Teknik gerakan pada olahraga lari jarak menengah

Teknik gerakan pada olahraga lari jarak menengah

Pada olahraga atletik nomor lari jarak menengah ada beberapa langkah yang kudu kami kuasai yaitu:

Posisi kepala dan badan tidak sangat condong, sikap badan layaknya sikap orang berlari
Sudut lengan antara 100 –110 derajat
Pendaratan pada tumit dan menampik bersama ujung kaki
Ayunkan ke dua lengan untuk mengimbangi gerak kaki
Mengayunkan lutut kedepan tidak setinggi pinggul
Pada pas menjalankan tungkai bawah dari belakang ke depan tidak sangat tinggi

Teknik Lari Jarak Menengah Saat Melewati Tikungan
Teknik lari jarak menengah pas melewati tikungan adalah :
.Usahakan berlari sedekat kemungkinan bersama garis lintasan sebelah kiri
Putarkan keduan bahu ke kiri, kepala termasuk miring ke kiri
Sudut lengan kanan usahakan lebih besar daripada lengan kiri

Teknik Gerakan Memasuki Garis Finish
Teknik gerakan memasuki garis finish didalam lari jarak menengah yaitu :

a. Cara memasuki garis finish yaitu:
Lari konsisten tanpa merubah sikap lari
Dada maju, ke dua tangan lurus ke belakang
Salah satu bahu maju ke depan ( dada diputar ke keliru satu segi )
Kepala ditundukkan, ke dua tangan di ayun ke belakang

b. Hal –hal yang kudu diperhatikan, yaitu:
Frekuensi kaki dipercepat, langkah diperlebar
Jangan melakukan gerakan melompat pada pas memasuki garis finish
Perhatian di pusatkan pada garis finish
Apabila ada pita jangan mengusahakan raih bersama tangan
Jangan berhenti mendadak setelah melewati garis finish

Muda-mudahan bermanfaat

Baca Juga :

Top 10 Smartphone Terlaris Dunia 2018

Top 10 Smartphone Terlaris Dunia 2018

Top 10 Smartphone Terlaris Dunia 2018
Top 10 Smartphone Terlaris Dunia 2018

Tahun 2017, Apple iPhone 7 dan iPhone 7 Plus menjadi jawaranya. Bagaimana dengan 2018?

Tidak jauh berbeda, tahun ini tempat pertama dan kedua tetap diisi Apple. Bahkan jawara tahun lalu masih hinggap di posisi keempat di daftar Top 10 tahun 2018.

Counterpoint Research baru-baru ini merilis analisanya tentang smartphone terlaris di dunia dan di Cina. Pemenang 2018 adalah iPhone X, diikuti oleh tiga smartphone Apple lainnya, dengan Xiaomi Redmi 5A yang masuk dalam 5 Besar.

Top 10 Smartphone Terlaris di Dunia 2018 menurut Counterpoint Research:

Apple iPhone X
Apple iPhone 8
Apple iPhone 8 Plus
Apple iPhone 7
Xiaomi Redmi 5A
Samsung Galaxy S9
Apple iPhone XS Max
Apple iPhone XS
Samsung Galaxy S9 Plus
Samsung Galaxy J6

Selain versi global, Counterpoint juga merilis Top 10 Smartphone khusus pasar Cina.

Hasilnya sangat berbeda, best seller adalah Oppo R15, dan iPhone X adalah yang kedua.

Baca juga: Dua Produk Oppo Masuk dalam Jajaran Smartphone Terlaris Dunia

Tetapi Oppo memiliki dua smartphone lagi di Top 4, yaitu model menengah Oppo A5 dan model yang sangat terjangkau Oppo A83.

Laporan Counterpoint muncul di akun Weibo perusahaan tanpa info rinci. Kita hanya tahu penjualan tiga iPhone teratas berjumlah hampir 100 juta, sedangkan iPhone XS Max dan iPhone XR masing-masing terjual lebih dari 16 juta.

Baca juga: Oppo, iPhone dan Vivo Jadi Smartphone Terlaris 2017 di China

 

Grafik smartphone terlaris global didominasi oleh Apple dengan enam produk dan Samsung dengan tiga. Pada grafik juga terlihat jelas kalau performa penjualan flagship 2017 lebih sukses daripada penerus mereka di tahun 2018.

