Promosi pada hakekatnya

Promosi pada hakekatnya

Promosi pada hakekatnya
Promosi pada hakekatnya

Promosi pada hakekatnya adalah suatu komunikasi pemasaran, artinya aktifitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan, Tjiptono (2001 : 219).
Sementara Sistaningrum (2002 : 98) mengungkapkan arti promosi adalah suatu upaya atau kegiatan perusahaan dalam mempengaruhi ”konsumen aktual” maupun ”konsumen potensial” agar mereka mau melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan, saat ini atau dimasa yang akan datang. Konsumen aktual adalah konsumen yang langsung membeli produk yang ditawarkan pada saat atau sesaat setelah promosi produk tersebut dilancarkan perusahaan. Dan konsumen potensial adalah konsumen yang berminat melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan perusahaan dimasa yang akan datang.

Adapun tujuan dari pada perusahaan melakukan promosi menurut Tjiptono (2001 : 221) adalah menginformasikan (informing), mempengaruhi dan membujuk (persuading) serta mengingatkan (reminding) pelangggan tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Sistaningrum (2002 : 98) menjelaskan tujuan promosi adalah empat hal, yaitu memperkenalkan diri, membujuk, modifikasi dan membentuk tingkah laku serta mengingatkan kembali tentang produk dan perusahaan yang bersangkutan.
Pada prinsipnya antara keduanya adalah sama, yaitu sama-sama menjelaskan bila produk masih baru maka perlu memperkenalkan atau menginformasikan kepada konsumen bahwa saat ini ada produk baru yang tidak kalah dengan produk yang lama. Setelah konsumen mengetahui produk yang baru, diharapkan konsumen akan terpengaruh dan terbujuk sehingga beralih ke produk tersebut. Dan pada akhirnya, perusahaan hanya sekedar mengingatkan bahwa produk tersebut tetap bagus untuk dikonsumsi. Hal ini dilakukan karena banyaknya serangan yang datang dari para pesaing.
Dalam melakukan promosi agar dapat efektif perlu adanya bauran promosi, yaitu kombinasi yang optimal bagi berbagai jenis kegiatan atau pemilihan jenis kegiatan promosi yang paling efektif dalam meningkatkan penjualan. Ada empat jenis kegiatan promosi, antara lain : (Kotler, 2001:98-100)
1. Periklanan (Advertising), yaitu bentuk promosi non personal dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
2. Penjualan Tatap Muka (Personal Selling), yaitu bentuk promosi secara personal dengan presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
3. Publisitas (Publisity), yaitu suatu bentuk promosi non personal mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat ilmiah).
4. Promosi Penjualan (Sales promotion), yaitu suatu bentuk promosi diluar ketiga bentuk diatas yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
5. Pemasaran Langsung (Direct marketing), yaitu suatu bentuk penjualan perorangan secara langsung ditujukan untuk mempengaruhi pembelian konsumen.

Promosi penjualan yang dilakukan oleh penjual dapat dikelompokkan berdasar tujuan yang ingin dicapai. Pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Customer promotion, yaitu promosi yang bertujuan untuk mendorong atau merangsang pelanggan untuk membeli.
2. Trade promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk merangsang atau mendorong pedagang grosir, pengecer, eksportir dan importir untuk memperdagangkan barang / jasa dari sponsor.
3. Sales-force promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk memotivasi armada penjualan.
4. Business promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk memperoleh pelanggan baru, mempertahankan kontrak hubungan dengan pelanggan, memperkenalkan produk baru, menjual lebih banyak kepada pelanggan lama dan mendidik pelanggan.
Namun yang jelas apapun jenis kebutuhan yang akan diprogramkan untuk dipengaruhi, tetap pada perencanaan bagaimana agar perusahaan tetap eksis dan berkembang. Apalagi jika perusahaan tersebut mempunyai lini produk lebih dari satu macam.

Ada 3 gagasan utama dalam perencanaan bisnis yang dikemukakan oleh Kotler-AB. Susanto (2000 : 80) ;
1. Bahwa bisnis perusahaan seharusnya seperti ” Portofolio Investment ”, yaitu
perlu diputuskan bisnis mana yang dapat dikembangkan, dipertahankan, dikurangi atau bahkan mungkin dihentikan. Karena tiap bisnis memiliki keuntungan masing-masing dan sumber daya perusahaan harus dikelola sesuai dengan potensi yang menguntungkan.
2. Berorientasi pada potensi keuntungan di masa depan dengan mempertimbangkan tingkat pertumbuhan pasar dan posisi serta kesesuaian perusahaan. Tidak cukup dengan mengandalkan penjualan dan keuntungan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya sebagai panduan.
3. Strategi. Perusahaan harus memiliki dan menetapkan rencana kerja untuk mencapai sasaran jangka panjang dengan melihat posisi industri (lihat Identifikasi Pesaing), sasaran, peluang keahlian serta sumber daya perusahaan.
Di samping tiga gagasan utama di atas, perlu pula dilakukan analisa atau pendekatan-pendekatan untuk menanggapi adanya perubahan-perubahan pada kondisi pasar yang bisa berdampak pada faktor biaya, Tjiptono (2000 : 7- 8).
Sehingga dengan melakukan analisa dapat dilakukan antisipasi agar tidak kel

Baca Juga :

