya tanaman; atau tentang teknik rekayasa industri; namun Islam

hanya mengatur pada aspek hukum tentang pengembangan harta.

Demikian pula dalam hal perindustrian, Islam juga mengatur hukum

produksi barang, manajemen dan jasa, semisal hukum perjanjian dan pengupahan.

Islam melarang beberapa aktivitas-aktivitas pengembangan harta, misalnya, riba

nashi’ah pada perbankan, dan riba fadhal pada pasar modal. Menimbun, monopoli,

judi, penipuan dalam jual beli, jual beli barang haram dan sebagainya.

  1. b)            Infaq Harta (Infaqu al-Mal)

Infaq harta adalah pemanfaatan harta dengan atau tanpa ada kompensasi atau

perolehan balik. Islam mendorong ummatnya untuk menginfaqkan hartanya untuk kepentingan umat yang lain terutama pihak yang sangat membutuhkan. Islam tidak hanya mendorong kaum muslim untuk memanfaatkan hartanya dengan kompensasi atau perolehan balik yang bersifat materi saja, akan tetapi juga mendorong ummatnya untuk memperhatikan dan menolong pihak-pihak yang memperhatikan dan menolong pihak-pihak yang membutuhkan, serta untuk kepentingan ibadah, misalnya zakat, nafkah anak dan istri, dorongan untuk memberi hadiah, hibah, sedekah pada fakir miskin dan orang yang memerlukan (terlibat hutang, keperluan pengobatan dan musibah), infaq untuk jihad fii sabilillah.

  1. Konsep Distribusi Kekayaan (Tauzi al-Tsarwah)

Islam telah menetapkan sistem distribusi kekayaan diantara manusia dengan cara

 

sebagai berikut:

Sumber :

https://callcenters.id/