Ketentuan Umum Wajib Daftar Perusahaan

Ketentuan Umum Wajib Daftar Perusahaan

Ketentuan Umum Wajib Daftar Perusahaan
Ketentuan Umum Wajib Daftar Perusahaan

Ketentuan Umum Wajib Daftar Perusahaan
Dalam Pasal 1 UU Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan, ketentuan-ketentuan umum yang wajib dipenuhi dalam wajib daftar perusahaan adalah :
a. Daftar Perusahaan adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan ketentuan Undang-undang ini dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh pejabat yang berwenang dari kantor pendaftaran perusahaan;
Daftar catatan resmi terdiri formulir-formulir yang memuat catatan lengkap mengenai hal-hal yang wajib didaftarkan;
b. Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan setiap jenis usaha yang bersifat tetap dan terus menerus dan yang didirikan, bekerja serta berkedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia, untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba;
Termasuk juga perusahaan-perusahaan yang dimiliki atau bernaung dibawah lembaga-lembaga sosial, misalnya, yayasan.
c. Pengusaha adalah setiap orang perseorangan atau persekutuan atau badan hukum yang menjalankan sesuatu jenis perusahaan;
Dalam hal pengusaha perseorangan, pemilik perusahaan adalah pengusaha yang bersangkutan.
d. Usaha adalah setiap tindakan, perbuatan atau kegiatan apapun dalam bidang perekonomian, yang dilakukan oleh setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba;
e. Menteri adalah Menteri yang bertanggungjawab dalam bidang perdagangan.
Penentuan usaha atau kegiatan lainnya yang tidak dikenakan WDP yang tercakup diatas, akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri. Setelah mendengar pertimbangan Menteri yang membidangi usaha atau kegiatan bersangkutan.

Perusahaan yang wajib daftar dalam daftar perusahaan adalah setiap perusahaan (termasuk Perusahaan Asing) yang berkependudukan dan menjalankan usahanya diwilayah Negara Republik Indonesia menurut ketentuan peraturan perundang – undangan yang berlaku(dan telah memiliki ijin), termasuk didalamnya kantor cabang, kantor pembantu,anak perusahaan serta agen dan perwakilan dari perusahaan itu yang mempunyai wewenang untuk mengadakan perjanjian.

Perusahaan – Perusahaan tersebut berbentuk:
a. Badan hukum, termasuk didalamnya koperasi
b. Persekutuan
c. Perorangan
d.Perusahaan lainnya

Sumber : https://busbagus.co.id/

Tujuan dan Sifat

Tujuan dan Sifat

Tujuan dan Sifat
Tujuan dan Sifat

Daftar Perusahaan bertujuan mencatat bahan-bahan keterangan yang dibuat secara benar dari suatu perusahaan dan merupakan sumber informasi resmi untuk semua pihak yang berkepentingan mengenai identitas, data, serta keterangan lainnya tentang perusahaan yang tercantum dalam Daftar Perusahaan dalam rangka menjamin kepastian berusaha ( Pasal 2 ).
Tujuan daftar perusahaan :
• Mencatat secara benar-benar keterangan suatu perusahaan meliputi identitas, data serta keterangan lain tentang perusahaan.
• Menyediakan informasi resmi untuk semua pihak yangberkepentingan.
• Menjamin kepastian berusaha bagi dunia usaha.
• Menciptakan iklim dunia usaha yang sehat bagi dunia usaha.
• Terciptanya transparansi dalam kegiatan dunia usaha.
Daftar Perusahaan bersifat terbuka untuk semua pihak. Yang dimaksud dengan sifat terbuka adalah bahwa Daftar Perusahaan itu dapat dipergunakan oleh pihak ketiga sebagai sumber informasi ( Pasal 3 ).

Daftar Perusahaan bersifat terbuka untuk semua pihak. Yang dimaksud dengan sifat terbuka adalah bahwa Daftar Perusahaan itu dapat dipergunakan oleh pihak ketiga sebagai sumber informasi ( Pasal 3 ).
Tujuan Wajib Daftar Perusahaan
Maksud diadakannya usaha pendaftaran perusahaan ialah tidak hanya untuk mencegah agar supaya khalayak ramai terhadap suatu nama perusahaan mendapatkan suatu gambaran yang keliru mengenai perusahaan yang bersangkutan, tetapi terutama untuk mencegah timbulnya gambaran sedemikian rupa sehingga pada umumnya gambaran itu mempengaruhi terjadinya perbuatan-perbuatan ekonomis pihak-pihaik yang berminat mengadakan perjanjian
Sifat Wajib Daftar Perusahaan
Wajib Daftar Perusahaan bersifat terbuka. Maksudnya ialah bahwa Daftar Perusahaan itu dapat dipergunakan oleh pihak ketiga sebagai sumber informasi. Setiap orang yang berkepentingan dapat memperoleh salinan atau petikan resmi dari keterangan yang tercantum dalam Daftar Perusahaan tertentu, setelah membayar biaya administrasi yang ditetapkan oleh Menteri Perdagangan.