dua cara memahami earning management

dua cara memahami earning management

dua cara memahami earning management
dua cara memahami earning management

Ada dua cara memahami earning management (Sari, 2005), yaitu sebagai berikut:
1. Memandang earning management sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, utang, dan kos politik.
2. Memandang earning management dari perspektif kontrak efisien, artinya earning management memberi fleksibilitas bagi manajer untuk melindungi diri dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer mungkin dapat mempengaruhi nilai pasar perusahaannya melalui earning management.
Menurut Watt dan Zimmerman (yang dikutip oleh Indarti et. al., 2004) tujuan yang akan dicapai oleh manajemen melalui earning management meliputi: mendapatkan bonus dan kompensasi lainnya, mempengaruhi keputusan pelaku pasar modal, menghindari biaya politik.
Berdasarkan pertimbangan biaya dan manfaat, manajemen diperbolehkan memilih dan menerapkan metode-metode akuntansi. Hal ini menjadi penyebab utama manajer melakukan earning management. Menurut Scott (2003:377) beberapa motivasi yang mendorong manajemen melakukan earning management, antara lain sebagai berikut:
1. Motivasi bonus, yaitu manajer akan berusaha mengatur laba bersih agar dapat memaksimalkan bonusnya.
2. Motivasi kontrak, berkaitan dengan utang jangka panjang, yaitu manajer menaikkan laba bersih untuk mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami technical default.
3. Motivasi politik, aspek politis ini tidak dapat dilepaskan dari perusahaan, khususnya perusahaan besar dan industri strategis karena aktivitasnya melibatkan hajat hidup orang banyak.
4. Motivasi pajak, pajak merupakan salah satu alasan utama perusahaan mengurangi laba bersih yang dilaporkan.
5. Pergantian CEO (Chief Executive Officer), banyak motivasi yang timbul berkaitan dengan CEO, seperti CEO yang mendekati masa pensiun akan meningkatkan bonusnya, CEO yang kurang berhasil memperbaiki kinerjanya untuk menghindari pemecatannya, CEO baru untuk menunjukkan kesalahan dari CEO sebelumnya.
6. Penawaran saham perdana (IPO), manajer perusahaan yang going public melakukan earning management untuk memperoleh harga yang lebih tinggi atas sahamnya dengan harapan mendapatkan respon pasar yang positif terhadap peramalan laba sebagai sinyal dari nilai perusahaan.
7. Motivasi pasar modal, misalnya untuk mengungkapkan informasi privat yang dimiliki perusahaan kepada investor dan kreditor.
Banyak cara yang dapat dilakukan oleh manajer untuk mempengaruhi waktu, jumlah, atau makna transaksi dalam pelaporan keuangan dengan melakukan pemilihan metode akuntansi dan accounting judgment (Merchant dan Rockness, 1994), yang dikutip oleh Sari (2005). Menurut Scott (2003:383) berbagai pola yang sering dilakukan manajer dalam earning management adalah:
1. Taking a bath
Terjadinya taking a bath pada periode stress atau reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru. Bila perusahaan harus melaporkan laba yang tinggi, manajer dipaksa untuk melaporkan laba yang tinggi, konsekuensinya manajer akan menghapus aktiva dengan harapan laba yang akan datang dapat meningkat. Bentuk ini mengakui adanya biaya pada periode yang akan datang sebagai kerugian pada periode berjalan, ketika kondisi buruk yang tidak menguntungkan tidak dapat dihindari pada periode tersebut. Untuk itu
manajemen harus menghapus beberapa aktiva dan membebankan perkiraan biaya yang akan datang pada saat ini serta melakukan clear the desk, sehingga laba yang dilaporkan di periode yang akan datang meningkat.
2. Income minimization
Bentuk ini mirip dengan ”taking a bath”, tetapi lebih sedikit ekstrim, yakni dilakukan sebagai alasan politis pada periode laba yang tinggi dengan mempercepat penghapusan aktiva tetap dan aktiva tak berwujud dan mengakui pengeluaran-pengeluaran sebagai biaya. Pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak mendapat perhatian secara politis, kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan atas barang modal dan aktiva tak berwujud, biaya iklan dan pengeluaran untuk penelitian dan
pengembangan, hasil akuntansi untuk biaya eksplorasi.
3. Income maximization
Tindakan ini bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Perencanaan bonus yang didasarkan pada data akuntansi mendorong manajer untuk memanipulasi data akuntansi tersebut guna menaikkan laba untuk meningkatkan pembayaran bonus tahunan. Jadi tindakan ini dilakukan pada saat laba menurun. Perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang mungkin akan memaksimalkan pendapatan.
4. Income smoothing
Bentuk ini mungkin yang paling menarik. Hal ini dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan untuk tujuan pelaporan eksternal, terutama bagi investor karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.
Teknik untuk merekayasa laba dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok (Setiawati dan Na’im, 2000). Pertama yaitu memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi, antara lain: estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi. Kedua yaitu mengubah metode akuntansi. Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh: mengubah metode depresiasi aktiva tetap yaitu dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus. Ketiga yaitu menggeser periode
biaya atau pendapatan, misalnya: mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk ke pelanggan, menjual investasi sekuritas untuk memanipulasi tingkat laba, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai.
Pendekatan lain yang digunakan dalam mengendalikan net income (Lontoh dan Lindrawati, 2004): Pertama, dengan mengendalikan transaksi-transaksi akrual, dimana transaksi akrual memiliki pengaruh terhadap pendapatan dan biaya namun tidak tampil pada arus kas. Contoh: amortisasi dan depresiasi adalah sepenuhnya dikuasai oleh perusahaan dalam hal menentukan masa manfaatnya sehingga perusahaan dapat mengatur besarnya pembebanan pada biaya sesuai keinginan manajemen dalam rangka mencapai hasil akhir pada net income yang diinginkan. Terdapat dua konsep akrual yaitu: discretionary accrual dan non discretionary accrual. Discretionary accrual adalah pengakuan akrual laba atau beban yang bebas tidak diatur dan merupakan pilihan kebijakan manajemen, sedangkan non discretionary accrual adalah pengakuan akrual laba yang wajar, yang tunduk pada suatu standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kedua, dengan mengubah kebijakan akuntansi, manajemen juga dapat menentukan net income yang diinginkan, namun hasrat manajemen untuk melaksanakan hal ini tidak sekuat accrual items. Alasannya adalah manajemen harus menjelaskannya dalam disclosure pada laporan keuangan tahunan. Dan alasan ini adalah bahwa standar akuntansi tentang konsistensi mencegah terjadinya perubahan kebijakan akuntansi sesering mungkin. Contohnya adalah merubah metode pencatatan dari LIFO menjadi FIFO.
Earning management merupakan fenomena yang sukar dihindari karena fenomena ini hanya dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan. Dasar akrual disepakati sebagai dasar penyusunan laporan keuangan karena dasar akrual memang lebih rasional dan adil dibandingkan dasar kas. Sebagai contoh, dengan dasar kas, pembelian aktiva tetap secara tunai senilai seratus juta rupiah mesti dibebankan sebagai biaya pada periode saat pembelian aktiva tersebut, meskipun aktiva tersebut akan bermanfaat bagi perusahaan selama 10 tahun. Jika laporan rugi laba disusun dengan dasar kas, maka besar kemungkinan dalam periode tersebut perusahaan dinyatakan mengalami rugi. Jadi pada dasarnya, basis akrual dipilih dengan tujuan untuk menjadikan laporan keuangan lebih informatif yaitu laporan keuangan yang benar-benar mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Sayangnya, akrual yang ditujukan untuk menjadikan laporan yang sesuai fakta ini sedikit dapat digerakkan (tuned)sehingga dapat mengubah angka laba yang dihasilkan.