Data di China mengungkapkan pasar yang lebih beragam. Tidak mengherankan, daftar ini didominasi oleh produsen dalam negeri, delapan dari sepuluh produk adalah smartphone vendor Cina, dengan dua pengecualian adalah iPhone X dan iPhone 8 Plus.

Hal yang menarik, tidak ada smartphone Huawei di salah satu grafik

, padahal produsen smartphone terbesar kedua itu membanjiri pasar dengan banyak pilihan.

Baca juga: Ini 6 Smartphone Terlaris Dunia Q1 2018

Counterpoint mengklarifikasi, bahwa smartphone terlaris Huawei adalah P20 Lite dengan penjualan lebih dari 13 juta unit, tetapi itu tidak cukup untuk masuk dalam daftar Top 10.

 

Baca Juga :

Dua Lensa Nikon Terbaru Maksimalkan Pengambilan Gambar Outdoor dan Indoor

Dua Lensa Nikon Terbaru Maksimalkan Pengambilan Gambar Outdoor dan Indoor

Dua Lensa Nikon Terbaru Maksimalkan Pengambilan Gambar Outdoor dan Indoor
Dua Lensa Nikon Terbaru Maksimalkan Pengambilan Gambar Outdoor dan Indoor

Nikon kembali menghadirkan jajaran lensa Nikon Z, yakni Lensa Nikkor Z24-70mm f/2.8 S dan Nikkor Z 14-30mm f/4 S.

Dikatakan Sukimin Thio, General Manager of Imaging Division, Nikon Indonesia

menjelaskan, kedua lensa yang diluncurkan Nikon, menjawab kebutuhan fotografer yang membutuhkan lensa yang mampu menghasilkan hasil gambar berkualitas tinggi di outdoor maupun indoor, namun tampil dengan bentuk yang ringkes.

“Keduanya didukung dengan teknologi yang dibutuhkan untuk kebutuhan foto dan video, namun tetap ringkes dibawa kemana-mana, kapan pun dan dimana pun,”ujar Sukimin, di Jakarta (30/04/19).

Sukimin mengatakan jika kedua lensa yang dihadirkan Nikon mampu menjawab kebutuhan fotografi penggunanya, baik pengambilan gambar outdoor maupun indoor.

Dano Sagoro, Product Marketing Nikon Indonesia, mengatakan lensa 24-70mm, merupakan jajaran lensa S-Line, lensa ini didukung dengan apreture maksimum yang konstan pada bukaan f/2.8 mampu menghasilkan performa optik.

Selain itu, berkat teknologi multi focusing membuat fokus bidikan tetap tajam

untuk segala jenis objek yang jauh maupun dekat, dengan abberations minimal.

Lensa ini, menurut Dano dilapisi pula dengan Arneo Coat, yakni teknologi lapisan anti refleksi yang dapat menekan timbulnya reflektan seminimal mungkin, pada saat terkena terpaan cahaya secara tiba-tiba.

“Kedua lensa terbaru ini dilengkapi dengan teknologi tahan debu dan tetesan. Serta bagian-bagian lensa selalu terlindungi, sehingga dapat digunakan disegala kondisi,” kata Dano lagi.

Sementara untuk pengambilan gambar ultra lebar, lensa Nikkor Z14-39mm

f/4 S dapat diandalkan. Lensa ini didukung teknologi Z-mount yang dapat mengoptimalkan lebar fokus saat flens pendek.

Lensa ini menurut Dano mampu menjangkau ultra wide angle dari 14mm hingga 30mm, dengan aperture maksimum yang konstan di bukaan f/4 untuk setiap tingkatan.

“Lensa ini sangat multi guna mendukung pengambilan berbagai macam foto pemandangam sehingga membuat pengguna tak perlu mengganti lensa terlebih dulu,”kata Dano.

 

Sumber :

https://poekickstarter.com/

Google Maps Tidak Dapat Berfungsi di Sejumlah Perangkat Wear OS

Google Maps Tidak Dapat Berfungsi di Sejumlah Perangkat Wear OS

Google Maps Tidak Dapat Berfungsi di Sejumlah Perangkat Wear OS
Google Maps Tidak Dapat Berfungsi di Sejumlah Perangkat Wear OS

Sejumlah pengguna perangkat Wear OS selama beberapa minggu terakhir

mengalami masalah, sejumlah pengguna mengeluhkan tidak dapat memanfaatkan Google Maps pada smartwatch Wear OS.