Sumber : https://vhost.id/

Kemendikbud Bilang Kelebihan, Bupati : Kita Kekurangan Guru

Kemendikbud Bilang Kelebihan, Bupati : Kita Kekurangan Guru

Kemendikbud Bilang Kelebihan, Bupati Kita Kekurangan Guru
Kemendikbud Bilang Kelebihan, Bupati Kita Kekurangan Guru

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ternyata menyatakan Kabupaten

Rembang masih kelebihan guru PNS. Padahal sesuai sudut pandang Pemerintah Kabupaten Rembang justru hal tersebut berbanding terbalik dengan keadaan yang ada, karena masih merasa kekurangan guru.

Hal itu disampaikan Bupati Rembang, H. Abdul Hafidz seusai melantik ratusan Kepala Sekolah di aula lantai 4 Kantor Bupati Rembang, Jum’at (18/11/2016). Bukan tanpa sebab, perbedaan sudut pandang itu terjadi lantaran pendekatan yang digunakan kementrian dan pemkab berbeda.

Bupati mengatakan rasio yang dipakai Kemendikbud menggunakan pendekatan

jumlah murid sesuai standar se-Asia perbandingannya satu guru untuk 30 murid. Jika dengan perhitungan tersebut, Bupati mengakui jumlah guru di Rembang kelebihan banyak. Perhitungan itu diketahui ketika Bupati mengikuti Rakornas dengan kementrian pendidikan.

“Salah satu yang kami usulkan adalah guru di Rembang kurang banyak. Namun setelah mereka membuka data, ternyata Rembang kelebihan guru. Kalau perbandingannya 1:30 maka diRembang sudah 1: 15, kelebihannya masih banyak. Tinggal distribusinya yang diatur,” ujarnya.

Dari pantuannya, keberadaan guru di perkotaan sudah terpenuhi atau cukup.

Tetapi di wilayah pinggiran dan di desa-desa memang kurang dan minim.

Kondisi di lapangan ada sekolah yang guru berstatus PNS nya hanya dua bahkan ada yang satu. Guru di Rembang terpenuhinya baru 60 persen, sehingga pendistribusiannya harus dibenahi.

“Permasalahannya rata-rata guru inginnya bertugas di daerah kota. Lewat Bupati, Wakil Bupati, lewat DPR, Sekda, itu semua jalan yang salah. Jalan yang benar adalah sumpah janji ketika menjadi PNS, yang bersedia ditempatkan dimana saja.”

 

Baca Juga :

 

 

Beasiswa Sampoerna Fondation Diharapkan Tepat Sasaran

Beasiswa Sampoerna Fondation Diharapkan Tepat Sasaran

Beasiswa Sampoerna Fondation Diharapkan Tepat Sasaran
Beasiswa Sampoerna Fondation Diharapkan Tepat Sasaran

Pemberian beasiswa kepada 100 siswa tingkat SMA sederajat dari Putra Sampoerna Fondation

di pendopo museum RA Kartini rabu belum lama ini, diharapkan tepat sasaran kepada murid yang berprestasi di sekolah.

Selain sasaran, diharapkan juga dana sebesar Rp 3.5 juta per siswa itu, digunakan untuk keperluan sekolah, bukan untuk hal yang lain.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang

, Noor Effendi mengatakan, keperluan sekolah yang dimaksud diantaranya membayar uang gedung, membeli perlengkapan sekolah dan guna membeli benda penunjang lainya.

Pihaknya nenambahkan, pemberian beasiswa itu merupakan kali kedua. Pada tahun 2013 silam, siswa SMA sederajat juga mendapatkan beasiswa serupa.

“ini (peneriamaan beasiswa-red) kali kedua, yang dulu (tahun 2013-red)ada 99 siswa, kalau sekarang 100 siswa yang dapat beasiswa”, katanya.

Sementara itu, Plt Bupati Rembang Abdul Hafidz mengatakan, jika beasiswa itu

sudah mencukupi untuk keperluan sekolah, dan jika lebih, siswa diharapkan untuk menyimpanya.

Perwakilan Putra Sampoerna Foundation menjelaskan, penerima bantuan beasiswa, sebelumya telah diseleksi ketat. Mekanismenya, sekolah mengusulkan beberapa siswanya yang berprestasi, untuk diseleksi pihak Sampoerna. Selanjutknya, tinggal Sampurna Fondation yang menentukan berapa siswa yang berhak mendapatkan beasiswa.