Sumber :https://obatwasirambeien.id/

Mendorong Manajemen Melakukan Earning Management

Mendorong Manajemen Melakukan Earning Management

Mendorong Manajemen Melakukan Earning Management
Mendorong Manajemen Melakukan Earning Management

Scott (2003:369) mendefinisikan earning management sebagai ”the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific objective” yang kurang lebih meiliki arti : pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu.
Menurut Sugiri (1998) yang dikutip oleh Widyaningdyah (2001), definisi earning management dibagi dalam dua definisi, yaitu:
a. Definisi sempit
Earning management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning management dalam arti sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings.
b. Definisi luas
Earning management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.
Jika Sugiri (1998) memberikan definisi earning management secara teknis, maka Surifah (1999) memberikan pendapatnya mengenai dampak earning management terhadap kredibilitas laporan keuangan. Menurut Surifah (1999) earning management dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan apabila digunakan untuk pengambilan keputusan, karena earning management merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan keuangan yang menjadi sasaran komunikasi antara manajer dan pihak eksternal perusahaan.
Konsep earning management menurut Salno dan Baridwan (2000:19):
menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory) yang menyatakan bahwa ”praktek earning management dipengaruhi oleh konflik antara kepentingan manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul karena setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertimbangkan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya”. Agency theory memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Pihak principal termotivasi mengadakan kontrak untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena principal tidak dapat memonitor aktivitas manajemen sehari-hari untuk memastikan bahwa manajemen bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham (pemilik).
Dalam hubungan keagenan, principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang kinerja agent. Agent mempunyai lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja, dan perusahaan secara keseluruhan. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh principal dan agent. Ketidakseimbangan informasi inilah yang disebut dengan asimetri informasi. Adanya asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agent memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal. Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara principal dan agent mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja agent. Salah satu bentuk tindakan agent tersebut adalah yang disebut sebagai earning management (Widyaningdyah, 2001).

Menurut Healy dan Wahlen yang dikutip oleh Riduwan (2001)menyatakan bahwa earning management terjadi ketika para manajer menggunakan keputusannya dalam pelaporan keuangan dan dalam melakukan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan baik untuk menimbulkan gambaran yang salah bagi stakeholder tentang kinerja ekonomis perusahaan, ataupun untuk mempengaruhi hasil kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan.

Sumber : https://pesantrenkilat.id/

Bawa Misi ‘Dari Kampus Untuk Desa’, 85 Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Ikuti KKN

Bawa Misi ‘Dari Kampus Untuk Desa’, 85 Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Ikuti KKN

Bawa Misi ‘Dari Kampus Untuk Desa’, 85 Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Ikuti KKN
Bawa Misi ‘Dari Kampus Untuk Desa’, 85 Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Ikuti KKN

Sumenep – Sebanyak 85 mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

, Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP PGRI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2019.

Membawa misi Dari Kampus Untuk Desa, mereka dilepas langsung oleh Ketua STKIP PGRI Sumenep, Dr. Asmoni, M.Pd, Selasa (30/7/2019), di Pendopo Kecamatan Ganding, Sumenep. Para mahasiswa tersebut akan disebar di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Ganding.

Ketua STKIP PGRI Sumenep, Dr. Asmoni, M.Pd, mengaku sengaja mengambil tema KKN

Dari Kampus Untuk Desa yang dinilainya sejalan dengan program pemerintah daerah Nata Kota, Bangun Desa.

“Target kami, keberadaan mahasiswa STKIP di desa dapat bersinergi dengan semua pihak untuk percepatan pembangunan dan kemajuan masyarakat desa itu sendiri,” terangnya.

Keseriusan STKIP PGRI Sumenep untuk membangun masyarakat desa, pihaknya membuktikan dengan adanya peserta KKN yang mayoritas adalah mahasiswa berprestasi. Mereka didominasi oleh mahasiswa peraih beasiswa prestasi, salah satunya dari program Bidikmisi.

Menurutnya, raihan tersebut tidak lepas berkat dukungan semua pihak. STKIP PGRI

Sumenep mendapat kepercayaan dari pemerintah dengan alokasi beasiswa Bidikmisi terbanyak se-Madura.

“Tahun ini saja, STKIP dipercaya untuk mengelola beasiswa Bidikmisi lebih dari 400 mahasiswa,” sebutnya.

Di hadapan mahasiswa, ia berpesan agar menjaga nama baik almamater dalam etika pergaulan di tengah kehidupan masyarakat. Semua Mahasiswa KKN harus mampu menunjukkan diri sebagai kaum akademisi berkualitas.

 

Baca Juga :

 

 

Menunggu Reformasi Kepemimpinan Sumenep

Menunggu Reformasi Kepemimpinan Sumenep

Menunggu Reformasi Kepemimpinan Sumenep
Menunggu Reformasi Kepemimpinan Sumenep

Hampir dalam dua dekade terakhir, kepemimpinan di Kabupaten Sumenep

tidak menemukan efek kejut sama sekali, selain hanya suguhan kepemimpinan yang begitu konservatik. Mungkin kita tidak bisa mengadili kepemimpinan tersebut sebagai gagal, sejauh kalau semua dilekatkan pada sistem emosional, naluri, dan nalar kepuasan masyarakat umumnya di Sumenep.

Hal yang sangat relevan dan hampir tak bisa dihindarkan dalam masyarakat

yang memiliki latar belakang atau genealogis kerajaan dan keratonisme yang begitu kuat dan mengakar; serba ewuh-pakewuh dan romantik, seperti di kabupaten ujung timur Madura ini.

Sulit untuk menyangkal pencapaian – untuk menghindari penggunaan kata prestasi – kepemimpinan KH. Ramdhan Siraj yang begitu populer dan kharismatik sehingga mengantarkannya sampai terpilih dua kali periode bahkan seandainya memungkinkan bisa saja terpilih untuk yang ketiga kali, dan seterusnya.

Sepenggal yang penulis tahu beliau begitu dihormati dengan akseptabilitas

yang kuat di masyarakat. Hampir sukar kepemimpinan beliau dibantah.

 

Sumber :

https://www.openjournals.wsu.edu/index.php/landescapesarchived/comment/view/282/0/724339

Mampu Bersaing, Mahasiswa Unija Ukir Prestasi Hingga Taraf Internasional

Mampu Bersaing, Mahasiswa Unija Ukir Prestasi Hingga Taraf Internasional

Mampu Bersaing, Mahasiswa Unija Ukir Prestasi Hingga Taraf Internasional
Mampu Bersaing, Mahasiswa Unija Ukir Prestasi Hingga Taraf Internasional

Sumenep – Mahasiswa Universitas Wiraraja (Unija) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur

, mampu mengukir berbagai bidang prestasi, baik nasional maupun di dunia Internasional.