Mengalami hal itu, seperti dilaporkan GSM Arena, Google secara perlahan memperbaiki platform Wear OS dalam beberapa bulan terakhir.

A Mobovi Forums Admin menyebut bahwa permasalahan ini didapati pada versi terbaru Google Maps.

Faktor yang bermasalah diperkirakan terdapat pada Google Maps v10.13.3, dan sejumlah pengguna mengaku berhasil memanfaatkan aplikasi ini setelah kembali ke versi sebelumnya.

Untuk melakukan hal tersebut, pengguna perlu mencopot update aplikasi Google Maps

dan versi tambahan dari 10.12.1 dari APK Mirror.

Sebelumnya, Google Maps telah menawarkan fitur berupa laporan lalu lintas pada aplikasinya, untuk membantu pengguna menghindari kemacetan saat dalam perjalanan. Kemudian, Google menghadirkan fitur baru untuk kenyamanan pengguna transportasi umum kereta.

Fitur yang digulirkan Google ini memungkinkan Maps menanyakan kepadatan bagian dalam kereta yang ditumpangi pengguna melalui sistem notifikasi pop-up.

Fitur ini baru ditemukan pada aplikasi versi platform Android

, sedangkan pengguna aplikasi versi iOS telah mendapati pemberitahuan ini selama beberapa bulan terakhir.

Diketahui Google Maps dilaporkan tidak mengalami permasalahan pada Huawei Watch 2. Namun menurut laporan, smartwatch seperti TicWatch Pro, TicWatch S2, Fossil Q Explorist HR, Skagen Falster 2, Tag Heuer serta Misfit memiliki permasalahan ini.’

 

 

Sumber :

https://mlwcards.com/

Harga Lebih Murah Layanan Streaming Disney Plus Akan Saingi Netflix

Harga Lebih Murah Layanan Streaming Disney Plus Akan Saingi Netflix

Harga Lebih Murah Layanan Streaming Disney Plus Akan Saingi Netflix
Harga Lebih Murah Layanan Streaming Disney Plus Akan Saingi Netflix

layanan Video on demand diramaikan dengan pendatang baru yakni Disney, dan disebut-sebut akan menjadi pesaing Netflix tahun ini.

 

Dilaporkan Guardian, The Walt Disney Company, menghadirkan Disney Plus.

Disney Plus akan diluncurkan pada 12 November 2019.Pada tahun pertamanya, Disney Plus akan memasukkan 25 seri asli dan 10 film spesial bersamaan dengan 400 lebih judul film dalan perpustakaan Disney.

Pada tahun kelima, Disney Plus diperkirakan akan menambah lebih dari 50 seri asli baru setiap tahun.

Disney mengharapkan 60 juta hingga 90 juta pelanggan Disney Plus pada tahun 2024,

dan berencana untuk menghabiskan US$ 1 miliar (Rp 14 triliun) pada tahun pertama dan US$2 miliar setiap tahun hingga tahun 2024 untuk konten asli. Disney mengharapkan Disney Plus cetak keuangan pada tahun 2024.

Kevin Mayer, direktur langsung ke konsumen dan internasional Disney, mengatakan bahwa perusahaan kemungkinan akan bundel Disney Plus, Hulu, dan ESPN Plus dengan harga diskon.

Disney Plus tidak akan menayangkan Film dan acara TV aslinya mencakup Marvel, “Star Wars,” Pixar, dan konten National Geographic. Semua konten akan tersedia untuk diunduh secara offline.

Meski belum mengungkap berapa harga langganan Disney+, para analis memperkirakan layanan streaming

ini akan dibanderol lebih murah ketimbang Netflix.

Analis menyebut harga langganan Disney+ kemungkinan akan berkisar antara 5 dollar AS hingga 7 dollar AS atau sekitar Rp 100.000 per bulan.

Harga ini tentu lebih murah ketimbang biaya langganan Netflix kualitas HD yang dibanderol sekitar Rp 140.000 perbulan. Disney sendiri memang telah mengisyaratkan bahwa harga yang dibebankan untuk layanan ini akan lebih murah daripada biaya langganan Netflix.