 

Sumber :

http://student.blog.dinus.ac.id/handay/missile-escape/

Dewan Pendidikan Dilantik, Bupati Taruh Harapan Besar

Dewan Pendidikan Dilantik, Bupati Taruh Harapan Besar

Dewan Pendidikan Dilantik, Bupati Taruh Harapan Besar
Dewan Pendidikan Dilantik, Bupati Taruh Harapan Besar

Sebanyak 11 orang dilantik untuk menjadi pengurus Dewan Pendidikan periode 2017 – 2022

. Mereka dilantik secara langsung oleh Bupati Rembang H. Abdul Hafidz, di aula lantai IV kantor Bupati Rembang, Jum’at (20/10/17).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengaku menaruh harapan besar terhadap kepengurusan Dewan Pendidikan yang baru. Sebab, mereka yang terpilih dalam kepengurusan itu dinilai merupakan orang- orang yang berkompeten setelah melewati sejumlah tahapan seleksi.

Proses seleksi menurut Bupati sangat luar biasa. Mereka yang terpilih juga cukup mewakili beberapa elemen.

“Proses seleksi kita mengikuti dari awal sangat luar biasa. Melalui tim seleksi menghasilkan orang-orang

yang menurut saya luar biasa tingkat pendidikannya, moral dan rekam jejaknya di masyarakat. Keterwakilan dari NU, Muhammadiyah, profesi guru sudah terwakili semua, sehingga melihat hasilnya ini sangat kagum,” ujarnya.

Sebagai mitra Dinas Pendidikan, Dewan Pendidikan kali ini diharapkan bisa menghasilkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Ada empat fungsi Dewan Pendidikan yang sangat berpengaruh bagi dunia pendidikan di Kabupaten Rembang, fungsi rekomendasi kepada Bupati terutama untuk pertimbangan pengambilanl kebijakan-kebijakan, kontroling, supporting, dan fungsi evaluasi.

Sementara itu salah satu pengurus Dewan Pendidikan terpilih, Jumanto mengungkapkan mereka

dalam waktu dekat ini akan memilih siapa yang menjadi ketua dan mengisi posisi-posisi kepengurusan. Selanjutnya pengurus akan menindaklanjutinya dengan menyusun program kerja.

Ia yakin Dewan Pendidikan yang baru ini bisa mendukung pendidikan di Rembang ke arah yang lebih baik. Dewan pendidikan siap menjadi jembatan tentang isu-isu pendidikan antara masyarakat, Dinas Pendidikan dan Pemkab.

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/pocket-family-dreams/

V-Class Female Forum

V-Class Female Forum

V-Class Female Forum
V-Class Female Forum

Potensi kaum perempuan Indonesia yang berkarir dapat lebih tinggi dari pria, dimana wanita jaman sekarang dituntut mampu melaksanakan pekerjaan yang multi-tasking, lebih luwes dan kreatif, pun wanita memiliki kekuatan intuisi untuk mengambil suatu keputusan atau kesempatan demi keberlangsungan organisasi atau perusahaan”

Kali pertama pada 25 April seminar yang bertema Survival Guide for Working Woman di hotel Ritz Carlton, One Pacific Place, Jakarta, adalah Menteri Perdagangan Ibu Marie Elka Pangestu, Senior Deputy Gubernur Bank Indonesia Ibu Miranda Gultom dan Betti Alisjahbana CEO dan Pendiri QB Creative, 3 sosok wanita yang telah membuktikan dirinya pada dunia profesional baik sebagai pengusaha maupun profesional sukses membagikan kiat sukses membantu wanita dalam mengembangkan karirnya.

Pada putaran pertama dari rangkaian seminar V Class Female Forum yang dipandu host Andy F. Noya ini, akan hadir 6 kali di Jakarta dan 4 kali di Surabaya. Seminar ini merupakan wadah bagi para wanita karir untuk mendapatkan networking yang luas dan berinteraksi dengan sesama wanita karir yang lain serta memperoleh kesempatan untuk mengupas berbagai masalah aktual, menginspirasi, memperoleh gagasan hidup yang seimbang dan melakukan perubahan untuk kehidupan yang lebih baik.

Proses Learning & Sharing sebagai jembatan komunikasi”

Dalam proses pengembangan diri pada wanita yang berkarir, ada beberapa point penting yang disampaikan Miranda Gultom. “Agar tercipta sebuah keharmonisan dari berbagai pihak untuk mencapai tujuan organisasi dan perusahaan, masing-masing individu harus saling learning dan sharing. Saling take and give, salingtransfer knowledge”, tandas Miranda Gultom.

Lalu bagaimana bila nantinya akan timbul kekhawatiran bahwa ilmu yang kita berikan kepada orang lain dapat mengancam posisi kita?

Miranda mencontohkan bahwa dalam sebuah organisasi untuk mencapai kondisi yang solid, bermutu dan berbobot dibutuhkan proses take and give. “Apalah artinya sebuah pengetahuan atau ilmu, jika kita menjadi pribadi apatis, yang tidak ingin membagi ilmu, yang ingin memperkaya diri sendiri, yang mungkin suatu saat timbul rasa kekhawatiran akan terancam posisinya bila ia memberikan pengetahuan kepada orang lain. Pribadi yang ingin maju sendiri, tidak akan memberi kontribusi positif bagi lingkungan perusahaan, pun tidak akan menjadikan dirinya profesional”, ungkap Miranda.