Dari data prestasi mahasiswa selama tahun 2019 ini, ada 21 jenis kegiatan (event) yang diikuti, baik lokal, regional, maupun nasional. Mahasiswa Unija Sumenep mampu mengukir prestasi.

Rektor Universitas Wiraraja (Unija) Kabupaten Sumenep, Sjaifurrachman menjelaskan, untuk tingkat Internasional pihaknya memberangkatkan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) luar negeri.

“Alumni tahun 2016, Helliyatul Matlubah diterima di Universitas Monash

(Universitas terbesar di Australia). Sebetulnya yang lolos masuk di luar negeri ada dua orang, satunya bernama Gusti, tapi karena tidak lolos di LPDP jadi tidak berangkat,” terangnya, Rabu (17/7/2019).

Berbagai prestasi diukir oleh mahasiswa Unija. Menurutnya, itu semua tidak lepas dari dukungan semua pihak. Prestasi yang masih hangat adalah juara I Duta GenRe (Generasi Berencana) Jawa Timur tahun 2019 yang diraih Nabila Maya Faisa.

“Juga banyak mahasiswa lain yang berprestasi, baik di event duta lainnya, olahraga

Bahkan, ada yang berprestasi debat bahasa Arab tingkat nasional,” sebutnya.

Pihaknya berharap, para mahasiswa Unija dapat meningkatkan lagi prestasinya di berbagai tingkatan. “Tentunya, kita berharap membawa nama baik Unija dan Sumenep khususnya,” ujarnya.

 

Sumber :

https://ojs.hh.se/index.php/JISIB/comment/view/94/0/106146

PINTU YANG SELALU TERBUKA

PINTU YANG SELALU TERBUKA

PINTU YANG SELALU TERBUKA
PINTU YANG SELALU TERBUKA

Mereka berdua duduk, mungkin mengingat-ingat masa romantis mereka yang sudah lama berlalu. Rambut yang memutih memberitahukan bahwa waktu telah membawa mereka menjelajahi kehidupan ini begitu lama. Sekarang mereka kembali berdua, sama seperti lima puluh tahun silam saat usia belum begitu senja.

Terkadang salah seorang dari mereka berdiri, menoleh sebentar ke luar pintu dikala seseorang lewat dari depan pagar yang hampir ambruk itu. Wajah keriput yang menanti itu, lesu bersandar pada pintu tua yang bentuknya tidak simetris lagi. Dia memandangi dengan pilu ke ujung jalan menantikan orang yang begitu mereka rindukan. Kepiluan semakin menyayat saat mereka memandangi orang-orang di luar sedang bergembira menyambut anaknya datang dari rantau. Sementara mereka, menanti dalam sebuah ketidakpastian. Alangkah perihnya hati mereka.

Saat orang-orang mulai menutup pintu dan jendela, jelas sekali mereka begitu sedih. Entah apa yang membuat mereka terdiam dan lesu di senja yang mendung ini. Lampu minyak usang yang menyala di sudut ruangan, tak cukup menerangi seisi ruangan yang tidak begitu besar ini. Sumbunya yang sudah mulai habis dinyalakan kecil saja, mereka kini serba menghemat dan kekurangan. Di hari tua yang kesepian itu mereka hanya bisa mengenang segala masa lalu mereka yang entah kapan akan terulang lagi.

Nenek itu berdiri dengan tertatih-tatih, penyakit reumatik yang menderanya selama bertahun-tahun membuatnya tidak bisa berjalan dengan baik. Mungkin ini menjadi kenangan keperkasaannya dahulu saat usianya masih muda. Lantai papan rumah panggung yang sudah tua itu berderik saat kaki si nenek melangkah. Lemari kecil di sudut ruangan yang di atasnya diletakkan lampu minyak dibuka perlahan. Pintu lemari yang sudah rusak di tahan dengan karet ban bekas. Dia membungkuk dan mencari-cari sesuatu diantara lipatan baju yang tidak seberapa.

“ Kek, apakah anak-anak belum juga pulang?” Tanya nenek sambil terus mencari-cari sesuatu di dalam lemari.

“ Belum nek, mungkin mereka tidak datang hari ini.” Kata kakek sambil menghela nafas panjang.

Akhirnya nenek menemukan apa yang dicarinya. Dia mengambil selembar foto hitam putih yang sudah mulai kabur. Tampak dalam foto itu sebuah keluarga dengan orang tua dan tiga orang anak, yang paling besar adalah anak perempuan, yang kedua dan ketiga adalah anak laki-laki. Nenek mendekatkan foto itu ke lampu minyak di atas lemari sambil memandanginya dengan matanya yang sudah mulai rabun.

“ Apakah mereka sudah lupa dengan kita ya kek?”

“ Jangan bilang seperti itu nek, mungkin mereka belum punya waktu untuk mengunjungi kita di rumah ini. Nanti mereka juga pasti datang.”

“ Tapi kapan kek? Kita sudah tua kek, usia kita sudah tidak lama lagi. Apa mereka mau pulang kalau kita nanti sudah meninggal.”

“ Jangan berprasangka buruk terhadap anak-anak, sudahlah nek.”

Nenek akhirnya diam, diam seribu bahasa entah apa yang kini bergejolak di dalam dadanya. Mungkin harapan tuanya yang hanya tinggal sedikit itu kini padam. Entah apalagi yang ingin diucapkannya, namun lidahnya sudah cukup pahit untuk mengucapkan harapan manis. Dia menangis sambil memeluk foto usang itu. Semakin lama isak nenek semakin pilu, kerinduannya kepada ketiga orang putra-putrinya tidak tertahankan lagi.

“ Kek, sudah berapa tahun mereka tidak mengunjungi kita?”

“ Kakek lupa, tapi seingat kakek sudah lama sekali mereka tidak pulang.” Kata kakek tak kalah pilu.

Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Mereka terbawa suasana pilu yang menyayat hati. Nyanyian jangkrik yang menjadi hiburan satu-satunya bagi mereka bagaikan musikalisasi akan kegelisahan yang mendera mereka. Malam yang semakin larut itu menenggelamkan mereka ke dalam lautan kesedihan.

Akhirnya untuk kesekian kalinya mereka melewati malam ini dengan harapan kosong yang semakin hari semakin lemah. Sama seperti malam-malam sebelumnya selama bertahun-tahun, senyum kebahagiaan sudah di renggut dari wajah mereka. Mereka menantikan keluarga mereka untuk berkumpul kembali, seperti saat foto itu dibuat. Tapi kapan, kapan mereka bisa berkumpul lagi. Mereka memang bukan Tuhan yang mengatur hidup dan mati, namun di usia mereka yang sudah senja ini, mereka harus berlomba dengan ajal. Saat kematian telah mengintai mereka, impian mereka belum juga terkalbukan.