 

Baca Juga :

Telkomsel Hadirkan Solusi Manajemen Bahan Bakar

Telkomsel Hadirkan Solusi Manajemen Bahan Bakar

Telkomsel Hadirkan Solusi Manajemen Bahan Bakar
Telkomsel Hadirkan Solusi Manajemen Bahan Bakar

Telkomsel bekerjasama dengan Pertamina Patra Niaga dan Mitratel

mengimplementasikan layanan inovatif untuk fuel management, yaitu IoT Intelligent Tank Monitoring System (INTANK) yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada tanggal 22 Maret 2019 yang lalu.

INTANK dihadirkan untuk mengatasi berbagai permasalahan fuel management tersebut. Solusi IoT industri end-to-end  ini berfungsi untuk memonitor tangki dari jarak jauh (remote tank monitoring) yang memungkinkan pemantauan inventaris dan konsumsi bahan bakar secara intensif kapanpun, dari manapun.

Dharma Simorangkir, SVP Enterprise Account Management Telkomsel

mengatakan, tren IoT sekarang ini tengah berkembang secara global. Oleh karenanya,Telkomsel secara konsisten meningkatkan kesiapan teknologi dan jaringan sebagai bagian dari upaya mengakselerasi terbentuknya ekosistem IoT di Indonesia.

“Upaya ini merupakan salah satu bentuk dukungan Telkomsel bagi roadmap pemerintah Indonesia yaitu

‘Making Indonesia 4.0’ dalam rangka memasuki era ‘Industry 4.0’, dimana aspek penguasaan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi menjadi kunci penentu daya saing Indonesia,” terangnya.

 

Sumber :

Falcon Squad – Classic Shoot ’em up 50.2 Apk + Mod (Unlimited Money) for android

Berubah Nama, Eks Google+, Kini Jadi Berbayar?

Berubah Nama, Eks Google+, Kini Jadi Berbayar?

Berubah Nama, Eks Google+, Kini Jadi Berbayar
Berubah Nama, Eks Google+, Kini Jadi Berbayar

Google telah menutup layanan jejaring sosial Google+,

tepatnya pada 2 April 2019, Google memutuskan untuk menghentikan layanan Google+.

Sebagai penggantinya, kini, Google memperkenalkan sebuah aplikasi baru yang merupakan hasil rebranding dari Google+ yakni Google Currents.

Selayaknya sebuah media sosial, Google Currents memungkinkan pengguna untuk saling berdiskusi dan berinteraksi. Namun kabarnya Currents, diperuntukkan bagi para pengguna korporasi.

Dilaporkan Android Authority, alasan hadirnya aplikasi ini adalah karena Google melihat bahwa sebuah perusahaan membutuhkan cara berkomunikasi baru yang lebih informal ketimbang e-mail.

Dengan begitu, para karyawan dapat menggunakan Google Currents

sebagai sarana komunikasi informal di dalam perusahaan.

Karena diperuntukan untuk perusahaan, ruang lingkup yang tersedia pada Google Currents pun terbatas hanya di dalam perusahaan yang menjadi tempat aplikasi ini digunakan.

Selain itu, Google Currents menjadi bagian dalam aplikasi G Suite dan menjadi salah satu dari rangkaian aplikasi berbasis web versi berbayar milik Google. Artinya, akan ada biaya yang dibebankan pada pengguna untuk menikmati layanan ini.

Seperti media sosial pada umumnya, pengguna Currents juga bisa melakukan update status

yang berisi ide-ide mereka untuk perusahaan. Nantinya, pengguna lain yang juga merupakan anggota atau karyawan perusahaan tersebut, bisa menuliskan komentar pada status tersebut.

Seperti diketahui tepatnya 2 April 2019, Google memutuskan untuk menghentikan layanan Google+.

Dirilis 2011 lalu, awalnya media sosial ini cukup laris dengan adanya miliaran orang yang mendaftar.