Dalam proses learning dan sharing, ada jembatan untuk saling bertukar informasi baik tentang hal-hal pribadi maupun pekerjaan. Informasi personal penting untuk memahami karakter, pola pikir sampai dengan ketertarikan seseorang akan suatu habit atau hobi. Informasi tentang pekerjaan penting dimana masing-masing berusaha memahami pola pikir dan pola kerja yang notabenenya adalah berbeda tiap karakter, dengan tujuan akhir mencapai goal positif dan mendukung kegiatan perusahaan.

Tambahnya, di era keterbukaan saat ini di mana kesetaraan gender menjadi sangat penting, tak ada karakteristik pembeda antara potensi pria dan wanita untuk maju dan mencapai jenjang yang lebih tinggi. Semua sama, selama bertumpu pada jalur profesional dan sumber daya yang qualified ditinjau dari segiknowledge dan ability nya.

Saat disinggung mengenai kualitas pekerja Indonesia dengan pekerja asing, Miranda menekankan sekali lagi bahwa – sama halnya dengan kesetaraan gender – semua memiliki potensi dan kompetensi yang sama untuk maju, hanya saja kendala bahasa menjadi penghalang utama. Ambisi juga penting. Banyak orang mengkonotasikan ambisi sebagai sesuatu yang negatif, sebenarnya tidak. Ambisi adalah sumbu kita untuk maju dan mencapai impian dan cita-cita.

“Intuisi sebagai kekuatan wanita yang tidak dimiliki kaum pria”

Saat dituntut semua serba cepat, saat pekerjaan membutuhkan tingkat keakuratan dan keberhasilan tinggi, seringkali tantangan, penugasan dan pengembangan karir yang membutuhkan tanggung jawab tinggi lebih banyak diserahkan kepada kaum pria. Memang, manajemen bertujuan baik, sudah memikirkan berbagai keterbatasan antara pria dan wanita. Namun, patut disayangkan apabila dalam sebuah organisasi yang mana terdapat wanita-wanita tangguh dan memiliki kompetensi tinggi harus kehilangan kesempatan meraih sebuah pencapaian signifikan untuk mendongkrak karirnya.

Betti Alisjahbana, yang akrab dipanggil Betti, sebagai wanita yang mewakili kaum profesional mencurahkan sedikit banyak perjalanan dan pengalamannya untuk mencapai puncak karir menjadi CEO IBM Indonesia.

Betti menambahkan bahwa wanita jaman sekarang bisa lebih sukses dalam berkarir dikarenakan wanita lebih luwes dan lebih kreatif. Betti sangat bersyukur bahwa suami dan anak-anaknya sangat mendukung karirnya dan sangat pengertian. “Komunikasi yang baik, itu kuncinya!” , tukas Betti dengan semangat dan senyumnya yang hangat.

Satu hal yang cukup menyedot perhatian para peserta seminar, saat Betti menambahkan bahwa faktorintuisi sangat penting dalam mengambil sebuah keputusan. Saat data-data belum seluruhnya terkumpul tetapi harus memutuskan kemana arah dan tujuan yang hendak dicapai, saat kita dituntut dapat membaca situasi dan kecenderungan/trend, faktor intuisi menjadi sangat krusial.

Memang kompetensi, ability dan kecerdasan profesional penting, namun insting bisnis tidak dapat dilupakan. Lihat bagaimana gencarnya lembaga-lembaga researcher, forum-forum dialog, peer group, seminar-seminar mengangkat tema-tema intuisi seperti bagaiman membangun kecerdasan emosional, ESP, dan lainnya. Dan, wanita seharusnya berbangga hati, karena dikaruniai kelebihan mengorganisasikan intuisi.

Ketika disinggung atas motivasinya mendirikan QB Creative, Betti menambahkan keinginan mulianya menjadi angel investor dan industri kreatif merupakan bisnis yang cocok untuk lingkungan Indonesia. Selain modal yang dikeluarkan tidak terlalu besar, kegiatan bertumpu pada kecerdasan dan kreativitas, roda penggeraknya adalah kaum muda yang dinamis dan pro aktif terhadap perubahan.

Di akhir uraiannya, Betti menambahkan bahwa kecintaan pada pekerjaan akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Ide kreativitas akan keluar dan memperkaya khasanah mind set kita.

” Wanita Memiliki Tingkat Korupsi Lebih Rendah”

Menarik sekali highlight dari uraian Ibu Menteri Perdagangan Kita – Ibu Marie Elka Pangestu- bahwa wanita memiliki tingkat korupsi lebih rendah ketimbang kaum pria. Kemampuan multi tasking, peran ganda dan kemampuan me manage suatu kondisi membuat wanita kritis dan profesional terhadap hal-hal detail sebuah tujuan organisasi.

Selain itu, Ibu Marie menuturkan bahwa ada hal-hal penting agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.