Kini malam berganti pagi, tidak ada semangat. Seperti biasa, suami-isteri itu duduk di kursi bambu yang menghadap ke pintu yang langsung memandang ke ujung jalan. Mereka kini hidup dalam sisa usia dan tenaga mereka yang hampir meredup. Uang pensiun yang tidak seberapa, sedikit demi sedikit mereka cukup-cukupkan untuk menyambung hidup. Tidak ada harapan anak-anak mereka untuk mengirimkan beberapa lembar uang untuk membiayai hidup kedua orang tua mereka yang sudah uzur itu.

“ Kek, kau potonglah rumput yang tumbuh di halaman itu. Jika mereka nanti pulang tidak ada lagi rumput yang tumbuh di situ. Nenek mau memasak makanan kesukaan mereka.”

“ Mereka tidak akan pulang nek, tidak perlulah kau memasak makanan kesukaan mereka.”

“ batin ku mengatakan, hari ini mereka akan datang melihat kita.”

“ Yakinlah nek, mereka sudah benar-benar melupakan kita. Entah apa yang mereka pikirkan sekarang.” Kata kakek yang sudah mulai kehabisan kesabarannya.

“ Jangan kau bicara lagi, aku adalah ibu mereka. Batinku mengatakan mereka akan pulang. Batin seorang ibu selalu benar, kamu harus percaya kek.” Katanya ngotot.

Kakek sedih melihat tingkah istrinya yang semakin pikun itu. Tapi dia tidak ingin menghancurkan harapan tuanya. Dia melakukan apa yang diminta nenek dengan segala gejolak yang hampir membelah dadanya yang sudah kering kerontang. Dalam hati dia ingin memberitahukan isterinya, namun di lain sisi dia tidak kuasa jika nanti isterinya begitu sedih hingga jatuh sakit.

Dia mengambil cangkul kecil dan arit karatan dari dapur yang hanya berupa bilik kecil yang kotor dan berantakan. Lalu dia melangkahkan kaki tuanya menuju halaman rumah yang sudah ditumbuhi rumput liar itu. Rumah gubuk mereka itu tampak seperti rumah tua yang sudah lama ditinggal pergi pemiliknya dengan pemandangan yang seperti itu.

“ Kotor sekali halaman ini.” Kata kakek sambil berkacak pinggang. Dia mulai membersihkan rumput liar yang tumbuh tinggi hampir setinggi pinggangnya. Otot-ototnya yang kini sudah tua, bercerita tentang kehidupan keras yang dihantamnya semasa muda. Wajahnya yang hitam legam bekas terbakar sinar matahari kini basah oleh keringatnya sendiri.

Diayunkannya perlahan arit tumpul karatan itu. Sisa-sisa tenaganya yang lemah itu sudah tidak mampu lagi sebenarnya melakukan perkerjaan berat itu, tapi apalah daya lelaki tua dan isterinya itu. Mereka tidak mempunyai uang lebih untuk membayar orang membantu mereka memotong rumput liar yang sangat mengganggu itu. Dulu, kedua anak laki-lakinya setiap akhir pekan pasti membersihkannya, tapi itu dulu sekali, entah kapan otak tuanya sudah tidak cukup mampu untuk mengingat lagi.

Pekerjaannya belum juga usai, namun malam sudah terlanjur turun. Matanya yang sudah rabut tidak cukup mampu untuk melihat dalam gelap. Dia memandang ke dalam rumah. Isterinya sudah duduk di atas singgasana bambu tempatnya duduk menatikan kedatangan para buah hatinya. Pandangannya kosong ke depan, air matanya semakin deras menetes. Kakek menghela nafas panjang, terkadang saat seperti ini dia merindukan nestapa yang tak kunjung datang menjemputnya. Apalah arti hidup ini saat kita merasa telah dicampakkan.

Kakek meninggalkan cangkul dan aritnya di halaman, dia menapaki tangga kayu rumahnya. Dengan susah payah dia sampai di atas dan duduk di samping isterinya. Dia membelai rambutnya yang sudah ubanan. Mereka sesaat terdiam membagi kegelisahan mereka masing-masing.

“ Sudahlah nek, kau tutuplah pintu itu. Mereka takkan datang lagi. Biarlah sisa hidup kita ini, kita jalani berdua saja.”

Nenek tetap terdiam, pandangannya masih kosong. Dia hanya diam tak bergerak sedikitpun. Kakek memandanginya dengan seksama, dia memanggil-manggil nenek, namun tidak ada jawaban. Nenek pergi dalam penantiannya, meninggalkan semua harapannya bersama kakek yang selalu menemaninya di gubuk reotnya. Entah dia pergi di dalam damai, namun gambaran wajahnya yang sudah kaku menyimpan impian terakhirnya yang tidak dapat diraihya.

Kakek menyadari, nenek sudah mendahuluinya. Entah apa yang harus dia perbuat lagi. Barusan mereka masih berdua, kini dia tinggal sendiri dalam penantiannya. Dia memeluk tubuh isterinya yang sudah kaku. Tidak tidak kuasa menerima apa yang sudah terjadi.

“ Nenek, apakah gulai kesukaan anak-anak sudah matang?” Kata kakek. Nenek hanya diam, tak ada jawaban. Kakek menangis, kini dia sendiri. “ Nenek, apa yang datang ke pikiranmu. Dulu kita berjanji untuk sehidup semati, kenapa kamu mendahului ku nek?” Nenek tetap diam. “ Sekarang kau sudah menyelesaikan satu dari semua penantianmu, tapi aku belum meraih satupun. Apakah kau damai dalam tidur mu, sayang?” Kata kakek. “ Mau kan kamu mengajakku pergi bersamamu?” Kakek terus berbicara dengan tubuh nenek yang sudah tidak bernyawa itu. sepanjang malam dia terus berbicara dan berbicara. Mereka berbua duduk menghadap pintu yang selalu terbuka, memandang ke ujung jalan.

Ketika pagi tiba, kakek sudah terdiam. Kini mereka berdua sudah sama-sama diam. Tidak ada lagi yang berbicara, mereka sudah menyelesaikan penantian akhir mereka. Keduanya pergi dalam diamnya, dalam penantianya dan dalam kerinduannya. Mereke pergi sambil memandangi ujung jalan dari pintu yang selalu terbukan.