 

Sumber :

https://mvagusta.co.id/cool-goal-apk/

Raid terdiri dapat dibagi menjadi enam level yang berbeda

Raid terdiri dapat dibagi menjadi enam level yang berbeda

Raid terdiri dapat dibagi menjadi enam level yang berbeda
Raid terdiri dapat dibagi menjadi enam level yang berbeda

1.Raid level 0.
Menggunakan kumpulan disk dengan striping pada level blok, tanpa redundansi. jadi hanya melakukan striping blok data kedalam beberapadisk. kelebihan level ini antara lain akses beberapa blok bisa dilakukan secara paralel sehingga bis lebih cepat. kekurangan antara lain akses perblok sama saja seperti tidak ada peningkatan, kehandalan kurang karena tidak adanya pembekc-upan data dengan redundancy. Berdasarkan definisi RAID sebagai redudancy array maka level ini sebenarnya tidak termasuk kedalam kelompok RAID karena tidak menggunakan redundansy untuk peningkatan kinerjanya.

2.RAID level 1.
Merupakan disk mirroring, menduplikat data tanpa striping. Cara ini dapat meningkatkan kinerja disk, tapi jumlah disk yang dibutuhkan menjadi dua kali lipat kelebihannya antara lain memiliki kehandalan (reliabilitas) yang baik karena memiliki back up untuk tiap disk dan perbaikan disk yang rusak dapat dengan cepat dilakukan karena ada mirrornya. Kekurangannya antara lain biaya yang menjadi sangat mahal karena membutuhkan disk 2 kali lipat dari yang biasanya.

3.RAID level 2.
Merupakan pengorganisasian dengan error correction code (ECC). Seperti pada memory dimana pendeteksian mengalami error mengunakan paritas bit. Sebagai contoh, misalnya misalnya setiap byte data, memiliki paritas bit yang bersesuaian yang mempresentasikan jumlah bit “1” didalm byte data tersebut dimana paritas bit = 0 jika bit genap atau paritas bit = 1 jika bit ganjil. Jadi, jika salah satu bit pada salah satu data berubah dan tidak sesuai dengan paritas bit yang tersimpan. Dengan demikian, apabila terjadi kegagalan pada salah satu disk, data dapat dibentuk kembali dengan membaca error correction bit pada disk lain. Kelebihannya antara lain kehandalan yang bagus karena dapat membentuk kembali data yang rusak dengan ECC tadi, dan jumlah bit redundancy yang diperlukan lebih sedikit jika dibandingkan dengan level 1 (mirroring). Kelemahannya antara lain prlu adanya perhitungan paritas bit, sehingga menulis atau perubahan data memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan yang tanpa menggunakan paritas bit, level ini memerlukan disk khusus untuk penerapannya yang harganya cukup mahal.

4.RAID level 3.
Merupakan pengorganisasian dengan paritas bit yang interleaved. Pengorganisasian ini hamper sama dengan RAID level 2, perbedaanya adalah pada level 3 ini hanya memerlukan sebuah disk redudan, berapapun kumpulan disknya, hal ini dapt dilakukan karena disk controller dapat memeriksa apakah sebuah sector itu dibaca dengan benar atau tidak (mengalami kerusakan atau tidak). Jadi tidak menggunakan ECC, melainkan hanya membutuhakan sebuah bit paritas untuk sekumpulan bit yang mempuntai sekumpulan bit yang mempunyai posisi yang sama pada setiap dis yang berisi data. Selain itu juga menggunakan data striping dan mengakses disk-disk secara parallel. Kelebihannya antara lain kehandalan (rehabilitas) bagus, akses data lebih cepat karena pembacaan tiap bit dilakukan pada beberapa disk (parlel), hanya butuh 1 disk redudan yang tentunya lebih menguntungkan dengan level 1 dan 2. kelemahannya antara lain perlu adanya perhitungan dan penulisan parity bit akibatnya performannya lebih rendah dibandingkan yang menggunakan paritas.

5.RAID level 4.
Merupakan pengorganisasian dengan paritas blok interleaved, yaitu mengunakan striping data pada level blok, menyimpan sebuah parits blok pada sebuah disk yang terpisah untuk setiap blok data pada disk-disk lain yang bersesuaian. Jka sebuah disk gagal. Blok paritas tersebut dapat digunakan untuk membentuk kembali blok-blok data pada disk yang bisa lebih cepat karena bisa parlel dan kehandalannya juga bagus karena adanya paritas blok. Kelemahannya antara lain akses perblok seperti biasa penggunaan 1 disk., bahkan untuk penulisan ke 1 blok memerlukan 4 pengaksesan untuk membaca ke disk data yag bersangkutan dan paritas disk, dan 2 lagi untuk penulisan ke 2 disk itu pula (read-modify-read)