Yang pertama, mengetahui kemampuan sendiri. Dari proses self-reflection, kita mengetahui apa-apa yang menjadi kekuatan dan sumber opportunity serta titik-titik dari diri kita yang menjadi hambatan dan tantangan.

Yang kedua, mengevaluasi ketidakmampuan bersaing. Kredibilitas tenaga kerja Indonesia di negara sendiri cukup memprihatinkan. Dimana, di negara sendiri pun banyak pengambil keputusan penting dalam perusahaan atau organisasi masih dipegang oleh kaum pria, atau untuk jenis perusahaan berskala besar dan global, orang – orang expatriat/asing. Marie Elka Pangestu memberikan salut kepada Betti Alisjahbana karena dia adalah sosok perempuan pertama di Indonesia yang menjabat sebagai CEO di perusahaan berskala asing sekaliber IBM.

Seperti ditandaskan Miranda Gultom, Marie Elka Pangestu sepakat bahwa faktor bahasa dan latar belakang pendidikan karyawan perlu mendapat sorotan untuk menciptakan sumber daya manusia yang kompeten.

Yang ketiga, identifikasikan dan justifikasi kemampuan sendiri. Setelah mengetahui sisi yang menjadi kelebihan dan kekurangan, maka lakukanlah justifikasi. Sikap yang terbuka atau openminded dan kekuatan jaringan/networking memegang peran penting didalamnya.

Marie menyimpulkan never felt guilty, tentukan prioritas hidup. Terkadang kita gagal. Kemampuan untuk bangkit dan terus maju akan menjadikan kita perempuan profesional yang lebih baik.

Sumber : https://balikpapanstore.id/

Promosi pada hakekatnya

Promosi pada hakekatnya

Promosi pada hakekatnya
Promosi pada hakekatnya

Promosi pada hakekatnya adalah suatu komunikasi pemasaran, artinya aktifitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan, Tjiptono (2001 : 219).
Sementara Sistaningrum (2002 : 98) mengungkapkan arti promosi adalah suatu upaya atau kegiatan perusahaan dalam mempengaruhi ”konsumen aktual” maupun ”konsumen potensial” agar mereka mau melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan, saat ini atau dimasa yang akan datang. Konsumen aktual adalah konsumen yang langsung membeli produk yang ditawarkan pada saat atau sesaat setelah promosi produk tersebut dilancarkan perusahaan. Dan konsumen potensial adalah konsumen yang berminat melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan perusahaan dimasa yang akan datang.

Adapun tujuan dari pada perusahaan melakukan promosi menurut Tjiptono (2001 : 221) adalah menginformasikan (informing), mempengaruhi dan membujuk (persuading) serta mengingatkan (reminding) pelangggan tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Sistaningrum (2002 : 98) menjelaskan tujuan promosi adalah empat hal, yaitu memperkenalkan diri, membujuk, modifikasi dan membentuk tingkah laku serta mengingatkan kembali tentang produk dan perusahaan yang bersangkutan.
Pada prinsipnya antara keduanya adalah sama, yaitu sama-sama menjelaskan bila produk masih baru maka perlu memperkenalkan atau menginformasikan kepada konsumen bahwa saat ini ada produk baru yang tidak kalah dengan produk yang lama. Setelah konsumen mengetahui produk yang baru, diharapkan konsumen akan terpengaruh dan terbujuk sehingga beralih ke produk tersebut. Dan pada akhirnya, perusahaan hanya sekedar mengingatkan bahwa produk tersebut tetap bagus untuk dikonsumsi. Hal ini dilakukan karena banyaknya serangan yang datang dari para pesaing.
Dalam melakukan promosi agar dapat efektif perlu adanya bauran promosi, yaitu kombinasi yang optimal bagi berbagai jenis kegiatan atau pemilihan jenis kegiatan promosi yang paling efektif dalam meningkatkan penjualan. Ada empat jenis kegiatan promosi, antara lain : (Kotler, 2001:98-100)
1. Periklanan (Advertising), yaitu bentuk promosi non personal dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
2. Penjualan Tatap Muka (Personal Selling), yaitu bentuk promosi secara personal dengan presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
3. Publisitas (Publisity), yaitu suatu bentuk promosi non personal mengenai, pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan mengulas informasi/berita tentangnya (pada umumnya bersifat ilmiah).
4. Promosi Penjualan (Sales promotion), yaitu suatu bentuk promosi diluar ketiga bentuk diatas yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
5. Pemasaran Langsung (Direct marketing), yaitu suatu bentuk penjualan perorangan secara langsung ditujukan untuk mempengaruhi pembelian konsumen.