Kini pintu itu tetap terbuka, terbuka menghadap ke ujung jalan. Di atas singgasana bambu itulah kedua suami-isteri itu mengenapkan janjinya dan menyelesaikan penantian akhirnya. Mungkin impian tinggallah impian, mereka lebih tenang di dunianya yang bari. Dan kini pintu itu tetap terbuka, hingga suara itu dating memecah kesunyian yang sudah sangat lama mengisi ruang di dalam rumah gubuk itu.

“ Bapak, ibu, kami pulang.” Seorang laki-laki parlente menaiki tangga rumah gubuk itu. Mereka bertiga pulang bersama-sama untuk mengunjungi orang tua mereka yang kini sudah tidak dapat melihat mereka lagi. Mereka yang berlomba dengan takdir kalah dalam masalah waktu. Andaikan mereka dating lebih awah, mungkin mereka masih bisa mengisi kebahagiaan di ruangan kecil yang pengap itu.

Mereka pulang setelah mengistirahatkan kedua orang tua mereka. Mereka tidak pernah lagi dating mengunjungi rumah gubuk tua itu. hingga kini, pintu itu tetap terbuka menghadap ke ujung jalan. Tidak ada yang menanti di atas singgasana bamboo itu, kini tinggal pintu yang selalu terbuka menghadap ke ujung jalan dengan segala kisah penantian yang sudah usai.

Baca Juga ;

ANAK TARUTUNG MENGINJAK BOROBUDUR

ANAK TARUTUNG MENGINJAK BOROBUDUR

ANAK TARUTUNG MENGINJAK BOROBUDUR
ANAK TARUTUNG MENGINJAK BOROBUDUR

Berbicara tentang Borobudur kita teringat dengan sebuah candi megah kebanggaan bangsa Indonesia yang terdapat di kabupaten Magelang Jawa Tengah. Candi megah yang sempat dinobatkan sebagai salah satu 7 dari keajaiban dunia ini memang pantas untuk diacungi jempol. Bangunan tua yang bernilai seni tinggi baik arsitektur dan ukirannya ini sejak tahun 1991 telah tercatat sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (World Cultural Heritage) Nomor 592 oleh UNESCO. Dari 10 kriteria warisan Budaya Dunia, Borobudur memenuhi 3 dari criteria tersebut, diantaranya:

  1. Mewakili sebuah mahakarya kejeniusan kreatif manusia.
  2. Memperlihatkan pentingnya pertukaran nilai-nilai kemanusiaan dalam suatu rentang waktu atau dalam suatu kawasan budaya di dunia terhadap pengembangan arsitektur atau teknologi, karya monumental, tata kota atau rancangan landcape.
  3. Secara langsung atau nyata terkait dengan peristiwa-peristiwa atau tradisi yang masih hidup, dengan gagasan atau keyakinan dengan karya seni dan sastra yang memiliki nilai-nilai universal signivikan.

Candi Borobudur sendiri ditemukan pertama kali oleh Sir Thomas Stamford Raffles tahun 1812 dengan kondisi sangat parah dan tertutup semak belukar. Usaha pembersihan dilanjutkan oleh Cornelius pada tahun 1814 dengan mengerahkan 200 orang selama 2 bulan. Tahun 1834, Residen Kedu memerintahkan untuk membersihkan semua. Pada tahun 1907-1911 Theodore van erp melakukan restorasi terhadap Candi Borobudur. Pada tahun 1973-1983, pemerintah Indonesia dibantu oleh UNESCO melakukan restorasi besar-besaran terhadap candi Borobudur dapat bertahan lebih dari 1000 tahun.

Siapapun akan kagum ketika kita berdiri di hadapan mahakarya terbesar umat manusia ini. Dengan berjalan mengelilingi candi masuk melalui pintu Timur dan berkeliling searah dengan arah jarum jam dengan menempatkan candi di sisi bahu kanan kita sebanyak tiga kali. Candi yang terdiri dari 10 tingkatan ini melambangkan kehidupan umat Budha untuk mencapai kesempurnaan. Denan berbagai lukisan kehidupan manusia di dunia ini yang tertuang dalam setiap ukiran relief sepanjang dinding candi.

Itulah sedikit tentang profil candi Borobudur yang saya dapatkan dari perjalanan saya ke candi Borobudur ini. Tetapi cerita saya baru dimulai, tentang anak Silindung yang menginjak Candi Borobudur. Dalam kurun waktu satu setengah tahun ini, sudah dua kali saya mengunjungi monument megah ini. Mungkin ada sedikit perasaan membandingkan antara Candi Borobudur dengan Salib Kasih. Memang jika kita bandingkan sampai tahun 3000 SSM (Setelah Sesudah Masehi) akan memunculkan pendapat yang berbeda-beda, dan saya memang tidak ingin membandingkan itu. Karena bagi saya Salib Kasih itu is the best…

Kekaguman pertama saya sesungguhnya ketika sampai di tangga pertama menuju Candi Borobudur ini bukan tentang cerita kemegahannya. Namun saya mencoba mengukur jarak yang telah aku tempuh hingga sampai ke tempat ini. Secara nominal tidak dapat saya gambarkan berapa ribu kilometer langkah saya hingga kini sudah berhasil menginjak bangunan monumental ini. Memang sedikit norak, hari gini masih kagum denan yang gituan??? Mungkin itu pendapat sebagian orang, tapi saya tidak terlalu memperdulikannya.

Siapakah aku ini yang berkesempatan untuk menyaksikan dan berangan-angan tentang apa yang dilakukan oleh Wangsa Sanjaya ratusan tahun lalu di tempat ini. Hingga kini semua orang masih mengagumi hasil karyanya tanpa bisa melihat bagaimana proses terbentuk dan siapa-siapa saja yang ada pada masa itu. Siang itu aku langsung menelpon temanku yang ada di Tarutung, kebetulan dia ingin sekali melihat candi Borobudur ini.

“ Lae, nga hu dege be Borobudur i! On do hape candi Borobudur, dang dohot ho naek tu ginjang?”

“ Serius ho? Tabo ho lae, hape iba mate bolong ma di Tarutung na uli on. Pasahat tabe ku tu Budha na i. Gabe ho parjolo puang mandege tempat na paling hu impihon i.”