6.RAID level 5.
Merupakan pengorganisasian dengan paritas blok interleaved terbesar. Data dan paritas disebr pada semua disk termasuk sebuah disk tambahan. Pada setiap blok, salah satu dari disk menyimpan paritas dan disk yang lainnya menyimpan data. Sebagai contoh, jika terdapt kumpulan dari 5 disk, paritas paritas blok ke n akan disimpan pada disk (n mod 5) +1, blok ke n dari 4 disk yang lain menyimpan data yang sebenarnya dari blok tersebut. Sebuah paritas blok tidak disimpan pada disk yang sama dengan lok-blok data yang bersangkutan, karena kegagalan disk tersebut akan menyebabkan data hilang bersama dengan paritasnya dan data tersebut tidak dapat diperbaiki. Kelebihannya antara lain seperti pada level 4 ditambah lagi dengan pentebaran paritas seoerti ini dapat menghindari penggunaan berlebihan dari sebuah paritas bit seperti pada RAID level 4. kelemahannya antara lain perlunya mekanisme tambahan untuk penghitungan lokasi dari paritas sehingga akan mempengaruhi kecepatan dalam pembacaan blok maupun penulisannya.

7.RAID level 6.
Disebut juga redudansi P+Q, seperti RAID level 5, tetapi menyimpan informasi redudan tambahan untuk mengantisipasi kegagalan dari beberapa disk sekaligus. RAID level 6 melakukan dua perhitungan paritas yang berbeda, kemudian disimpan di dalam blok-blok yang terpisah pada disk-disk yang berbeda. Jadi. Jika disk data yang digunakan sebanyak n buah disk, maka jumlah disk yang dibutuhkan pada RAID level 6 ini adalah n+2 disk. Keuntungan dari RAID level 6 ini adalah kehandalan data yang sangat tinggi, karena untuk menyebabkan data hilang, kegagalan harus terjadi pada tiga buah disk dalam interval rata-rata data mean time to repair (MTTR). Kerugiannya yaitu penalty waktu pada saat penulisan data, karena setiap penulisan yang dilakukan akan mempengaruhi dua buah paritas blok.

8.Raid level 0+1 dan 1+0.
Ini merupakan kombinasi dari RAID level 0 dan RAID level 1. RAID level 0 memiliki kinerja yang baik., sedangkan RAID level 1 memiliki kehandalan. Namun, dalam kenyataannya kedua hal ini sama pentingnya. Dalam RAID 0+1, sekumpulan disk di strip, kemudian strip tersebut di-mirror ke disk-disk yang lain, menghasilkan strip-strip data yang sama. Kombinasi lainnya adalah RAID 1+0, dimana disk-disk mirror secara berpasangan, dan kemudian hasil pasangan mirror-nya di-stri. RAID 1+0 ini mempunyai keuntungan lebih dibandingkan dengan RAID 0+1. sebagai contoh, jika sebuah disk gagal pada RAID 0+1, seluruh disknya tidak dapat di akses, sedangkan pada RAID 1+0, disk yang gagal tersebut tidak dapat diakses tetapi pasangan stripnya yang lain masih bisa, dan pasangan mirror-nya masih dapat diakses untuk menggantikannya sehingga disk-disk lain selain yang rusak masih bisa digunakan.

Baca Juga :