Promosi penjualan yang dilakukan oleh penjual dapat dikelompokkan berdasar tujuan yang ingin dicapai. Pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Customer promotion, yaitu promosi yang bertujuan untuk mendorong atau merangsang pelanggan untuk membeli.
2. Trade promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk merangsang atau mendorong pedagang grosir, pengecer, eksportir dan importir untuk memperdagangkan barang / jasa dari sponsor.
3. Sales-force promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk memotivasi armada penjualan.
4. Business promotion, yaitu promosi penjualan yang bertujuan untuk memperoleh pelanggan baru, mempertahankan kontrak hubungan dengan pelanggan, memperkenalkan produk baru, menjual lebih banyak kepada pelanggan lama dan mendidik pelanggan.
Namun yang jelas apapun jenis kebutuhan yang akan diprogramkan untuk dipengaruhi, tetap pada perencanaan bagaimana agar perusahaan tetap eksis dan berkembang. Apalagi jika perusahaan tersebut mempunyai lini produk lebih dari satu macam.

Ada 3 gagasan utama dalam perencanaan bisnis yang dikemukakan oleh Kotler-AB. Susanto (2000 : 80) ;
1. Bahwa bisnis perusahaan seharusnya seperti ” Portofolio Investment ”, yaitu
perlu diputuskan bisnis mana yang dapat dikembangkan, dipertahankan, dikurangi atau bahkan mungkin dihentikan. Karena tiap bisnis memiliki keuntungan masing-masing dan sumber daya perusahaan harus dikelola sesuai dengan potensi yang menguntungkan.
2. Berorientasi pada potensi keuntungan di masa depan dengan mempertimbangkan tingkat pertumbuhan pasar dan posisi serta kesesuaian perusahaan. Tidak cukup dengan mengandalkan penjualan dan keuntungan yang telah dicapai pada tahun sebelumnya sebagai panduan.
3. Strategi. Perusahaan harus memiliki dan menetapkan rencana kerja untuk mencapai sasaran jangka panjang dengan melihat posisi industri (lihat Identifikasi Pesaing), sasaran, peluang keahlian serta sumber daya perusahaan.
Di samping tiga gagasan utama di atas, perlu pula dilakukan analisa atau pendekatan-pendekatan untuk menanggapi adanya perubahan-perubahan pada kondisi pasar yang bisa berdampak pada faktor biaya, Tjiptono (2000 : 7- 8).
Sehingga dengan melakukan analisa dapat dilakukan antisipasi agar tidak kel

Baca Juga :