Hari itu ku ceritakan semua tentang Borobudur, dan aku menyebutkan jumlah patung Budha yang ada di situ. Ngakunya hitung sendiri padahal nanya ke guide yang ada di sana. Tapi bodoh amat, yang penting nominalnya dia tahu. Di kawasan candi Borobudur ini, memang layak kita acungin jempol. Susunan tamannya yang rapi dan tak kalah bersihnya, selain itu juga pengaturan system jalan searah memasuki lokasi menjadikan pengunjung tidak kerepotan. Penempatan kios souvenir yang berada di pintu keluar membuat kita tidak repot keliling-keliling kesana kemari untuk berburu oleh-oleh. Saya sendiri tidak sampai satu jam untuk memilih souvenir yang akan aku beli (ya iyalah, wong ga beli apa-apa. Belinya Cuma gelang tiga sama gantungan kunci, Cuma habis 20 ribu).

Keramah-tamahan adalah salah satu dari Sapta Pesona selain kebersihan, keamanan dan lain sebagainya. Keramah-tamahan pedagang di lokasi ini juga tak kalah bagusnya. Tidak ada pedagang asongan yang memaksa seperti di tempat wisata lainnya. Hal ini sebenarnya membuat candi Borobudur menjadi kunjungan wisata dunia.

Seperti yang kita ketahui bersama dan juga sudah saya sebutkan bahwa candi ini terletak di Pulau Jawa. Memang tidak bisa kita pungkiri, bahwa orang batak itu sama seperti filosofis cicak, selalu ada di mana-mana. Kenapa saya katakan demikian?? Ini bukan cerita bohongan loh, tapi benar-benar ada. Di pintu keluar selain kios pedagang souvenir ada juga beberapa pengamen dan pengemis, yang membuat saya kagum bahwa lagu Situmorang ternyata berkumandang di Borobudur. Mungkin saya tidak tahu persis apakah ke sepuluh pria pengamen itu benar-benar orang batak atau sebagian dari mereka, saya tidak pernah tahu. Masalahnya saya tidak pernah bertanya. Tapi dua kali saya berkunjung ke candi Borobudur mereka selalu membawakan beberapa lagu batak, dan keseringan lagu Situmorang.

Aku langsung teringat dengan daftar pengunjung yang saya baca di museum bahari yang masih di dalam kawasan Borobudur terdapat keluarga Tobing asal dari Sibolga. Ternyata tidak susah mencari orang batak di dunia yang luas ini. Jika aku mengikuti saran dari temanku yang gila tentang cara mudah mencari orang batak, mungkin aku akan menemukan orang batak lain di tempat ini.

Terkadang aku tertawa sendiri tentang pengalaman bertemu dengan beberapa halak hita di pangarantoan ini. (Beberapa akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya yang berjudul PAJUMPANG DOHOT HALAK HITA DI PANGARANTOAN).

Mungkin itulah sedikit cerita perjalanan saya mengunjungi tempat yang diimpikan salah seorang temanku yang hingga kini belum terpenuhi. Kadang aku berfikir seandainya ini candi Borobudur dibangun di tano Batak oleh si Raja Batak apa yang akan terjadi di saat ini.

Sumber :https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/

PAJUMPANG DOHOT HALAK HITA DI PANGARANTOAN

PAJUMPANG DOHOT HALAK HITA DI PANGARANTOAN

PAJUMPANG DOHOT HALAK HITA DI PANGARANTOAN
PAJUMPANG DOHOT HALAK HITA DI PANGARANTOAN

Filosofis orang batak yang terukir di gorga Batak adalah salah satunya tentang cicak. Yaitu hewan yang bisa hidup dimana-mana, di rumah orang kaya atau miskin, gereja atau mesjid atau klenteng, di pohon atau di tumpukan batu. Memang itulah ciri khas orang batak. Saya teringat kata-kata bapak Drs. Suhadi, M.Si salah satu dosen ku di kampus yang berbicara tentang orang batak.

“ Saya kalau lihat orang batak pasti ingat kata-kata “PERGILAH KAU KE PERANTAUAN”. Katanya dengan logat batak yang dibuat buat. Beliau mengartikan kata-kata itu sebagai sebuah kata-kata orang tua yang menyuruh anaknya pergi merantau meninggalkan rumah dan sanak-saudaranya untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak. Dan saya langsung meng Ya kan kalimat itu, karena itulah filosofis orang batak yang selalu diajarkan bapak ku St. L. Hutabarat.

Sudah sejak lama orang batak dikenal sebagai suku perantau di negeri ini. Ini terlihat dengan banyaknya orang batak yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan mengumpulkannya juga sangat gampang, walaupun sudah di perantauan biasanya orang batak membuat sebuah perkumpulan. Misalnya perkumpulan marga dan sekarang banyak perkumpulan mahasiswa batak, seperti di semarang ada 3 perkumpulan mahasiswa batak yaitu IMABA (Ikatan Mahasiswa Batak) yang didalamnya tergabung lebih dari 150 mahasiswa aktif dari 6 universitas (UNNES, UNIKA, UNTAG, UNISBANK, AKPER ELISABETH, ASM SANTA MARIA). HORAS dari UNDIP Peleburan yang juga sebagian besar NHKBP Kertanegara serta PARHATA dari UNDIP Tembalang.

Selain itu juga ada punguan marga, misalnya Parsadaan Siraja Nabarat, boru, bere (dohot beguna) se kota Semarang, dan punguan marga lainnya. Namun terkadang kita tidak sadar bahwa ada beberapa saat kita berada dalam sebuah lokasi yang berdekatan dengan sesame orang batak tanpa kita ketahui tanpa karena memang kita tidak mengenal. Dan saya paling sering mengalami hal ini, serta ada beberapa yang paling lucu dan mengagumkan yang tidak bisa saya lupakan dan akan saya ceritakan dalam tulisan ini.

Pertama sekali aku menginjak pulau Jawa ini, belum ada setengah tahun pernah diajak teman ke Jogja untuk belanja buku. Maklum, mungkin pendidikan belum jadi prioritas di Semarang ini, sangat susah mencari buku berkualitas dengan harga miring, tidak seperti di Titi Gantung Medan. Pas di bus Pahala Kencana, biasalah orang batak. Satu orang main gitar, dua orang main catur, tiga orang main kartu atau markombur. Nah kebetulan kami ada empat orang, dan pasti bisa anda prediksi apa yang terjadi sepanjang Semarang-Jogjakarta selama kurang lebih 3 jam. Sepertinya bus ini ada di tanah batak, suasana penuh dengan bahasa batak, padahal Cuma tiga orang loh penjahatnya. Tiba-tiba di daerah Bawen ada seorang bapak datang dan berkata, “Ai halak batak do hamu anggi?”. Saya ingat betul kata-kata itu, seorang batak setengah baya bermarga Purba yang sudah 10 tahun tinggal di Jogjakarta dan memberikan kami sebuah peta kota Jogja sebagai pegangan.