Struktur RAID

Struktur RAID

Struktur RAID
Struktur RAID

Disk memiliki resiko untuk mengalami kerusakan. Kerusakan ini dapat berakibat turunnya kinerja atau pun hilangnya data. Meski pun terdapat backup data, tetap saja ada kemungkinan data yang hilang karena adanya perubahan setelah terakhir kali data di-backup. Karenanya reliabilitas dari suatu disk harus dapat terus ditingkatkan.
Berbagai macam cara dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan juga reliabilitas dari disk. Biasanya untuk meningkatkan kinerja, dilibatkan banyak disk sebagai satu unit penyimpanan. Tiap-tiap blok data dipecah ke dalam beberapa subblok, dan dibagi-bagi ke dalam disk-disk tersebut. Ketika mengirim data disk-disk tersebut bekerja secara paralel, sehingga dapat meningkatkan kecepatan transfer dalam membaca atau menulis data. Ditambah dengan sinkronisasi pada rotasi masing-masing disk, maka kinerja dari disk dapat ditingkatkan. Cara ini dikenal sebagai RAID. Selain masalah kinerja RAID juga dapat meningkatkan realibilitas dari disk dengan jalan melakukan redundansi data.
Tiga karakteristik umum dari RAID ini, yaitu :
1. RAID adalah sekumpulan disk drive yang dianggap sebagai sistem tunggal disk.
2. Data didistribusikan ke drive fisik array.
3. Kapasitas redunant disk digunakan untuk menyimpan informasi paritas, yang menjamin recoveribility data ketika terjadi masalah atau kegagalan disk.
Jadi, RAID merupakan salah satu jawaban masalah kesenjangan kecepatan disk memori dengan CPU dengan cara menggantikan disk berkapasitas besar dengan sejumlah disk-disk berkapasitas kecil dan mendistribusikan data pada disk-disk tersebut sedemikian rupa sehingga nantinya dapat dibaca kembali.

Sumber : https://synthesisters.com/

 