dua cara memahami earning management

dua cara memahami earning management

dua cara memahami earning management
dua cara memahami earning management

Ada dua cara memahami earning management (Sari, 2005), yaitu sebagai berikut:
1. Memandang earning management sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, utang, dan kos politik.
2. Memandang earning management dari perspektif kontrak efisien, artinya earning management memberi fleksibilitas bagi manajer untuk melindungi diri dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer mungkin dapat mempengaruhi nilai pasar perusahaannya melalui earning management.
Menurut Watt dan Zimmerman (yang dikutip oleh Indarti et. al., 2004) tujuan yang akan dicapai oleh manajemen melalui earning management meliputi: mendapatkan bonus dan kompensasi lainnya, mempengaruhi keputusan pelaku pasar modal, menghindari biaya politik.
Berdasarkan pertimbangan biaya dan manfaat, manajemen diperbolehkan memilih dan menerapkan metode-metode akuntansi. Hal ini menjadi penyebab utama manajer melakukan earning management. Menurut Scott (2003:377) beberapa motivasi yang mendorong manajemen melakukan earning management, antara lain sebagai berikut:
1. Motivasi bonus, yaitu manajer akan berusaha mengatur laba bersih agar dapat memaksimalkan bonusnya.
2. Motivasi kontrak, berkaitan dengan utang jangka panjang, yaitu manajer menaikkan laba bersih untuk mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami technical default.
3. Motivasi politik, aspek politis ini tidak dapat dilepaskan dari perusahaan, khususnya perusahaan besar dan industri strategis karena aktivitasnya melibatkan hajat hidup orang banyak.
4. Motivasi pajak, pajak merupakan salah satu alasan utama perusahaan mengurangi laba bersih yang dilaporkan.
5. Pergantian CEO (Chief Executive Officer), banyak motivasi yang timbul berkaitan dengan CEO, seperti CEO yang mendekati masa pensiun akan meningkatkan bonusnya, CEO yang kurang berhasil memperbaiki kinerjanya untuk menghindari pemecatannya, CEO baru untuk menunjukkan kesalahan dari CEO sebelumnya.
6. Penawaran saham perdana (IPO), manajer perusahaan yang going public melakukan earning management untuk memperoleh harga yang lebih tinggi atas sahamnya dengan harapan mendapatkan respon pasar yang positif terhadap peramalan laba sebagai sinyal dari nilai perusahaan.
7. Motivasi pasar modal, misalnya untuk mengungkapkan informasi privat yang dimiliki perusahaan kepada investor dan kreditor.
Banyak cara yang dapat dilakukan oleh manajer untuk mempengaruhi waktu, jumlah, atau makna transaksi dalam pelaporan keuangan dengan melakukan pemilihan metode akuntansi dan accounting judgment (Merchant dan Rockness, 1994), yang dikutip oleh Sari (2005). Menurut Scott (2003:383) berbagai pola yang sering dilakukan manajer dalam earning management adalah:
1. Taking a bath
Terjadinya taking a bath pada periode stress atau reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru. Bila perusahaan harus melaporkan laba yang tinggi, manajer dipaksa untuk melaporkan laba yang tinggi, konsekuensinya manajer akan menghapus aktiva dengan harapan laba yang akan datang dapat meningkat. Bentuk ini mengakui adanya biaya pada periode yang akan datang sebagai kerugian pada periode berjalan, ketika kondisi buruk yang tidak menguntungkan tidak dapat dihindari pada periode tersebut. Untuk itu
manajemen harus menghapus beberapa aktiva dan membebankan perkiraan biaya yang akan datang pada saat ini serta melakukan clear the desk, sehingga laba yang dilaporkan di periode yang akan datang meningkat.
2. Income minimization
Bentuk ini mirip dengan ”taking a bath”, tetapi lebih sedikit ekstrim, yakni dilakukan sebagai alasan politis pada periode laba yang tinggi dengan mempercepat penghapusan aktiva tetap dan aktiva tak berwujud dan mengakui pengeluaran-pengeluaran sebagai biaya. Pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak mendapat perhatian secara politis, kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan atas barang modal dan aktiva tak berwujud, biaya iklan dan pengeluaran untuk penelitian dan
pengembangan, hasil akuntansi untuk biaya eksplorasi.
3. Income maximization
Tindakan ini bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Perencanaan bonus yang didasarkan pada data akuntansi mendorong manajer untuk memanipulasi data akuntansi tersebut guna menaikkan laba untuk meningkatkan pembayaran bonus tahunan. Jadi tindakan ini dilakukan pada saat laba menurun. Perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian hutang mungkin akan memaksimalkan pendapatan.
4. Income smoothing
Bentuk ini mungkin yang paling menarik. Hal ini dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan untuk tujuan pelaporan eksternal, terutama bagi investor karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil.
Teknik untuk merekayasa laba dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok (Setiawati dan Na’im, 2000). Pertama yaitu memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi, antara lain: estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi. Kedua yaitu mengubah metode akuntansi. Perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh: mengubah metode depresiasi aktiva tetap yaitu dari metode depresiasi angka tahun ke metode depresiasi garis lurus. Ketiga yaitu menggeser periode
biaya atau pendapatan, misalnya: mempercepat atau menunda pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai periode akuntansi berikutnya, mempercepat atau menunda pengiriman produk ke pelanggan, menjual investasi sekuritas untuk memanipulasi tingkat laba, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai.
Pendekatan lain yang digunakan dalam mengendalikan net income (Lontoh dan Lindrawati, 2004): Pertama, dengan mengendalikan transaksi-transaksi akrual, dimana transaksi akrual memiliki pengaruh terhadap pendapatan dan biaya namun tidak tampil pada arus kas. Contoh: amortisasi dan depresiasi adalah sepenuhnya dikuasai oleh perusahaan dalam hal menentukan masa manfaatnya sehingga perusahaan dapat mengatur besarnya pembebanan pada biaya sesuai keinginan manajemen dalam rangka mencapai hasil akhir pada net income yang diinginkan. Terdapat dua konsep akrual yaitu: discretionary accrual dan non discretionary accrual. Discretionary accrual adalah pengakuan akrual laba atau beban yang bebas tidak diatur dan merupakan pilihan kebijakan manajemen, sedangkan non discretionary accrual adalah pengakuan akrual laba yang wajar, yang tunduk pada suatu standar atau prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kedua, dengan mengubah kebijakan akuntansi, manajemen juga dapat menentukan net income yang diinginkan, namun hasrat manajemen untuk melaksanakan hal ini tidak sekuat accrual items. Alasannya adalah manajemen harus menjelaskannya dalam disclosure pada laporan keuangan tahunan. Dan alasan ini adalah bahwa standar akuntansi tentang konsistensi mencegah terjadinya perubahan kebijakan akuntansi sesering mungkin. Contohnya adalah merubah metode pencatatan dari LIFO menjadi FIFO.
Earning management merupakan fenomena yang sukar dihindari karena fenomena ini hanya dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan. Dasar akrual disepakati sebagai dasar penyusunan laporan keuangan karena dasar akrual memang lebih rasional dan adil dibandingkan dasar kas. Sebagai contoh, dengan dasar kas, pembelian aktiva tetap secara tunai senilai seratus juta rupiah mesti dibebankan sebagai biaya pada periode saat pembelian aktiva tersebut, meskipun aktiva tersebut akan bermanfaat bagi perusahaan selama 10 tahun. Jika laporan rugi laba disusun dengan dasar kas, maka besar kemungkinan dalam periode tersebut perusahaan dinyatakan mengalami rugi. Jadi pada dasarnya, basis akrual dipilih dengan tujuan untuk menjadikan laporan keuangan lebih informatif yaitu laporan keuangan yang benar-benar mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Sayangnya, akrual yang ditujukan untuk menjadikan laporan yang sesuai fakta ini sedikit dapat digerakkan (tuned)sehingga dapat mengubah angka laba yang dihasilkan.