Dari sebuah hal yang sangat heboh dapat memberikan hal lain yang tak kalah hebohnya. Seandainya kami tidak berbicara dalam bahasa batak saat itu, tentunya amang Purba tadi tidak akan tahu kalau kami ini orang batak. Inilah yang saya katakan sebagai kebetulan yang indah.

Suatu hari saya mengajak Ruben Pane, ke Mall Simpang Lima Semarang membeli sesuatu. Biasanya ketika naik-turun di mall, aku paling benci naik lift. Mending naik escalator, selain lebih enak memang aku punya trauma tersendiri di dalam lift. Suatu hari pernah terkunci di dalam lift selama 5 menit di Medan Fair. Tapi hari ini memang barang yang saya beli cukup besar dan berat, sangat ribet jika membawanya dari lantai 5 dengan naik escalator.

“ Ben, hita turun tu lantai dasar ma langsung ate, nga loja hian au.” Kataku.

“ Dang jolo tu lantai 1 jo hita mengalului anak boru?”

“ Ah holan anak boru do di utok-utok mu?”

“ Bah, halak hita do hamu ito?” tiba-tiba seorang perempuan bertanya. Ternyata dia orang batak. Setelah kenalan ternyata kakak itu boru Butarbutar dan baru lulus kuliah dan sudah bekerja.

Terkadang ada-ada saja cara unik yang direncanakan oleh Tuhan untuk memepersatukan umatnya. Bayangkan saja, aku yang selama ini tidak pernah mau naik lift, tiba-tiba naik lift dan bertemu dengan satu lagi kenalan orang batak yang tak kalah ramah. Sai na adong do tahe.

Pulang dari Tarutung, transit di Soekarno-Hatta, lalu naik pesawat ke Semarang dari sana. Hari itu kebetulan aku duduk di tempat duduk nomor 11f, dan di samping kanan ku duduk dua orang batak. Mungkin aku orang yang tidak terlalu banyak Tanya, setelah duduk aku langsung baca buku tanpa memperhatikan lagi kedua orang bapak di sampingku. Tiba-tiba mereka berdua berbicara dalam bahasa batak.

“ Di semarang didia ma hamu lae?”

“ Anggo au par Jambi do na naeng tu Kendal do au.” Kata bapak yang satu lagi.

“ Bah, horas tulang. Halak hita do hape hita na tolu.” Kataku tertawa kecil.

“ Bah, halak hita do hape doli-doli on. Marga aha ma ho amang.”

“ Hutabarat amang sian Tarutung.”

“ Jadi partarutung do damang, au pe balga di Tarutung do ale nuaeng tinggal di Palembang.”

“ Molo au marga Nababan.” Kata bapak yang satu lagi. Lantas saja kami bertiga tertawa kecil, mungkin jaga imej.

“ Molo di boto ho lapo Simanjuntak na di toru ni ruma sakkit I, disi hian ma ahu tinggal, ale pidda ma tu Medan muse. Ale nga boha puang pilkada na di huta ta i. Saut do maju si Toluto, si Sanggam, si Roy dohot dongan tubumi si Sarlandi?”

“ Bah up to date do hape tulang sahat do hape barita ni pilkada tu Palembang. Nga kaluar calon tetapna, dang maju anggo Sarlandi Hutabarat. Calon na si Toluto, Samsul Sianturi, Roy Sinaga, Sanggam Hutapea dohot Wastin Siregar.”

Dalam kasus yang satu ini saya tidak hanya dipertemukan dengan orang batak, tetapi juga dengan teman sekampung sesame par tarutung. Dan satu hal yang membuat saya sangat kagum dengan tulang berdua itu, khususnya tulang simanjuntak, walaupun sudah lama pindah dari Tarutung, tetapi dia masih mengikuti perkembangan di Tarutung. Bahkan nama calon bupatinya dapat dibeberkan semuanya.

Masih banyak lagi kisah pertemuan dengan hal hita di ranto on, namun yang paling berkesan adalah yang ketiga ini. Inilah bangso batak yang mirip dengan orang Jahudi, bertebaran di mana-mana. Mulai dari pengamen, kenek, sopir, tukang parkir sampai ke menteri (presiden belum ada….. antar au ma I nian..he..he…he…). Untuk kesekian kalinya aku terjebak dengan pertanyaan yang aku buat sendiri dan pusing dengan pemikiran ku sendiri. Pintar kali lah oppugn kita najolo menciptakan pilosofis cicak itu. Sai anggiat tu maju na ma muse halak batak dan tersebar di mana-mana. HORAS

Sumber : https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/

Sambut Hakteknas, FTK ITS Bicara Maritim di Forum ASEAN-China

Sambut Hakteknas, FTK ITS Bicara Maritim di Forum ASEAN-China

Sambut Hakteknas, FTK ITS Bicara Maritim di Forum ASEAN-China
Sambut Hakteknas, FTK ITS Bicara Maritim di Forum ASEAN-China

Civitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memiliki banyak cara

untuk memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22. Prof Daniel M. Rosyid PhD M.RINA selaku dosen sekaligus dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) kampus perjuangan ini ikut menyambut Hakteknas dengan berbagi pemikiran di forum ASEAN-China, belum lama ini.

Dalam forum tersebut, Daniel M. Rosyid mengapresiasi kemajuan dan kontribusi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) saat ini yang mengkampanyekan pembangunan poros maritim di Hakteknas tahun 2017. “Topik dan tema Hakteknas tentang kemaritiman ini merupakan langkah awal yang patut diapresiasi bersama”, ungkap Daniel.

“Tentu saja, pemilihan tema itu dilakukan berdasarkan visi pembangunan Indonesia

sebagai poros maritim dunia”, imbuhnya.

Daniel menambahkan bahwa program kementrian Ristekdikti dalam pembangunan maritim di Indonesia difokuskan kepada empat hal, yaitu penguatan kedaulatan maritim, pengelolaan SDA secara mandiri dan berkelanjutan, pengembangan infrastruktur secara mandiri dan terpadu, serta pengembangan SDM, iptek, dan budaya maritim.

“Lebih praktisnya, kampus ITS Surabaya terus memberikan sumbangan pemikiran dan produk

teknologi maritim dengan mengenalkan konsep smart ocean technology”, ungkap Daniel.

“Akhir November 2017 mendatang, ITS akan menjadi tuan rumah dalam agenda internasional bertajuk General Assembly meeting ACNET-Eng Tech. Pertemuan di ITS nanti akan membahas kerjasama pendidikan dan penelitian dalam kerangka Smart Ocean Technology tersebut”, jelasnya.

 

Baca Juga :