Sejarah RAID

Sejarah RAID

Sejarah RAID
Sejarah RAID

Pada tahun 1978, Norman Ken Ouchi dari International Business Machines (IBM) dianugerahi paten Amerika Serikat, dengan nomor 4092732 dengan judul “System for recovering data stored in failed memory unit.” Klaim untuk paten ini menjelaskan mengenai apa yang kemudian dikenal sebagai RAID 5 dengan penulisan stripe secara penuh. Patennya pada tahun 1978 tersebut juga menyebutkan bahwa disk mirroring atau duplexing (yang kini dikenal sebagai RAID 1) dan juga perlindungan dengan paritas khusus yang didedikasikan (yang kini dikenal dengan RAID 4) bisa digunakan, meskipun saat itu belum ada implementasinya.
Istilah “RAID” pertama kali didefinisikan oleh David A. Patterson, Garth A. Gibson dan Randy Katz dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat pada tahun 1987, 9 tahun berselang setelah paten yang dimiliki oleh Norman Ken Ouchi. Mereka bertiga mempelajari tentang kemungkinan penggunaan dua hard disk atau lebih agar terlihat sebagai sebuah perangat tunggal oleh sistem yang menggunakannya, dan kemudian mereka mempublikasikannya ke dalam bentuk sebuah paper berjudul “A Case for Redundant Arrays of Inexpensive Disks (RAID)” pada bulan Juni 1988 pada saat konferensi SIGMOD. Spesifikasi tersebut menyodorkan beberapa purwarupa RAID level, atau kombinasi dari drive-drive tersebut. Setiap RAID level tersebut secara teoritis memiliki kelebihan dan juga kekurangannya masing-masing. Satu tahun berselang, implementasi RAID pun mulai banyak muncul ke permukaan. Sebagian besar implementasi tersebut memang secara substansial berbeda dengan RAID level yang asli yang dibuat oleh Patterson dan kawan-kawan, tapi implementasi tersebut menggunakan nomor yang sama dengan apa yang ditulis oleh Patterson. Hal ini bisa jadi membingungkan, sebagai contoh salah satu implementasi RAID 5 dapat berbeda dari implementasi RAID 5 yang lainnya. RAID 3 dan RAID 4 juga bisa membingungkan dan sering dipertukarkan, meski pada dasarnya kedua jenis RAID tersebut berbeda.
Patterson menulis lima buah RAID level di dalam papernya, pada bagian 7 hingga 11, dengan membagi ke dalam beberapa level, sebagai berikut:
• RAID level pertama: mirroring
• RAID level kedua : Koreksi kesalahan dengan menggunakan kode Humming
• RAID level ketiga : Pengecekan terhadap disk tunggal di dalam sebuah kelompok disk.
• RAID level keempat: Pembacaan dan penulisan secara independen
• RAID level kelima : Menyebarkan data dan paritas ke semua drive (tidak ada pengecekan terhadap disk tunggal).
A. Pengertian RAID
RAID, singkatan dari Redundant Array of Independent Disks merujuk kepada sebuah teknologi di dalam penyimpanan data komputer yang digunakan untuk mengimplementasikan fitur toleransi kesalahan pada media penyimpanan komputer (terutama hard disk) dengan menggunakan cara redundansi (penumpukan) data, baik itu dengan menggunakan perangkat lunak, maupun unit perangkat keras RAID terpisah. Kata “RAID” juga memiliki beberapa singkatan Redundant Array of Inexpensive Disks, Redundant Array of Independent Drives, dan juga Redundant Array of Inexpensive Drives. Teknologi ini membagi atau mereplikasi data ke dalam beberapa hard disk terpisah. RAID didesain untuk meningkatkan keandalan data dan meningkatkan kinerja I/O dari hard disk.
RAID juga merupakan organisasi disk memori yang mampu menangani beberapa disk dengan sistem akses paralel dan redudansi ditambahkan untuk meningkatkan reliabilitas. Kerja paralel ini menghasilkan resultan kecepatan disk yang lebih cepat.
Konsep RAID
Ada beberapa konsep kunci di dalam RAID: mirroring (penyalinan data ke lebih dari satu buah hard disk), striping (pemecahan data ke beberapa hard disk) dan juga koreksi kesalahan, di mana redundansi data disimpan untuk mengizinkan kesalahan dan masalah untuk dapat dideteksi dan mungkin dikoreksi (lebih umum disebut sebagai teknik fault tolerance/toleransi kesalahan).
Level-level RAID yang berbeda tersebut menggunakan salah satu atau beberapa teknik yang disebutkan di atas, tergantung dari kebutuhan sistem. Tujuan utama penggunaan RAID adalah untuk meningkatkan keandalan/reliabilitas yang sangat penting untuk melindungi informasi yang sangat kritis untuk beberapa lahan bisnis, seperti halnya basis data, atau bahkan meningkatkan kinerja, yang sangat penting untuk beberapa pekerjaan, seperti halnya untuk menyajikan video on demand ke banyak penonton secara sekaligus.
Konfigurasi RAID yang berbeda-beda akan memiliki pengaruh yang berbeda pula pada keandalan dan juga kinerja. Masalah yang mungkin terjadi saat menggunakan banyak disk adalah salah satunya akan mengalami kesalahan, tapi dengan menggunakan teknik pengecekan kesalahan, sistem komputer secara keseluruhan dibuat lebih andal dengan melakukan reparasi terhadap kesalahan tersebut dan akhirnya “selamat” dari kerusakan yang fatal.
Teknik mirroring dapat meningkatkan proses pembacaan data mengingat sebuah sistem yang menggunakannya mampu membaca data dari dua disk atau lebih, tapi saat untuk menulis kinerjanya akan lebih buruk, karena memang data yang sama akan dituliskan pada beberapa hard disk yang tergabung ke dalam larik tersebut. Teknik striping, bisa meningkatkan performa, yang mengizinkan sekumpulan data dibaca dari beberapa hard disk secara sekaligus pada satu waktu, akan tetapi bila satu hard disk mengalami kegagalan, maka keseluruhan hard disk akan mengalami inkonsistensi. Teknik pengecekan kesalahan juga pada umumnya akan menurunkan kinerja sistem, karena data harus dibaca dari beberapa tempat dan juga harus dibandingkan dengan checksum yang ada. Maka, desain sistem RAID harus mempertimbangkan kebutuhan sistem secara keseluruhan, sehingga perencanaan dan pengetahuan yang baik dari seorang administrator jaringan sangatlah dibutuhkan. Larik-larik RAID modern umumnya menyediakan fasilitas bagi para penggunanya untuk memilih konfigurasi yang diinginkan dan tentunya sesuai dengan kebutuhan.
Beberapa sistem RAID dapat didesain untuk terus berjalan, meskipun terjadi kegagalan. Beberapa hard disk yang mengalami kegagalan tersebut dapat diganti saat sistem menyala (hot-swap) dan data dapat diperbaiki secara otomatis. Sistem lainnya mungkin mengharuskan shutdown ketika data sedang diperbaiki. Karenanya, RAID sering digunakan dalam sistem-sistem yang harus selalu on-line, yang selalu tersedia (highly available), dengan waktu down-time yang, sebisa mungkin, hanya beberapa saat saja.
Pada umumnya, RAID diimplementasikan di dalam komputer server, tapi bisa juga digunakan di dalam workstation. Penggunaan di dalam workstation umumnya digunakan dalam komputer yang digunakan untuk melakukan beberapa pekerjaan seperti melakukan penyuntingan video/audio.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/