Sumber :https://obatwasirambeien.id/

Mendorong Manajemen Melakukan Earning Management

Mendorong Manajemen Melakukan Earning Management

Mendorong Manajemen Melakukan Earning Management
Mendorong Manajemen Melakukan Earning Management

Scott (2003:369) mendefinisikan earning management sebagai ”the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific objective” yang kurang lebih meiliki arti : pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu.
Menurut Sugiri (1998) yang dikutip oleh Widyaningdyah (2001), definisi earning management dibagi dalam dua definisi, yaitu:
a. Definisi sempit
Earning management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning management dalam arti sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings.
b. Definisi luas
Earning management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut.
Jika Sugiri (1998) memberikan definisi earning management secara teknis, maka Surifah (1999) memberikan pendapatnya mengenai dampak earning management terhadap kredibilitas laporan keuangan. Menurut Surifah (1999) earning management dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan apabila digunakan untuk pengambilan keputusan, karena earning management merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan keuangan yang menjadi sasaran komunikasi antara manajer dan pihak eksternal perusahaan.
Konsep earning management menurut Salno dan Baridwan (2000:19):
menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory) yang menyatakan bahwa ”praktek earning management dipengaruhi oleh konflik antara kepentingan manajemen (agent) dan pemilik (principal) yang timbul karena setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertimbangkan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya”. Agency theory memiliki asumsi bahwa masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent. Pihak principal termotivasi mengadakan kontrak untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi. Konflik kepentingan semakin meningkat terutama karena principal tidak dapat memonitor aktivitas manajemen sehari-hari untuk memastikan bahwa manajemen bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham (pemilik).
Dalam hubungan keagenan, principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang kinerja agent. Agent mempunyai lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja, dan perusahaan secara keseluruhan. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh principal dan agent. Ketidakseimbangan informasi inilah yang disebut dengan asimetri informasi. Adanya asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan dirinya sendiri, mengakibatkan agent memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal. Asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara principal dan agent mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja agent. Salah satu bentuk tindakan agent tersebut adalah yang disebut sebagai earning management (Widyaningdyah, 2001).

Menurut Healy dan Wahlen yang dikutip oleh Riduwan (2001)menyatakan bahwa earning management terjadi ketika para manajer menggunakan keputusannya dalam pelaporan keuangan dan dalam melakukan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan baik untuk menimbulkan gambaran yang salah bagi stakeholder tentang kinerja ekonomis perusahaan, ataupun untuk mempengaruhi hasil kontraktual yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan.

Sumber : https://pesantrenkilat.id/

Bawa Misi ‘Dari Kampus Untuk Desa’, 85 Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Ikuti KKN

Bawa Misi ‘Dari Kampus Untuk Desa’, 85 Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Ikuti KKN

Bawa Misi ‘Dari Kampus Untuk Desa’, 85 Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Ikuti KKN
Bawa Misi ‘Dari Kampus Untuk Desa’, 85 Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Ikuti KKN

Sumenep – Sebanyak 85 mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

, Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP PGRI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2019.

Membawa misi Dari Kampus Untuk Desa, mereka dilepas langsung oleh Ketua STKIP PGRI Sumenep, Dr. Asmoni, M.Pd, Selasa (30/7/2019), di Pendopo Kecamatan Ganding, Sumenep. Para mahasiswa tersebut akan disebar di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Ganding.

Ketua STKIP PGRI Sumenep, Dr. Asmoni, M.Pd, mengaku sengaja mengambil tema KKN

Dari Kampus Untuk Desa yang dinilainya sejalan dengan program pemerintah daerah Nata Kota, Bangun Desa.

“Target kami, keberadaan mahasiswa STKIP di desa dapat bersinergi dengan semua pihak untuk percepatan pembangunan dan kemajuan masyarakat desa itu sendiri,” terangnya.

Keseriusan STKIP PGRI Sumenep untuk membangun masyarakat desa, pihaknya membuktikan dengan adanya peserta KKN yang mayoritas adalah mahasiswa berprestasi. Mereka didominasi oleh mahasiswa peraih beasiswa prestasi, salah satunya dari program Bidikmisi.

Menurutnya, raihan tersebut tidak lepas berkat dukungan semua pihak. STKIP PGRI

Sumenep mendapat kepercayaan dari pemerintah dengan alokasi beasiswa Bidikmisi terbanyak se-Madura.

“Tahun ini saja, STKIP dipercaya untuk mengelola beasiswa Bidikmisi lebih dari 400 mahasiswa,” sebutnya.

Di hadapan mahasiswa, ia berpesan agar menjaga nama baik almamater dalam etika pergaulan di tengah kehidupan masyarakat. Semua Mahasiswa KKN harus mampu menunjukkan diri sebagai kaum akademisi berkualitas.

 

Baca Juga :